Sebilah Kujang, Jati Diri "Pangeran Biru"



KOSTUM Persib yang diproduksi Joma kini bukan sekadar menjadi turun-temurun kostum yang monoton dari setiap musimnya. Kini sebilah kujang, senjata pusaka tradisi tatar Sunda menghiasi seragam kebanggaan tim asal Jawa Barat itu untuk musim kompetisi 2010-2011. Atas dasar apakah sang perancang melibatkan senjata warisan nenek moyang itu ke dalam dunia si kulit bundar?

Achmad Gunawan Anwar, sang desainer menjelaskan secara sederhana arti filosofi kujang yang melekat tajam pada kostum Eka Ramdani dkk. yang telah diperkenalkan kepada publik pada peluncuran tim, Rabu (22/9) lalu. Menurut lelaki yang akrab disapa Iwan itu, kujang sebagai representatif Persib zaman sekarang.

"Jadi Persib bukan sekadar tim sepak bola. Persib kini menjadi budaya. Ibu-ibu, bapak-bapak hingga semua kalangan di Jabar telah mengenal Persib. Dengan demikian, saya wakilkan dengan senjata kujang," ujar lelaki 30 tahun itu.

Iwan menuturkan, senjata kujang tersebut melekat di bagian depan dan belakang seragam Persib meski pada dasarnya orang Sunda yang seperti dilihat pada acara pernikahan, sang mempelai laki-laki menyimpan kujang di belakang. Hal itu menandakan bahwa orang tersebut merupakan sosok yang rendah hati dan berani. Sementara itu kujang yang terpampang di depan seragam merupakan sebuah bayangan.

"Pada sebilah kujang tersebut terdapat lima lubang, hal itu menyimbolkan kesatria atau pertahanan. Kalau saya artikan, Persib adalah pertahanan atau ksatria Jabar. Selain itu, di depan seragam saya tambahkan garis-garis halus di depan seperti pagar. Pagar yang kami maksud adalah pagar bambu bukan pagar besi karena besi susah didapat, sedangkan bambu ada di mana saja. Arti bambu tersebut pun menyimbolkan sebuah pertahanan juga," kata lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia (STISI) Bandung ini.

Selain itu, lelaki berkaca mata itu menerapkan konsep desain busana kerajaan Sunda pada kerah kostum Persib tersebut. Pada kerah kostum tersebut lancip mengarah ke bawah. "Pada kerah bagian belakang, saya menuliskan `Pangeran Biru` bukan Maung. Dulu si bulao (biru), saya harapkan bahwa pemain Persib ini pangeran untuk Jabar. Jadi pola pikir bobotoh itu terhadap Persib jadinya `Pangeran Bulao`," tutur karyawan PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) itu.

Ia menambahkan, sejarah polet putih pada garis lengan yang melengkung ke bawah, merupakan elemen sporty dari tahun ke tahun.

Iwan tidak hanya menekankan pada arti folisofi dan seni pada kostum tersebut. Iwan tetap mengedepankan kenyamanan kostum apabila dikenakan pemain. Ia menggunakan dua bahan yang berbeda yaitu polyester dan dry max. Fokusnya, dia ingin menerapkan teknologi tekstil yang membuat hangat pemainnya ketika cuaca dingin dan membuat adem pemain ketika cuaca panas.

"Bahan dry max ini bertekstur lubang-lubang. Fungsinya sebagai pori-pori untuk mengeluarkan keringat di dada dan punggung sebagai pangkal keringat dan mempercepat proses pengeringan. Setelah itu, bahan tersebut bisa menyerap udara dan menyesuaikan dengan suhu badan pemain. Sementara itu, bahan polyester untuk membuat sedikit hangat. Semua bahan ini saya gunakan untuk seragam kiper," ujarnya.

Selain Persib, Joma penyedia kostum asal Spanyol ini menysponsori timnas Honduras dan Sevilla. "Kostum Persib ini adalah satu-satunya kostum yang dilepas Joma untuk Indonesia," ujar Iwan.

Kostum ini hanya baru bisa dibeli di Kantor PT Persib Bandung Bermartabat, Jln. Sulanjana No 17 Bandung dengan harga Rp 299.000 untuk yang polos, dan Rp 399.000 untuk kostum yang sudah dilengkapi dengan sponsor, nomor punggung, dan nama.

No Response to "Sebilah Kujang, Jati Diri "Pangeran Biru""

Poskan Komentar

Powered by Blogger | Blogger by Blog Nu Hahi