Sejauh Manakah Peran Masjid dalam Islam?

eramuslim - Untuk menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya apabila kita kembali menekuri shirah nabawiyah yang mulia. Sebuah kisah perjalanan yang penuh dengan cerita-cerita keheroikan yang tiada bandingannya. Bagaimana saat pertama kali Rasulullah tiba di negeri tempat tujuan hijrahnya dalam sejarah Islam bersama para shahabatnya karena gangguan-gangguan kafir Quraisy yang telah mengancam keselamatan aqidah serta diri mereka (assabiqul awwalun). Hal yang pertama kali Beliau lakukan setelah sampai ke kota Madinah adalah membangun sebuah Masjid -kemudian dinamai masjid Nabawy- yang akan dijadikan asas dalam membangun masyarakat baru berdasarkan risalah yang dibawanya. Dengan luasan kira-kira panjang dan lebar seratus hasta, Beliau mulai meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat berdasarkan atas Islam, sedikit demi sedikit tapi pasti dan dalam waktu yang relatif singkat masyarakat madani telah terlihat tegak di bumi Madinah al Munawaroh.
Mungkin yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana masjid bisa berperan sebegitu jauhnya dalam mengubah masyarakat yang tadinya jahiliah menjadi masyarakat yang penuh dengan kecemerlangan, baik dari segi peradaban, pemikiran maupun kekuatan. Ternyata fungsi masjid pada zaman Rasulullah yang mulia bukanlah sekedar sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah ritual semata-sholat-tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai madrasah bagi orang-orang Muslim untuk menerima pengajaran Islam dan bimbingannya, sebagai balai pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa jahiliyah, sebagi tempat untuk mengatur segala urusan dan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan. Hal ini akan sangat berbeda apabila kita lihat dan bandingkan tentang peranan masjid di zaman sekarang ini, akan sangat ironis bahkan. Shaf yang hanya terdiri dari satu dua baris yang kadang tidak penuh, akan kita temui di seluruh pelosok kota maupun desa-desa kita. Ini menjadi pemandangan yang sangat biasa saat kehidupan duniawi ini-yang memang memperdayakan-telah menyita perhatian kita terhadap kehidupan yang kekal abadi kelak (alam akhirat).
Inilah, sebuah tugas yang maha berat yang telah Allah amanahkan kepada kita yang telah dikaruniai hidayat untuk kembali menyelami hakikat tentang kedalaman dan kemuliaan al Islam. Kemudian secara sinergis pengetahuan-pengetahuan kita tentang Islam kita tularkan kepada saudara-saudara kita. Agar suasana masjid-masjid yang kering dan terasa gersang kembali hidup dan makmur oleh kehadiran ummatnya. Sangat ironis memang, dengan keadaan negeri kita yang notabene disandangkan sebagai negeri dengan mayoritas penduduknya muslim bahkan terbesar didunia tetapi kualitasnya masih perlu dipertanyakan. Hal ini akan semakin jelas terlihat apabila kita ditelusuri akan kembali kepada pemahaman penduduk awam pada umumnya mengenai agama-dien- mereka. Banyak dari mereka yang mengartikan Islam itu hanya identik dengan amalan-amalan yang bersifat mahdhoh saja, seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Padahal hakikatnya Islam ini diturunkan tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia dengan aturan-aturan (syari 'at) yang telah dibawa oleh manusia teragung, Rasulullah SAW. Masjid yang seharusnya menjadi bangunan yang merupakan sentra dari segala aktivitas yang dilakukan ummat, kini dipandang hanya sebagai tempat ibadah-sholat. Peran yang sudah amat sangat direduksi dari peran masjid yang sesungguhnya. Mungkin inilah salah satu penyebab ummat ini belum bisa bersatu padu dalam menaklukkan musuh-musuhnya, merasakan nikmatnya ukhuwah dalam berislam tanpa memperdulikan apa yang namanya perbedaan suku, ras, bahasa bahkan batasan geografi yang memisahkan dimensi waktu dan tempat sekalipun. Tugas kita adalah mengembalikan kejayaan Islam Ini dengan ummatnya melalui suatu gerakan pencerahan (renaisance) terhadap pemahaman Islam secara komprehensif, tidak sepotong-sepotong apalagi parsial. Sehingga pada akhirnya akan tumbuh kesadaran dari masing-masing pribadi muslim untuk kembali kepada Islam secara kaffah, tanpa paksaan sedikit pun.
Yang menjadi masalahnya sekarang adalah adanya perang pemikiran (gawzul fikri)yang terus meresapi dan sengaja digulirkan oleh musuh-musuh Islam (Yahudi dan Nashoro) sehingga ummat semakin terjauhkan dari agama mereka sendiri dan sibuk oleh urusan-urusan furu' dan khilafiyah yang telah menguras tenaga dan konsentrasi ummat Islam sendiri. Bayangkan, sekarang ini ummat telah merasa merdeka, bebas dan tidak diperbudak di negerinya sendiri, padahal saudara seimannya dibelahan dunia yang lain -di palestina, iraq, afganistan, chechnya, kashmir, bosnia, pattani, mindanau dan masih banyak negeri Islam lainnya- yang masih terkungkung oleh tali-tali penjajahan dari negeri kaum kuffar. Mereka terlena dengan apa yang ada pada diri mereka karena tidak adanya ikatan persaudaraan yang kuat antara sesama muslim saat ini. Padahal dahulu pada saat Islam telah mencapai zaman keemasannya, penghinaan terhadap kehormatan seorang muslimah dibalas dengan penaklukan sebuah negeri.
Mungkin itulah contoh jika masjid dikembalikan seperti fungsi yang seharusnya, di mana informasi dan komunikasi akan terus terjalin dengan baik antara amir dengan masyarakat yang dipimpinnya. Sehingga terciptalah keadilan di muka bumi dan tak ada tempat bagi fitnah dan agama, selain Al Islam. Di mana kedudukan seseorang tidak dibeda-bedakan lagi oleh jabatan duniawi saat sujud bersama-sama dalam masjid yang sama, hanya taqwalah yang menjadi penciri dan pembedanya. Sebuah ikatan yang teramat kokoh untuk bisa diputuskan, suatu ikatan tali aqidah yang hanif yang mengajarkan hanya untuk menegakkan suatu kalimah yang mulia "La ilaha illallah". Karena salah satu cara untuk meng-counter setiap isu-isu yang ada yaitu dengan adanya komunikasi yang baik antar elemen yang menyusun ummat. Yah, salah satunya melalui wasilah masjid, dimana masjid dijadikan sebagai tempat untuk merumuskan berbagai strategi dakwah yang akan mengatasi segala pemikiran sesat kaum musyrikin. Bahkan dalam suatu cerita dikatakan bahwa salah satu tanda umat akan bangkit dan dapat mengalahkan Si bangsa kera dan babi adalah jumlah jamaah shalat shubuh sama dengan jumlahnya saat shalat jum'at. Kalau melihat kondisi dewasa ini, ini merupakan hal yang mungkin sangat sulit untuk diwujudkan. Tetapi juga mengisyaratkan kepada kita semua bahwa perjuangan untuk menegakkan agama Allah masih panjang dan butuh kesabaran yang luar biasa dari para penyerunya.
Sebenarnya solusi konkret yang dapat kita lakukan dan mungkin "mudah" untuk kita laksanakan yaitu dengan bersungguh-sungguh untuk kembali kepada kedua sumber hukum Islam, yaitu Al Quran dan Hadits. Yang dengan keduanya niscaya manusia tidak akan tersesat didunia dan akhirat. Untuk terakhir kalinya, kami serukan Ayo kembali ke masjid karena memang hati itu terpaut dimasjid. Berawal dari masjid, insyaAllah akan teraih kembali kejayaan Islam yang kita idam-idamkan selama ini sehingga tiada fitnah lagi dan agama seluruhnya hanya milik Allah SWT semata tiada yang lain. Semoga.
Allahu Akbar !
Bagaimana Muslim Bersikap terhadap Peradaban Barat?
Publikasi: 23/02/2005 15:13 WIB
Hari Sabtu, 12 Februari lalu, saya mendapat kesempatan menyampaikan sebuah kajian pada acara Kajian Islam Awal Tahun (KIAT) 1426, yang diadakan Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII)-Tokyo. Temanya cukup menantang 'Kehidupan Menurut Pandangan Islam dan Barat'.
Hal pertama yang terbersit di benak saya adalah kejujuran memandang realitas barat dan komunitas muslim saat ini. Sejauh mungkin dihindari simplikasi masalah yang terkadang hanya menghasilkan kebencian terhadap barat, apalagi berbicara di hadapan peserta kajian yang rata-rata mahasiswa. Satu pesan yang mungkin menguntungkan dari simplikasi masalah Barat versus Islam adalah membuat 'benteng' keyakinan bagi muslim, tapi untuk kerja besar komunitas muslim bisa jadi cara ini kontra produktif, sebab akan menutup rapat mempelajari hikmah yang mungkin tersimpan di barat sana.
Dilihat dari sudut capaian material peradaban, mestilah diakui bahwa barat telah mengambil alih estafet peradaban dari muslim, yaitu sejak mereka mengalami pencerahan sekitar abad XV masehi (Renaissance), kemudian dilanjutkan dengan revolusi industri, penjelajahan samudra (baca: imperialisme), dan revolusi Perancis dalam menata pemerintahan mereka. Setelah itu barat memadukan secara rapi kemajuan ilmu pengetahuan, administrasi, teknologi, industri (termasuk industri persenjataan!) serta perekonomian mereka. Bentuk kemajuan beberapa negara yang relatif baru masuk dalam kategori maju seperti Jepang atau Korea Selatan pun diwarnai budaya barat secara dominan. Para budayawan Jepang bahkan prihatin dengan kondisi anak-anak muda Jepang yang disinyalir mulai kehilangan identitas mereka dan mengalami pembaratan dalam selera dan cita-citanya. Fakta ini semakin mengokohkan bahwa Barat lah pemegang peradaban materi saat ini.
Bagaimana kondisi komunitas muslim saat ini? Meski menyakitkan untuk disebutkan, komunitas ini masih terseok-seok mengejar berbagai ketertinggalan dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera. Suasana keterjajahan di masa-masa imperialisme masih belum hilang sepenuhnya dari jiwa kebanyakan masyarakat muslim, yang memang baru merdeka secara fisik pada pertengahan abad XX lalu. Lihatlah kondisi Indonesia sebagai salah satu negara berpenduduk mayoritas muslim. Sulitnya membangun modal sosial dalam bentuk rasa saling mempercayai dan bekerja sama di negeri ini menjadi satu contoh saja, betapa bangunan sosial komunitas muslim masih jauh dari kekokohan yang diharapkan. Suasana penindasan ekonomi dari segelintir pemegang kapital atau perilaku korup birokrasi yang membuat sebagian besar masyarakat menderita masih saja berlangsung. Sikap rakus kapitalistik dan korup sebagian orang ini laksana sekelompok orang yang dapat hidup makmur dengan menjadi antek-antek kaum penjajah di masa imperialisme dahulu.
Suara-suara yang menyatakan bahwa imperialisme modern masih berlangsung nampaknya bukan isapan jempol belaka. Tak kurang Joseph Stiglizt, peraih nobel Ekonomi tahun 2002, dalam buku Globalization and Its Discontents menyimpulkan kuatnya kebijakan-kebijakan ekonomi barat (dalam hal ini kebijakan IMF dan World Bank) yang hampir-hampir mengabaikan negara-negara dunia ketiga untuk menentukan langkah ekonominya secara merdeka dan betul-betul berorientasi untuk memecahkan masalah domestik. Data-data statistik yang diangkat Adian Husaini berikut ini [Republika, 27 Juli 2004] mungkin berbicara lebih fasih tentang hegemoni barat terhadap dunia ketiga. Tahun 1960, perbandingan pendapatan per kapita antara seperlima penduduk bumi di negara-negara terkaya dengan seperlima penduduk bumi di negara-negara termiskin adalah 30:1. Tahun 1990, kesenjangan itu meningkat menjadi 60:1; dan tahun 1997 menjadi 74:1. Seperlima penduduk bumi di negara-negara kaya kini menikmati 86 persen GDP (Gross Domestic Product) dunia, 82 persen nilai ekspor dunia, dan 68 persen investasi asing secara langsung (foreign direct investment/FDI). Sementara seperlima penduduk bumi di negara-negara termiskin hanya menikmati 1 persen GDP dunia, 1 persen dari nilai ekspor dunia, dan 1 persen FDI.
Masalahnya sekarang, bagaimana komunitas muslim bersikap terhadap peradaban barat? Sepanjang sejarahnya ada tiga kategori besar sikap terhadap barat, pertama menentang habis-habisan, kedua menerima juga habis-habisan, dan ketiga adalah sikap pertengahan, kritis dan selektif dalam berinteraksi dengan peradaban dan budaya barat. Sikap pertama mudah difahami akan lahir dari kondisi dendam dan mungkin didorong sikap defensif yang berlebihan. Adapun sikap kedua lahir karena inferiority-complex. Bayangkan seorang sekuler Gerakan Turki Muda menyatakan,"Yang ada hanya satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa. Karena itu, kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya mau pun durinya sekaligus."
Pada kajian KIAT lalu, saya mengusulkan agar para intelektual muslim menempuh sikap ketiga dalam berdialog dan berinteraksi dengan barat. Paling tidak ada lima langkah yang bisa dilakukan dalam mengejar berbagai ketertinggalan komunitas muslim dalam kaitan interaksi dengan kemajuan barat:
1) pendalaman identitas diri sebagai muslim dan identitas komunitas muslimin,
2) pengenalan budaya barat secara komprehensif,
3) proses pembelajaran-penyeleksian-penyerapan dari sisi kebaikan barat,
4) membangun peradaban dengan warna dominan orisinalitas Islam, dan
5) menjadi soko guru peradaban dunia. Tulisan ini selanjutnya mengangkat masalah ke-2 dan ke-3 dari lima langkah di atas.
Intelektual muslim perlu membekali diri dengan pengenalan budaya barat secukupnya. Roger Garaudy dalam buku Janji-janji Islam [Penerbit Bulan Bintang, 1984] secara fenomenologi menyimpulkan bahwa peradaban Islam adalah warisan ketiga bagi peradaban modern saat ini setelah peradaban Yunani dan peradaban Yudeo-Kristiani. Sayangnya barat secara tidak jujur mewarisi sebagian saja dari warisan peradaban muslim. Penguasaan dan penghayatan yang tepat terhadap ilmu pengetahuan alam dan sosial menjadi akar kebangkitan setiap peradaban mulia. Di dalam Islam ilmu pengetahuan tersebut menjadi menjadi bagian utuh menuju jalan keyakinan akan keagungan Sang Pencipta. Mendalaminya identik dengan penghayatan ketauhidan Allah swt. Transendensi ilmu pengetahuan ini hilang ketika barat memisahkan ilmu pengetahuan dari nilai suci ketuhanan. Implikasinya adalah sikap terhadap alam yang eksploitatif dan sikap terhadap kemanusiaan yang diwarnai dengan penindasan dan pemerkosaan hak-hak asasi.
Hasil dari sekularisasi ilmu pengetahuan nampak pada kepincangan-kepincangan produk peradaban barat yang telah melahirkan dua perang dunia dengan korban jiwa yang besar sebagai akibat pertentangan negara-negara (nations) yang memuncak, kerusakan alam yang tidak terhingga (saat ini wacana tentang environmental security sedang mengemuka) dan krisis sosial yang sudah menghujam sampai akar permasalahan keluarga dan keturunan. Barat kebingungan menghadapi runtuhnya institusi keluarga. Kerinduan akan kehidupan keluarga yang harmonis menjadi tangisan dan impian yang terungkap dari banyak novel dan film mereka. Belum lagi kondisi masyarakatnya yang sudah meninggalkan agama. Ketika agama tidak lagi menjadi pijakan kehidupan, maka akan terjadi berbagai kerancuan pemikiran. Pertanyaan-pertanyaan dilematis tentang manusia pada capaian ilmu bio-molekular, semisal masalah kloning atau cybernetics yang banyak mengilhami film-film Hollywood, menggambarkan kebingungan barat dalam memahami hakikat manusia dan kehidupannya. Pengokohan rasa kemanusiaan mereka terpaksa mesti dibangun dengan memunculkan common enemy berupa aliens dari angkasa luar.
Sebagian ilmuwan barat mulai melakukan otokritik atas kekeliruan langkah yang terjadi. Fritjop Capra, seorang berlatar belakang fisikawan, adalah salah satu dari mereka. Dalam buku the Turning Point [dapat diakses pada beberapa situs internet] dia menyampaikan kritik terhadap peradaban barat yang telah terjebak memandang kehidupan sebagai pola mekanistik-parsial. Dia mengupas dari bangkitnya sains barat modern yang memang cenderung melihat realitas sebagai potongan-potongan kecil yang bekerja secara mekanistik. Dalam bidang fisika, mereka terus mencari substansi kehidupan dari atom ke nukleus, elektron dan partikel sub-atom. Kecenderungan ini pun terlihat dari bagaimana ilmu biologi, anatomi tubuh, hingga ilmu kedokteran pun terjebak pada pandangan parsial-mekanistik. Pengamatan diawali dari klasifikasi organisme, kemudian pada sel, hingga pengamatan molekul-makro, enzim, protein dan asam amino. Kesemuanya dilakukan untuk menjawab esensi dan substansi kehidupan. Dari apa kehidupan ini bermula? Apa hakikat yang ada di dalamnya? Dalam kebingungan mencari jawaban inilah alam pun dipandang sebagai bagian-bagian terpisah yang bisa dieksploitasi secara bebas. Ini yang menjadi akar permasalahan kepincangan produk peradaban barat, sebab pemikiran ini hanya berhenti pada pengejaran sisi kuantitas dari materi dan kehidupan.
Sebagai alternatif pemikiran di atas Capra mengusulkan untuk melihat kehidupan secara sistemik-holistik. Dia bahkan terus mengembangkan pemikirannya dengan merujuk pada ekosistem. Essainya berjudul Ecology and Community mengangkat masalah ini dengan indah. Pemikiran manusia kontemporer akan ekosistem berkembang sekitar tahun 1920-an dari mulai memahami rantai makanan (food chain) menuju konsep siklus makanan (food cycle) hingga konsep jejaring makanan (food webs -network of feeding relationship-). Ini perkembangan bagaimana para ekolog semakin memahami cara kerja alam. Sebagaimana alam telah bekerja dalam jejaring yang tersusun harmonis, lahirlah gagasan jejaring kehidupan (webs of life) dalam menata komunitas manusia. Pemahaman sisi kuantitas alam dilengkapi dengan sisi kulitasnya, yaitu pemahaman utuh akan pola-pola kehidupan (patterns of life). Kehidupan dan komunitas mesti dilihat sebagai pola sistem yang saling terkait satu sama lain (inter-linkage) dan saling membantu dalam menggapai cita-cita kemanusiaan.
Belakangan urgensi membangun kearifan umat manusia dalam bersikap terhadap alam semakin dirasakan berbagai komunitas ilmuwan. Kesadaran akan perubahan lingkungan global (global environmental change) yang terus meningkat dengan dampak-dampak serius yang diakibatkannya bagi kemanusiaan, membuat pembangunan jejaring dan institusi untuk memecahkan masalah ini dilakukan makin intensif. Di tingkat negara, regional dan global lahirlah jargon pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yang hampir tak bisa dilepaskan dari program-program pemerintahan di mana pun, paling tidak pada tataran konsep.
Kesadaran di atas bisa menjadi irisan pemikiran dan entry-point bagi intelektual muslim untuk berdialog dan berkolaborasi dengan ilmuwan barat dalam menemukan kembali hakikat kehidupan dan kemanusiaan. Al Quran membekali muslim untuk memandang alam sebagai satu kesatuan yang bersujud dan bertasbih kepada Allah, Rabb semesta alam, bahkan alam dan diri manusia adalah cerminan kesatuan kebenaran dariNya.
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (QS. Fushilat:53).
Kehadiran warna dominan peradaban islami akan memecahkan berbagai problematika masyarakat modern. Ini keyakinan yang kokoh pada para intelektual muslim. Akan tetapi untuk sampai ke posisi ini dibutuhkan kerja keras komunitas muslim secara rapi dan serempak.
***

Ade J Mustafa

Mahasiswa program doktor pada Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), Chiba University-Japan; Peminat masalah pengembangan diri dan komunitas
Jilbab di STIS: Lagu Klasik
Publikasi: 16/02/2005 16:01 WIB
Aneh, klasik, norak, atau entah kata apa lagi yang pantas diungkapkan untuk sebuah kebijakan yang berlaku di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta, yang memperketat aturan berjilbab di kampus tersebut yang dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM). Para mahasiswi di kampus itu hanya diperbolehkan menggunakan jilbab kecil yang tak menutupi dada mereka. Kebijakan ini jelas melanggar kebebasan seseorang untuk menjalankan agamanya.
Negara menjamin setiap warga negaranya untuk menjalankan ajaran agamanya, dan rasanya sangatlah aneh di negara yang menjunjung tinggi alam demokrasi seperti saat ini, masih ada kebijakan yang mengekang kebebasan orang untuk menjalankan keyakinannya. Ini seperti lagu klasik yang coba diputar kembali, yang semestinya tak perlu terulang kembali. Terlebih di era setiap orang maupun lembaga yang melakukan pelanggaran HAM menjadi sorotan tajam.
Berita yang ditulis Harian Republika (14/2) menerangkan, STIS memperketat aturan berjilbab bagi mahasiswinya. Para mahasiswi tingkat I khususnya hanya diperkenankan mengenakan jilbab ukuran kecil, yang tak menutup bagian dada mereka. Mereka yang tak menghiraukan aturan tersebut terancam dikeluarkan dari perguruan tinggi di Jakarta Timur itu. Sebuah gaya lama ternyata masih berlaku di sekolah ini, sikap otoriter yang tak perlu.
Selain alasan keseragaman, tidak jelas kenapa pihak sekolah menerapkan kebijakan ini. Ketua STIS Jakarta, Satwiko Darmesto mengaku opsi untuk memberlakukan jilbab ukuran kecil itu untuk keragaman agar terlihat lebih bagus. “Ini agar terlihat seragam. Kalau dibiarkan ada yang menggunakan jilbab besar dan kecil, kan terlihat tidak bagus,” katanya. (republika, 15/2).
Agak aneh mendengar penjelasan Satwiko tersebut. Sebelumnya, diakui Satwiko, pihaknya memiliki dua opsi bagi mahasiswa untuk menggunakan jilbab kecil dan besar. Dan akhirnya dipilih untuk diseragamkan semua mahasiswa menggunakan jilbab kecil. Jika yang menjadi alasan adalah keseragaman agar terlihat bagus, kenapa juga tidak dipilih opsi jilbab besar saja. Pilihan ini tentu lebih aman dan tidak melanggar HAM seseorang dalam menjalankan ajaran agamanya. Kecuali, jika pihak STIS mempunyai pandangan lain, bahwa jilbab besar itu tidak bagus, di sisi lain jilbab kecil lebih bagus. Ini tentu akan menimbulkan persoalan lain, dan perlu pula dipertanyakan. Misalnya, apakah pihak sekolah sengaja –dengan memilih opsi jilbab kecil- agar para mahasiswinya tetap terlihat seksi meski mengenakan jilbab?
Jilbab hakikatnya tak sekadar menutup aurat –selain wajah dan tapak tangan, semuanya adalah aurat bagi wanita yang harus tertutup- tapi juga bagian dari keyakinan seseorang yang menjalaninya. Jika seseorang atau institusi melakukan tindakan pelarangan atau membatasi orang lain untuk menjalaninya, tentu saja ini lebih dari sekadar pelanggaran HAM.
Menutup aurat dan menggunakan jilbab hukumnya wajib, karena dalilnya jelas. Meski diakui soal bentuk, ukuran, motif dan warnanya tidak aturan yang mutlak. Kewajiban setiap mukmin untuk menutup auratnya memang tidak mesti harus dengan jilbabnya yang panjang ke bawah, seseorang yang mengenakan jilbab ukuran kecil serta mengenakan pakaian lain yang menutupi bagian lainnya, tentu sudah dianggap menutup aurat. Tetapi jika ada seseorang yang mengenakan jilbab berukuran panjang untuk menutupi lekukan tubuhnya –terutama bagian dada- berdasarkan keyakinannya, tentu saja merupakan hak mereka yang juga harus dihormati atas dasar HAM. Orang yang terinjak kakinya saja bisa marah, apalagi yang menyangkut asasi untuk menjalankan keyakinannya.
Nampaknya pihak STIS perlu menengok kembali kebijakannya tersebut, serta membiarkan para mahasiswanya menjalankan keyakinannya. Yang mau jilbab pendek yang biarkan, yang berkeyakinan untuk mengenakan jilbab panjang juga jangan dihambat. Terlalu banyak ‘pekerjaan rumah’ yang perlu dilakukan umat dan bangsa ini, dan tak perlu direcoki lagi dengan urusan klasik seperti kasus STIS ini. Alasan keseragaman nampaknya terlalu mengada-ada.
Ummu Iqna
BogorSolidaritas Muslim (Eropa) Jerman untuk Aceh
Publikasi: 28/12/2004 16:04 WIB
“Bukan golongan kami orang yang tidak peduli pada urusan orang Islam.” (Al-Hadits)
Pesisir Serambi Mekkah pada Abad 15 menjadi saksi, ketika bumi Allah diguncangkan oleh kedatangan bala bantuan Khalifah Utsmani dari Eropa, bahu membahu dengan umat muslim nusantara melepaskan cobaan dalam bentuk penjajahan oleh para penjajah portugis.
Dengan semangat Ukhuwah Islamiyah bahu membahu di bawah panji Islam, angkatan perang Khalifah Utsmani berperang untuk melapangkan perjalanan kapal-kapal yang mengantarkan tamu-tamu Allah untuk berhaji dari serangan-serangan kapal perang Portugis
Hari ini 6 Abad setelahnya, menjelang bulan haji, umat Islam di Aceh kembali mendapat musibah, berita tersebut sudah menyebar dan sampai ke telinga kita yang berada di Eropa.
Malu rasa-nya diri ini jika melihat contoh Ukhuwah Islamiyah dari para pendahulu kita di eropa, apalagi kiranya jika ingta bahwa sikap acuh terhadap musibah umat islam akan dipertanyakan oleh Allah SWT di padang mahsyar.
“Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari Muslim dari Anas)
Alhamdulillah mulai kemarin (26/12/04) beberapa organisasi, perwakilan yayasan, dan perwakilan parpol yang berada di Jerman, telah membuka pos-pos pengumpulan dana bantuan bencana Aceh yang bisa dimanfaatkan masyarakat Indonesia di Jerman dan sekitarnya, untuk mempercepat proses penyaluran bantuan ke titik-titik bencana.
Berikut adalah daftar nama-nama pos pengumpulan dana bantuan Aceh:
1. Medical Emergency Rescue Comitee (MER-C)
MER-C Perwakilan Jerman Zoesmar Sidi (Frankfurt)
Stichwort : GEMPA ACEH Kontonummer 105676-602 Bankleitzahl 500 100 60 Postbank Frankfurt am Main
2. Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia se-Jerman (FORKOM-Jerman)
Nama : Akmal Hidayat (Kassel)
Konto : 100 3420 330 BLZ. : 520 503 53 (Kasseler Sparkasse)
Verwendungszweck : FORKOM Peduli Aceh
Sumbangan pakaian ke:
Ricki Usman (Hannover)
Bischofsholer Damm 85, App. 150 30173 Hannover Tel. +49 +511 1605268
3. PIP PK-Sejahtera Reg. 1 Jerman
Dewi Yuniasih (Magdeburg)
Kontonr. 5103155 BLZ. 12070024 Verwendungszweck : Munasharah Aceh
4. Yayasan Binnaur Rijal (BR) Perwakilan Jerman
Chip Rinaldi Sabirin (Darmstadt)
Konto : 2163053 BLZ : 39070024 Deutsche Bank Aachen Verwendungszweck: Peduli Gempa Aceh 04
5. Komite Zakat, Infaq dan Shodaqoh (KZIS) – ISNET Jerman
Hadi Suryo Pardianto (Hannover)
KTONR : 3311560 BLZ : 268 700 24 VZW : Dana Aceh
6. LSM Kharisma Woman & Education
Noor Fitri Arifudin (Aachen)
Deutsche Bank (BLZ 390 700 24)
Kto. Nr. 204 7561 Verwendungszweck : Peduli Aceh
Semoga Allah SWT mengangkat penderitaan para korban, menghapus kesedihan para handai taulan, melapangkan jalan-jalan sukarelawan dalam menjalankan khidmat-nya dan membalas dengan sebaik-baik balasan lagi banyak kepada para dermawan yang ber-infaq dengan harta yang dititipkan Allah kepada mereka.
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS Al Baqarah: 261)

Syamsul Bachri
Mahasiswa akhir Tekhnik Mesin FH Hannover.
Ungerstr. 1, 4. OG.
30451 Hannover.
Tlp. 0511-3534141
Pernyataan Keprihatinan Rumpun Gema Perempuan
Publikasi: 09/07/2004 08:13 WIB
Pernyataan Keprihatinan atas Putusan Pengadilan Negeri Tangerang dalam Kasus Pembunuhan seorang PRT
Tragedi memilukan yang menimpa Maryati (15), seorang Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang meninggal karena dibunuh majikan perempuannya, Yeni Vera Simorangkir (42) belum sepenuhnya tuntas. Meskipun akhirnya, pengadilan memvonis pelaku pembunuhan dengan 2 (dua) tahun penjara, namun hukuman ini masih terlalu ringan untuk tragedi berat yang dialami PRT tersebut. Pengadilan tidak menilai beratnya pelanggaran terhadap seorang manusia yang ada pada kasus ini. Bayangkan! Hanya karena tuduhan mencuri roti dan makanan, majikan tersebut merasa punya alasan untuk melakukan pembunuhan terhadap seorang PRT.
Apakah karena dia seorang PRT, sehingga dianggap wajar diperlakukan semena-mena? Apakah harga nyawa seorang PRT hanya setara sepotong roti atau sepiring nasi? Jelas tidak! Harga diri seorang PRT setara dengan manusia lainnya, sehingga tidak ada satupun alasan untuk menganiayanya dan memperlakukannya dengan berbagai bentuk kekerasan dan ketidakadilan. Atas dasar hal itulah, hukuman dua tahun penjara terasa belum cukup adil dan sebanding dengan pelanggaran berat yang dilakukan majikan itu.
Berdasarkan peristiwa itu, Rumpun Gema Perempuan (RGP), sebuah lembaga yang memiliki kepedulian terhadap hak-hak PRT, menyatakan keprihatinan yang sedalam-dalamnya atas tidak terpenuhinya rasa keadilan bagi PRT. Kami juga prihatin karena peristiwa ini kemungkinan besar akan berpengaruh terhadap kesadaran para majikan untuk tidak merasa khawatir terhadap hukuman yang akan diterima jika melakukan suatu tindak kekerasan atau ketidakadilan terhadap PRT. Semoga, lain waktu kita diberi kesadaran yang tinggi untuk memperlakukan para PRT secara adil dan tidak semena-mena.
Jakarta, 8 Juli 2004

Yuni Satia Rahayu, M.Hum.
Direktur Eksekutif
Rumpun Gema Perempuan
Jl. Kemuning IV B No. 34 A RT 12/ RW 06 Pejaten Timur
Pasar Minggu Jakarta 12510 Telp/Faks: (021) 79191138
E-mail: rumpungemaperempuan at yahoo dot com

Dan Syahidpun Menjemputnya...
Publikasi: 01/05/2004 16:53 WIB
Ambon, 26 April 2004. Tidak banyak yang menyangka bahwa beliau menghadap keharibaan-Nya begitu cepat. Baru tiga hari tiba di Ambon dari Maluku Tenggara Barat, melakukan perjalanan panjang, mensosialisasikan Partai Keadilan Sejahtera...ternyata harumnya surga telah lebih dulu diciumnya.
Abdullah Daeng Matta, sosok sederhana dengan lima orang anak, adalah pejuang dan kader PK Sejahtera. Ketua DPC PK Sejahtera Kecamatan Nusaniwe, Ambon, ini telah bergabung dengan PK Sejahtera sejak partai ini didirikan lima tahun lalu. Beristri seorang mualaf asal Maluku Tenggara, sosok Dulla, begitu beliau disapa sangat aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kepartaian. Kemenangan dakwah di kecamatan Nusaniwe pada pemilu 5 April lalu, tidak lepas dari kerja keras beliau.
Bukan hanya itu, istrinya, Yakomina Luturmas yang saat ini hamil 6 bulan, juga sosok yang sangat aktif terlibat dalam kegiatan kepartaian. Saat kampanye kemarin, ditemani suami, meninggalkan Ambon dan keempat putra-putrinya menuju Saumlaki dan beberapa desa/dusun di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) untuk berkampanye, menebar kebaikan kepada masyarakat MTB. Untuk sampai di Maluku Tenggara Barat, dibutuhkan waktu 2 hari perjalanan laut dari kota Ambon.
Kondisi tubuh istrinya yang berbadan dua tidak menghalangi dirinya untuk berkampanye untuk dakwah dan kemenangan Islam. Istrinya salah satu caleg perempuan dari MTB untuk DPRD Provinsi Maluku, sementara Dullah adalah caleg dari Kecamatan Nusaniwe untuk DPRD kota Ambon. Sejak masa kampanye bulan Maret hingga pertengahan April, beliau dan istrinya menetap untuk sementara di sana. Semangat dakwah istrinya begitu bertambah, sekembalinya istri beliau dari pelatihan caleg perempuan yang dilaksanakan oleh DPP PKS di Ujung Pandang bulan Maret lalu. Semangat dakwah ini ditularkan oleh Ibu Yakomina kepada As Syahid, sehingga hari-hari beliau pada masa kampanye lalu beliau habiskan untuk memenangkan dakwah Islam.
Baru saja tiba di Ambon bersama istrinya hari Sabtu kemarin, dan belum sempat bertatap muka dengan ketua DPW PKS Maluku untuk melaporkan hasil pemilu di Maluku Tenggara Barat, ternyata Allah telah lebih dulu memanggilnya.
Senin pagi, ketika sedang berjaga-jaga di perbatasan Talake bersama warga, sebuah peluru menembus dada kirinya. Dalam kondisi sekarat, beliau kemudian diantar ke Rumah Sakit Al Fatah. Jam 10.15 WIT, beliau menghadap Allah SWT. Istrinya ternyata begitu tegar. "Allah lebih tahu tentang kejadian ini, begitu komentar singkat beliau ketika para ikhwah membesuk di rumah duka kawasan Waihaong." (Suhfi-Ambon HP. 081343044921)
Dikirim oleh Teddy S. Gunawan

No Response to "Sejauh Manakah Peran Masjid dalam Islam?"

Poskan Komentar

Powered by Blogger | Blogger by Blog Nu Hahi