Kumpulan Hadits

Petunjuk Dasar

Jalan yang lurus itu hanya satu
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ خَطَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللهِ مُسْتَقِيمًا قَالَ ثُمَّ خَطَّ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ السُّبُلُ وَلَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ ( وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ )

Dari Ibnu Mas'ud , ia berkata, 'Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya, seraya bersabda kepada kami, "Ini jalan Allah yang lurus."
Dan beliau membuat garis-garis banyak sekali di kanan kirinya, seraya bersabda,
"Ini jalan-jalan yang tak satu pun terlepas dari intaian syetan untuk menyesatkan."
Kemudian beliau membaca ayat 153 surat Al An'aam,
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain." [HR Ahmad no 4205, Nasa'i; SHAHIH]

Petunjuk terbaik dan perkara terjelek
Rasulullah  bersabda:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثُ كِتَابَ الله، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٌ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةُ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارٍ.
"Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Rasulullah, dan seburuk-buruk perkara (agama) adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan itu di neraka." [HR Muslim]

Wasiat Nabi menjelang wafat tentang menyikapi perselisihan
Diriwayatkan dari Irbadl bin Sariyah , 'Rasulullah shalat Shubuh bersama kami, kemudian memberi nasehat dengan nasehat yang baik, yang dapat meneteskan air mata dan menggetarkan hati para pendengarnya. Lalu berkata salah seorang shahabat, "Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat terakhir, oleh karena itu nasehati kami."
Lalu Nabi bersabda:
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ. فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اِخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةِ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
"Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, sekalipun kepada seorang hamba keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya, barangsiapa diantara kamu hidup (pada saat itu), maka ia akan menyaksikan banyak perselisihan pendapat. (Oleh karena itu), hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petuunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu, dan waspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid'ah), karena setiap bid'ah itu adalah sesat."
[HR Ahmad IV/126-127, Abu Dawud 4583, Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 43, Ad darimi I/44-45, Al Bagawi I/205, Syarah as-Sunah, dan Tirmidzi berkata hadits ini hasan shahih, dan shahih menurut syaikh Al Albani]

Warisan yang sangat jelas dan terang
Rasulullah  bersabda,
لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِى إِلاَّهَالِكٌ
"Sungguh aku telah meninggalkan kalian dalam keadaan di atas (sunnah / petunjuk) yang keputihan malam harinya seperti siang hari. Tidak ada yang menyimpang daripadanya melainkan orang-orang yang binasa"
[HR Ibnu Majah: hal 16 no 43,44, Ibnu Abi 'Ashim dalam as Sunnah 1/26-27 no 47,48,49; dishahihkan Syaikh Nashiruddin al Albani]

Jangan menyimpang dari Al Jama’ah

Dari Ibnu Abbas , Rasulullah  bersabda,
إِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضَلاَلَةٍ وَيَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ
"Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan ummatku (atau ummat Muhammad) di atas kesesatan. Dan tangan Allah bersama Al Jama'ah. Barangsiapa menyimpang dari Al Jama'ah, berarti ia menyimpang ke neraka."
[HR Tirmidzi: 2167, Mustadrak Al Hakim: 1/115, Ibnu Abi 'Ashim dlm As Sunnah: 80]

Banyak tanya dan menyelisihi Nabi penyebab kehancuran

Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda:
دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"Biarkan aku dengan apa yang aku tinggalkan ! Sesungguhnya, hancurnya orang-orang sebelum kamu karena banyaknya pertanyaan dan perselisihan (protes) kepada nabi-nabi mereka. Maka apa yang aku larang, tinggalkanlah dan apa yang aku perintahkan, kerjakanlah semampu kalian."
[HR Bukhari Kitabul I’tishom bil kitab wa sunnah no 6744(kt)]

Perkara halal, haram dan syubhat
إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ
“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas dan sesungguhnya perkara yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara yang syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari syubhat itu, maka dia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke hal yang syubhat itu maka dia terjerumus ke perkara yang haram. Seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tempat yang di batasi, hampir ia jatuh padanya.”
[HR Bukhari, Muslim]


Tauhid dan Syirik

Hak Allah atas hamba dan hak hamba atas Allah
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ قَالَ فَقَالَ يَا مُعَاذُ تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ قَالَ قُلْتُ الله وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا
Dari Muadz bin Jabal , “Aku pernah dibonceng Nabi  di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku:
“Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hambaNya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ?”
Aku menjawab, “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”
Beliau pun bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hambaNya ialah supaya mereka beribadah kepadaNya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepadaNya. Sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah: bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepadaNya.”
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang ?”
Beliau menjawab, “Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri” [HR Muslim bab Kitabul Iman no 44(kt)]

Dosa sepenuh jagad, tetapi mati dalam keadaan tidak syirik
حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى ... يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلاَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لاَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
Dari Anas bin Malik , ‘Aku mendengar Rasulullah  bersabda,
“Allah  berfirman: (dalam hadits yang panjang) ...
Wahai bani Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan dosa sepenuh jagad, sedangkan kamu ketika mati berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun kepadaKu, niscaya akan Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh jagad pula.” [HR Tirmidzi; dinyatakan hasan oleh Tirmidzi]

Siapa 70000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab ?
أَخْبَرَنَا حُصَيْنُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلاَةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمُ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ اْلاَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لاَ رُقْيَةَ إلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنِ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى اْلأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى اْلأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمِ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمِ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي اْللإِسْلاَمِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمِ الَّذِينَ لاَ يَرْقُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Hushain bin Abdurrahman  menuturkan,
“Suatu ketika aku berada di sisi Said bin Jubair, lalu dia bertanya, “Siapakah di antara kalian melihat bintang yang jatuh semalam.”
Aku pun menjawab, “Aku”. Kemudian aku berkata lagi, “Ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak dalam keadan sholat, tetapi terkena sengatan kalajengking.”
Ia lalu bertanya, “Lalu apa yang kamu perbuat”
Jawabku, “Aku meminta ruqyah”
Ia bertanya lagi, “Apakah yang mendorong dirimu untuk melakukan hal itu ?”
Jawabku, “Yaitu sebuah hadits yang dituturkan oleh Asy-Sya’bi kepada kami.”
Ia bertanya lagi, “Dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu ?”
Kataku, “Dia menuturkan kepada kami hadits dari Buraidah bin Al Hushaib:
“Tidak boleh ruqyah kecuali karena air atau terkena sengatan ...”
Said pun berkata, “Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya. Tetapi Ibnu Abbas menuturkan kepada kami hadits dari Nabi, bahwa beliau bersabda:
“Telah diperlihatkan kepadaku ummat-ummat. Aku melihat seorang nabi, bersamanya beberapa orang, dan seorang nabi, bersamanya satu dan dua orang, serta seorang nabi dan tak seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku suatu jumlah yang banyak, aku pun mengira bahwa mereka itu adalah ummatku, tetapi dikatakan kepadaku: Ini adalah Musa bersama kaumnya. Lalu, tiba-tiba aku melihat lagi suatu jumlah besar pula. Maka dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah ummatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang mereka itu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.”
Kemudian beliau bangkit dan segera memasuki rumahnya. Maka orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. Ada di antara mereka yang berkata: ‘Mungkin saja mereka itu orang yang menjadi shahabat Rasulullah.’ Ada lagi yang berkata, ‘Mungkin saja mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, sehingga tidak pernah mereka berbuat syirik sedikitpun kepada Allah.’ Dan mereka menyebutkan beberapa perkara.
Ketika Rasulullah  keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda,
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempel dengan besi yang dipanaskan, tidak melakukan tathayyur dan mereka bertawakkal kepada Tuhan mereka.” [HR Bukhari, Muslim; Lafadz Muslim]

Ketergantungan hamba atas Allah
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ
Dari Abu Dzar  dari Nabi , bahwasanya Allah  berfirman (hadits qudsi),
“Wahai hamba-hambaKu, ssungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diriKu dan Aku menjadikan sesuatu yang haram atas kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.
Wahai hamba-hambaKu, kalian semua sesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Oleh karena itu, mintalah petunjuk dariKu, niscaya Aku berikan kalian petunjuk.
Wahai hamba-hambaKu, kalian semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan. Mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku beri makan kalian.
Wahai hamba-hambaKu, kalian semua telanjang, kecuali orang yang Aku anugerahi pakaian. Oleh karena itu mohonlah kepadaKu pakaian, niscaya Aku anugerahi kalian pakaian.
Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian selalu berbuat dosa di malam dan siang hari dan Aku mengampuni segala dosa-dosa. Oleh karena itu, mintalah ampunan kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian.
Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak pernah sanggup mendatangkan mudarat bagiKu dan kalian tidak akan pernah sanggup mendatangkan manfaat untukKu.
Wahai hamba-hambaKu, seandainya orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian dari kalangan manusia dan jin dari kalian semuanya bertaqwa seperti orang yang paling taqwa di antara kalian, hal ini tidak akan menambah di dalam kerajaanKu sedikit pun.
Wahai hamba-hambaKu, andaikata para pendahulu dan orang-orang terkemudian dari kalangan manusia dan jin dari kalian semuanya durhaka seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, hal ini tidak akan mengurangi di dalam kerajaanKu sedikit pun.
Wahai hamba-hambaKu, andaikata para pendahulu dan orang-orang terkemudian dari kalangan manusia dan jin dari kalian berada di suatu tempat, lalu mereka memohon kepadaKu dan Aku mengabulkan permohonan mereka, hal ini tidak akan mengurangi apa yang Aku miliki, melainkan seperti berkurangnya samudra luas bila dicelupkan ke dalamnya sebuah jarum.
Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya amal kalian yang akan Aku perhitungkan, kemudian Kubalas amal kalian. Oleh karena itu, barangsiapa yang mendapat kebaikan, maka hendaklah memanjatkan puji kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan selain daripada itu, maka janganlah menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” [Shahih Muslim no 4674(kt)]

Samarnya syirik dan doa agar terhindar darinya
Rasulullah  bersabda:
الشِّرْكُ فِيْكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ, وَسَأَدُلُكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتَهُ أُذْهِبَ عَنْكَ صِغَارُ الشِّرْكِ وَكِبَارُهُ, تَقُوْلُ: اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ, وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَالاَ أَعْلَمُ
“Syirik yang ada di dalam dirimu itu lebih samar daripada jalan semut secara pelan-pelan, dan aku akan menunjukkan kepadamu sesuatu yang apabila kamu mengamalkannya, niscaya akan hilang darimu syirik kecil dan besarnya, yaitu hendaklah kamu mengucapkan: “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari mempersekutukanMu sedang aku mengetahui, dan ampunilah aku dari apa-apa yang tidak aku ketahui.”
[HR Ahmad, Fathul Kabir: 2/181, Shahih Jami’us Shaghir: 3/233 no 36]

Nasehat Nabi kepada seorang pemuda
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ اْلأَُقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
Dari Ibnu Abbas , ia berkata ‘ Saya pernah berada di belakang Nabi  pada suatu hari, maka beliau bersabda,
“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah pasti engkau akan mendapatkanNya di hadapanmu. Jika engkau minta, mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, mintalah tolong kepada Allah.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya andaikata ummat manusia bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukan hal itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah padamu. Dan jika mereka bersatu mencelakakan kamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat mencelakakan kamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah kepadamu.
Telah diangkat pena dan telah kering tinta lembaran-lembaran itu.” [HR Tirmidzi no 2440 (kt), Ahmad; Tirmidzi berkata hadits ini hasan shahih]

Mencari pahala dari sekutu Allah pada hari kiamat
Rasulullah  bersabda:
إِذَا جَمَعَ اللهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِيَوْمٍ لاَ رَيْبَ فِيهِ نَادَى مُنَادٍ مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ أَحَدًا فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ
“Ketika Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian pada hari yang tidak diragukan lagi, maka ada yang menyeru: “Barangsiapa dalam amal yang dilakukannya telah mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka hendaklah dia mencari pahalanya dari sesuatu itu. Sesungguhnya Allah terlalu kaya untuk dipersekutukan.”
[HR Tirmidzi: 3154; Abu Isa berkata hadits ini hasan gharib]

Apa itu syirik kecil ?
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَُصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَُصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمُ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً ؟
Dari Muhammad bin Labid , Rasulullah  bersabda,
“Sesungguhnya yang aku takutkan kepada kalian adalah syirik kecil.”
Shahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah ?”
Nabi  menjawab, “Riya’.Pada hari kiamat, ketika Allah hendak membalas amalan manusia, maka Dia berfirman:
“Pergilah kamu kepada orang-orang yang kamu ingin dia melihatnya. Maka lihatlah apakah mereka bisa memberikan pahala ?”
[HR Ahmad no 22523(kt)]

Syirik khofi
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
Dari Abu Sa’id al Khudri , Rasulullah  bersabda:
“Tidaklah aku kabarkan kepadamu sesuatu yang lebih aku takutkan atas kamu di sisiku daripada kedustaan Dajjal, yaitu syirik Khafi: yaitu seseorang berdiri sholat lalu memperbagus shalatnya karena tahu dilihat orang.” [HR Ibnu Majah no 4194(kt)]


Perdukunan

Ancaman bertanya/mendatangi dukun
Rasulullah  bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافً فَسَاّلُهُ عَنْ يَيءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاّةٌ أَرْبَعِيْنَ يَومً
"Barangsiapa mendatangi A'raaf (tukang tenung) dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari."
[HR Muslim]

Ancaman membenarkan dukun
Dari Abu Hurairah , Nabi  bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
"Barangsiapa mendatangi 'arraf atau kahin dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan Muhammad"
[HR 4 Ahlus sunan; dishahihkan oleh Hakim]

Arraf adalah orang yang mengaku mengetahui kejadian yang telah lewat, yang bisa menunjukkan barang yang dicuri atau tempat kehilangan suatu barang. Sedangkan Kahin ialah orang yang memberitakan hal-hal ghaib yang akan terjadi atau sesuatu yang terkandung di hati.
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 'Arraf, Kahin, Munajjim atau ahli nujum adalah nama yang sama untuk kedua nama di atas. [Al Jami'ul Farid hal 124]

Bukan golongan Nabi
Dari 'Imran bin Husein , ia berkata Rasulullah  bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ اوْ نُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنّ لَهُ أّوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ وَمَا أّتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
"Bukan dari golongan kami orang yang menentukan nasib sial dan untung berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain, yang bertanya dan yang menyampaikannya, atau yang bertanya kepada dukun atau yang mendukuninya, atau yang menyihur dan yang meminta sihir untuknya. Dan barangsiapa yang mendatangi Kahin dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir dari apa yang diturunkan kepada Muhammad ."
[HR Al Bazzar; sanadnya Jayyid]


Sholat

Diutus memerangi manusia
Dari Ibnu Umar , Rasulullah  bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ
“Aku diperintah memerangi manusia sehingga mereka mengakui bahwa tiada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, dan mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat. Maka jika melakukan semua itu, terpelihara darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam. Dan perhitungan mereka terserah kepada Allah.”
[HR Bukhari, Muslim: no 29]


Batas seseorang dengan syirik dan kekufuran
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُوْلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِا
“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” [HR Muslim]


Ilmu Agama

Hanya melalui proses belajar dan sabar
Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda,
اِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْتِهِ وَمَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَّيُوقِهِ
"Sesungguhnya ilmu pengetahuan hanyalah melalui proses belajar, kesabaran dengan berlatih sabar. Barangsiapa meniti (mencari) kebajikan, maka dia akan diberi kebajikan itu. Dan barangsiapa menjauhi kejahatan, maka dia akan dijauhkan darinya."
[HR Al Khathib: 9/127, Silsilah hadits shohih no 342; hasan]

Yang dikehendaki kebaikan
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقّهْهُ فِى الدّيْنِ
"Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka difaqihkan (diberi pendalaman) ia tentang ilmu agama."
[HR Bukhari, Muslim: 3/175]

Dimudahkan jalan ke sorga
مَنْ سلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu agama, Allah akan memudahkan jalan baginya menuju sorga."
[HR Muslim: 4/38]

Menuntut ilmu agama termasuk fi sabilillah
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
"Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu agama, maka ia berada di jalan Allah hingga kembali pulang."
[HR Tirmidzi: 5/2647; isnadnya hasan gharib menurutnya]

Amal yang tak terputus
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ، إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٌ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ
"Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalannya, kecuali tiga hal: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya."
[HR Muslim: 3/14]

Kewajiban setiap muslim
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلّ مُسْلِمٍ
"Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim."
[HR Ibnu Majah: 1/224; sanadnya hasan]

Laknat untuk dunia dan isinya, kecuali 3 hal
الدَّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيْهَا، إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى وَمَا وَالاَهُ، وَعَالِمًا أَوْمُتَعَلّمًا
"Dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala apa yang ada padanya, kecuali dzikrullah dan yang menolongNya, orang yang berilmu dan penuntut ilmu."
[HR Tirmidzi: 4/2322; isnadnya hasan gharib menurutnya]

Keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرَ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. وَأَنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ. وَاَنَّ الأَنْبِيَاءِ لَمْ يُورِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَبِهِ أَخَذَ بِحَظَّ وَافِرٍ
"Keutamaan seorang yang berilmu dibandingkan dengan seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu pewaris para nabi. Nabi-nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya (mempelajarinya), berarti mengambil bagian yang banyak."
[HR Tirmidzi: 5/2685]

Mencari ilmu agama bukan karena mencari keridhaan Allah
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَىبِهِ وَجْهُ اللهِ لاَ يَتَعَلَّمُهُ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عِرْفَ الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu, yang sepantasnya dengan ilmu itu ia mencari ridla Allah, namun ternyata untuk memperoleh harta dunia, niscaya ia tak akan mencium bau sorga di hari kiamat kelak."
[HR Ahmad: 2/338, Ibnu Majah: 1/25]

"Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan ulama, bertengkar dengan orang-orang bodoh dan memperbincangkannya di majelis-majelis ilmu untuk menarik perhatian. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka tempatnya adalah neraka."
[HR Hakim: 1/86, Ibnu Majah: 1/254, Ibnu Hibban dlm shahihnya; isnadnya hasan]

Tanda kiamat: dituntutnya ilmu dari orang-orang kecil (yakni orang bodoh/ahlul bid’ah)
Dari Abi Umayyah al Jahmi , bahwa Rasulullah  bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ثَلاَثٌ إِحْدَاهُنَّ أَنْ يَلْتَمِسَ الْعِلْمَ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat itu ada 3, salah satunya ialah akan dituntutnya ilmu dari Al-Ashaghir (orang-orang kecil)."
[HR Ibnul Mubarok dlm Az Zuhd hal 20-21, Al Albani berkara: "Shahih" dlm Shahih Jami'us Shaghir 2:243 no 2203. Dan Al Hafizh Ibnu Hajar menjadikannya syahid dalam Fathul Bari I:143]

Ancaman Menyembunyikan ilmu
Rasulullah  bersabda,
مَنْ كَتَمَ عِلْمًا اَلْجَمَهَ اللهُ بِلِجَامٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa yang menyembunyikan suatu ilmu, niscaya Allah akan memakaikan kekang dari api neraka padanya pada hari kiamat kelak."
[HR Abu Dawud 4/9, Ibnu Majah 1/264]


Kebodohan

Kebodohan tentang ilmu agama merupakan tanda dekatnya kiamat
Dari Anas bin Malik , ia berkata, Rasulullah  bersabda:
اِنَّ مِنْ اَشْرَطِ السَّاعَةِ اَنْ يُرْفَعَ فِيْهَا الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ
"Sesungguhnya diantara tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan dikokohkannya kebodohan."
[HR Bukhari, Muslim; Syarah An Nawawi XVI: 221, Ahmad, Ibnu Majah]

Dari Abi Wail , berkata, 'Ketika aku duduk bersama Abu Musa dan Abdullah, mereka berdua berkata: Rasulullah  bersabda:
اِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ اَيَّامًا يُرْفَعُ فِيْهَا الْعِلْمٌ وَيَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيَكْثُرُ فِيْهَا الْهَرَجُ وَالْمَرَجُ
"Sebelum terjadi kiamat, terlebih dahulu diangkatlah ilmu dan muncullah kebodohan (di mana-mana), dan banyak terjadi pembunuhan."
[HR Bukhari, Muslim; Syarah An Nawawi XVI: 222]

Pengikut musyrikin dan Penyembah berhala pada ummat ini di akhir zaman
Nabi  bersabda,
وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي اْلأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي اْلأَُوْثَانَ
"Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas ummatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.. Jika diletakkan pedang pada ummatku, maka ia tidak dapat diangkat lagi hingga hari kiamat. Dan tidaklah datang hari kiamat kecuali setelah ada beberapa golongan ummatku yang mengikuti perilaku orang-orang musyrik, dan sehingga kabilah-kabilah dari ummatku ada yang menyembah berhala."
[HR Abu Dawud no 3710(kt)]

Bagaimana ilmu diangkat / lenyap ?
Rasulullah  bersabda:
اِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِ عُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بَقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَالاً، فَسُأِلُوْا فَأفْتَوا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabuti ilmu dengan cara mencabutnya dari dada seluruh manusia, tetapi dengan jalan mewafatkan para ulama. Apabila para ulama sudah habis, ummat manusia mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin mereka. Lalu mereka bertanya kepada pemimpin yang bodoh, Si pemimpin memberi fatwa tanpa ilmu, maka sesatlah mereka dan menyesatkan orang lain."
[HR Bukhari: Al 'ilm/100; Muslim: Syarah Nawawi/223-224; Ahmad: Fathur Rabbani/76; Shohih Ibnu Majah XLVI/1,15; dishahihkan oleh Al Albani]

Dari Ziyad bin Labid  berkata:
Nabi menyebutkan sesuatu lalu beliau bersabda, "Hal itu di saat lenyapnya ilmu."
Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana ilmu bisa lenyap padahal kami membaca Al Qur'an dan kami bacakan kepada anak cucu kami, dan mereka juga membacakannya kepada anak cucu mereka sampai hari kiamat ?"
Rasulullah bersabda, "Wahai Ibnu Ummi Labid, celaka kamu. Akan kutunjukkan kepadamu orang yang paling faqih di Madinah ini. Bukankah orang-orang Yahudi dan Nashrani membaca Taurat dan Injil namun mereka tidak mengambil sedikitpun manfaat daripadanya ?"
[HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, lihat Fathur Rabbani, I: 182]

Dari Abi Umamah Al Bahili , berkata:
Di saat haji wada' Rasulullah  bangkit, waktu itu beliau sedang membonceng Al Fadl bin Abbas di atas onta, lalu beliau bersabda,
"Wahai manusia ambillah ilmu sebelum dicabut, dan Allah 'Azza wa Jalla telah menurunkan ayat (Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menanyakan kepada nabimu hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di saat Al Qur'an sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan kamu tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun)."
Abi Umamah berkata, "Dahulu kami banyak bertanya kepada beliau, namun ketika Allah menurunkan (ayat tersebut) kepada NabiNya, kami jadi hati-hati terhadap hal ini. "
Selanjutnya Abi Umamah berkata, "Lalu kami datang kepada seorang Arab, kami beri dia sebuah selendang (dengan harapan ia mau bertanya kepada Nabi ), lalu selendang tersebut ia pakai untuk surban, sampai saya lihat ujungnya keluar dari alis kanannya. Lalu kami katakan kepadanya: "Bertanyalah kepada Nabi ."
Kemudian dia bertanya kepada beliau,
"Wahai Nabi bagaimana ilmu bisa dicabut dari kami padahal di tengah-tengah kami ada mushaf (Al Qur'an), kami telah mempelajarinya dan telah kami ajarkan pula kepada isteri-isteri kami, anak cucu kami dan kepada para pembantu kami ?"
Lalu Nabi  mengangkat kepalanya dan mukanya terlihat merah karena marah, lalu bersabda,
"Celaka kamu. Orang-orang Yahudi dan Nasrani di tengah-tengah mereka ada mushaf (Al Kitab), namun mereka tidak menginginkan satu huruf pun dari apa yang telah di bawa oleh nabi mereka. Ketahuilah bahwa diantara lenyapnya ilmu itu adalah karena kepergian pembawanya."
Ini beliau ucapkan tiga kali.
[HR Ahmad, lihat Fathur Robbani I: 183-184]

Dari Hudzaifah , ia berkata, Rasulullah  bersabda,
"Islam itu lenyap sebagaimana lenyapnya warna baju, sampai tidak diketahui apa itu puasa, apa itu sholat, kurban dan shodaqoh. Dan Kitabullah 'Azza wa Jalla di atas bumi ini tidak tersisa satu ayat pun dari padanya, yang ada hanyalah sekelompok orang-orang tua yang mengatakan, 'Kami mengetahui bapak-bapak kami di atas kalimat ini -Laa ilaaha illallah-, maka kami mengatakannya'."
Lalu Shilah berkata kepada Hudzaifah, "Apa yang diambil manfaat oleh mereka dari Laa ilaaha illallah, sedang mereka tidak mengetahui apa itu sholat, shoum, kurban shodaqoh ?"
Berpalinglah Hudzaifah darinya, kemudian menjawabnya tiga kali, yang semuanya dia jawab dalam keadaan berpaling, dan pada saat yang ketiga Hudzaifah menghadap kepadanya dan berkata, "Wahai Shilah, menyelamatkan mereka dari api neraka." tiga kali.
[HR Ibnu Majah, Al Fitan: 26; dishahihkan oleh Albani]

Diambilnya ilmu dari orang kecil/bodoh/ahlul bid’ah di akhir zaman
Dari Abi Umayyah al Jahmi , bahwa Rasulullah  bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ثَلاَثٌ إِحْدَاهُنَّ أَنْ يَلْتَمِسَ الْعِلْمَ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat itu ada 3, salah satunya ialah akan dituntutnya ilmu dari Al-Ashaghir (orang-orang kecil)."
[HR Ibnul Mubarok dlm Az Zuhd hal 20-21, Al Albani berkara: "Shahih" dlm Shahih Jami'us Shaghir 2:243 no 2203. Dan Al Hafizh Ibnu Hajar menjadikannya syahid dalam Fathul Bari I:143]


Dakwah Para Nabi

Perumpamaan dakwah Rosulullah
مَثَليِ وَمَثَلُكُمْ رَجُلٌ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الجَنَادِبَ والفَرَاشَ يَقَعْنَ فِيهَا، وَهُوَ يَذِبَّهُنَّ عَنْهَا وَاَنَا اَحِذٌ بِحَجْزِكُمْ عَننِ النَّارِ وأَنْتُمْ تُفَلِّتُونَ مِنْ يَدِىْ
"Perumpamaanku dan perumpamaanmu adalah seperti orang yang menyalakan api, lalu ada sejenis belalang dan kupu-kupu jatuh di dalamnya. Orang itu berusaha untuk mengeluarkan mereka darinya, lalu saya mengambil sesuatu yang merintangimu dari api itu dan kamu melepaskan diri dari tanganku."
[Shahih Muslim: 4/1790 no 2285]

اِنَّمَا مَثَلِى وَ مَثَلُ مَا بَعَثَنِىَ اللهُ بِهِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اَتَى قَوْمًا فَقَالَ: يَا قَوْمِ اْنِّى رَاَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَىَّ، وَإِنِّى اَنَاالنَّذِيرُو الغُرْيَانُ، فَالنَّجَاءُ النَّجّاء فَاطَاعَهُ طَاءِفَةٌ مِنْ قَوْمِهِ فَاَدْلَجُوا، فَانْطَلَقُوا عَلَى مَهْلِهِمْ فَنَجُّوا، وَكَذَبَتْ طَاءِفَةٌ مِنْهُمْ فَاَصْبَحُوا مَكَانَهُمْ فَصَبَّحُهُمُ الْجَيْشُ فَاَهْلَكُهُمْ وَاجْتَاحَهُمْ. فَذَا لِكَ مَثَلُ مَنْ اَطَاعَنِى فَاتَّبَعَ مَا جِعْتُ بِهِ. وَمَثَلُ مَنْ عَصَا نِى وَكَذَبَ بِمَا جِعْتُ بِهِ مِنَ الْحَقِّا
"Perumpamaanku dan perumpamaan apa-apa yang Allah mengutusku dengannya, adalah seperti seorang yang mendatangi suatu kaum, lalu ia berkata: 'Wahai kaumku sesungguhnya aku melihat pasukan musuh dengan mata kepalaku, dan sesungguhnya aku mengecam yang nyata, maka marilah menuju kepada keselamatan.'
Sebagian dari kaum itu mentaatinya, lalu mereka masuk pergi bersamanya, maka selamatlah mereka. Sebagian dari mereka mendustakannya, lalu mereka dihancurkan dan diluluhlantakkan.
Demikianlah perumpamaan orang-orang yang taat kepadaku dan mengikuti apa yang aku bawa, serta demikian pula perumpamaan orang yang durhaka kepadaku dan mendustakan kebenaran yang aku bawa."
[HR Bukhari, Muslim]


Asingnya ummat ini di akhir zaman

اِنَّ اْلاِسْلاَمَ بَدَأَغَرِيْبًا، وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءُ، قَالَ: وَمَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُوْلَ الله؟ قَال: اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ اِذَا فَسَدَ النَّاسِ
"Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap asing (aneh) dan akan datang kembali asing. Namun berbahagialah orang-orang asing itu." Para sahabat bertanya kepada Rasulullah , "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud orang asing (aneh) itu ?" Lalu Rasulullah menjawab, "Orang yang melakukan kebaikan-kebaikan di saat orang-orang melakukan pengrusakan."
[HR. Thabrani 7/278, Al Baihaqi no 200; sanad ?]

Dari Abdullah bin Amr al Ash , ia berkata, "Pada suatu hari Rasulullah  berkata ketika kami sedang berada di sisi beliau, beliau bersabda, (dalam hadits yang panjang)
طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ نَاسٌ صَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ
"Kebahagiaanlah bagi orang-orang yang asing. Kebahagiaanlah bagi orang-orang yang asing. Kebahagiaanlah bagi orang-orang yang asing.“
Ada yang bertanya, "Siapa orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah ?"
Beliau menjawab, "Orang-orang yang baik di tengah orang-orang yang buruk, banyak yang mendurhakainya, bahkan lebih banyak daripada orang-orang yang mentaatinya."
[HR Ahmad: 2/177, 2/222, Ath Thabrani: 10/259, Al Baihaqi hadits no 205 hal 148]


Menggenggam Bara Api di Akhir Zaman

عَنْ أَبِي أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيِّ قَالَ أَتَيْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ فَقُلْتُ لَهُ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهَذِهِ اْلآيَةِ قَالَ أَيَّةُ آيَةٍ قُلْتُ قَوْلُهُ تَعَالَى (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ) قَالَ أَمَا وَاللهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلِ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعِ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلاً يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ وَزَادَنِي غَيْرُ عُتْبَةَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ قَالَ بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Dari Abu Umayyah asy Sya’bani, ia berkata: “Saya mendatangi Abu Tsa’labah al Khusyani, lalu aku bertanya padanya: ‘Bagaimana sikapmu dengan ayat ini ?’ Ia menjawab: ‘Ayat yang mana ?’ Saya katakan, ‘firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman ! Peliharalah olehmu akan dirimu, tidaklah kamu mendapat bahaya dari orang-orang yang sesat apabila kamu telah mendapat petunjuk.”
Ia menjawab, ‘Ketahuilah, demi Allah kamu bertanya pada orang yang akan mengkhabarkan tentang ayat tersebut. Aku pernah tanyakan tentang ayat tersebut pada Rasulullah , lalu beliau menjawab:
“Bahkan (pengertiannya) Hendaklah kamu beramar ma’ruf nahi mungkar, hingga apabila kamu ketahui sifat sangat bakhil ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, agama yang telah terpengaruh dunia dan kekaguman orang terhadap pendapatnya sendiri. Maka peliharalah dirimu dan tinggalkan orang banyak (yang telah menyimpang itu). Karena sesungguhnya ada hari-hari di belakangmu menunggumu. Kesabaran pada hari-hari itu, seperti halnya orang yang menggenggam bara api. Orang yang beramal (menurut sunnahku) pada hari itu ganjarannya seperti pahala lima puluh orang yang mengerjakan seperti amalmu ini.”
Ibnul Mubarak berkata: ‘Dan selain itu ‘Utbah menambahkan: ‘Ditanyakan: Wahai Rasulullah ! Pahala lima puluh orang dari kalangan kami, ataukah dari mereka ?”
Beliau menjawab: “Bahkan lima puluh orang dari kalian !”
[HR Tirmidzi no 3058, 2984(kt); Tirmidzi berkata: “hasan gharib”, dishahihkan oleh Ibnu Hibban]

قَلِيلٍ الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ أَوْ قَالَ عَلَى الشَّوْكِ
Orang yang berpegang teguh pada agamanya pada hari itu, seperti orang yang menggenggam bara api.
[HR Ahmad no 8711(kt); Di dalam sanadnya ada Ibnu Luhi’ah yang buruk hapalannya]


Fitnah


Berbagai fitnah akan menimpa
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلاَءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku melainkan pasti dia tunjukkan ummatnya kepada sesuatu yang paling baik yang diketahuinya dan diingatkannya mereka akan sesuatu yang buruk yang diketahuinya.
Dan sesungguhnya ummatmu ini (Islam) telah dijadikan keselamatannya pada angkatan pertamanya, dan generasi belakangan akan ditimpa bala bencana dan perkara-perkara yang kamu ingkari, dan akan timbul fitnah hingga yang sebagian merusak sebagian yang lain.
Kemudian akan datang lagi fitnah, lantas orang mukmin berkata, “Ini .... Ini ...!” Maka, barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga, maka hendaklah dia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir.”
[HR Muslim no 3431(ks) Kitabul Imarah]

Pagi beriman sore kafir
Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda,
بَادِرُوا بِاْلأَُعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah melakukan amal shalih sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pagi-pagi seseorang masih beriman, tetapi pada sore harinya sudah menjadi kafir. Pada sore hari seseorang masih beriman, kemudian pada pagi harinya sudah menjadi kafir. Dia menjual agamanya untuk memperoleh kekayaan dunia.” [HR Muslim no 169]

Ditimpa kehinaan sampai kembali kepada agama
Dari Ibnu Umar , Rasulullah  bersabda,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Apabila kalian sudah berjual beli dengan ‘iinah* dan kalian telah sibuk memegang ekor-ekor sapi dan kalian telah sibuk dengan bercocok tanam, dan kalian tinggalkan jihad, niscaya Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang Dia tidak akan mencabut kehinaan tersebut hingga kamu kembali kepada agamamu.”
[HR Abu Dawud: 3/740]

Rasulullah  bersabda,
إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ فَلَمْ يَسْمَعْهُ كَثْيْرٌ مِّنَ النَّاسِ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَل: أَلاَ تَسْمَعُوْنَ مَا يَقُوْلُ رَسُوْلُاللهِ فَقَالُوْا: مَاقَالَ ؟ قَالَ: إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ قَالُوْا: فَكَيْفَ لَنَا يَارَسُوْلُاللهِ، قَال: تَرْجِعُوْنَ إِلَى أَمْرَكُمُ اْلاَوَّل
"Sesungguhnya akan terjadi fitnah"
Akan tetapi (sabda beliau) tidak terdengar kebanyakan manusia (yakni para shahabat). Lalu Muadz bin Jabal mengatakan (kepada mereka): "Apakah kamu tidak mendengar apa yang disabdakan Rasulullah  ?"
Mereka bertanya, "Apakah yang disabdakan (Rasulullah ) ?"
Rasulullah bersabda "Sesungguhnya akan terjadi fitnah."
Mereka bertanya, "Bagaimana dengan kami ya Rasulullah ? Dan apa yang harus kami perbuat ?"
Rasulullah  menjawab kembali, "Kembalilah kalian kepada urusan (dien) yang pertama kali."
[HR Thabrani dlm Mu'jam al Kabir no 3307 dan Mu'jam al Ausath no 4452; Shahih]


Beberapa kejahatan di akhir zaman
حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Dari Hudzaifah Ibnu Al Yamani , katanya: "Biasanya orang banyak bertanya kepada Rasulullah . tentang kebajikan. Tetapi aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena takut kejahatan itu menimpaku."
Lalu aku bertanya, "Ya Rasulullah ! Kami dahulu berada dalam kejahilan dan kejahatan. Karena itu Allah Ta'ala menurunkan kebaikan (agama) ini kepada kami. Mungkinkah sesudah ini timbul lagi kejahatan ?"
Jawab Rasulullah , "Tentu !"
Tanyaku: "Sesudah itu mungkin pulalah datang lagi kebaikan ?"
Jawab Nabi , "Ya, tetapi sudah cacat !"
Tanyaku: "Apakah cacatnya ?"
Jawab Nabi , "Suatu kaum membuat peraturan di luar sunnahku dan memimpin tanpa hidayahku. Engkau mengerti tentang kebijaksanaan mereka dan tidak menyukainya."
Tanyaku: "Sesudah kebaikan itu, timbul lagikah kejahatan ?"
Jawab Nabi , "Ada. Yaitu orang-orang yang memanggil-manggil di pintu neraka, lalu siapa yang memenuhi panggilanya dilemparkannya ke dalam neraka itu."
Tanyaku: "Ya Rasulullah ! Tunjukkanlah kepada kami ciri-ciri mereka !"
Jawab Nabi , "Baik ! Yaitu orang-orang yang kulitnya sama dengan kita (mengaku beragama Islam) dan mereka berbicara memakai lidah (hadis) kami."
Tanyaku: "Bagaimana petunjuk Anda seandainya aku menemui hal yang demikian ?"
Jawab Nabi , "Tetaplah kamu bersama jama'ah kaum muslimin dan Imam (pemimpin atau pembesar) mereka !"
Tanyaku, "Jika tidak ada jama'ah dan Imam ?"
Jawab beliau, "Tinggalkanlah firqah-firqah itu semuanya, sekalipun dengan menggigit akar pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu.."
[HR Bukhari: 6/615-616, 13/35, Muslim: 12/135-238, Ibnu Majah no 3979, 3981, Al Hakim: 4/432, Abu Dawud no 4244-4247, Ahmad: 5/386-387 dan hal 403-404, 391-399]

5 musibah dan penyebabnya
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ إِلاَّ جَعَلَ اللهُبَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
Dari Abdullah bin Umar , Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada kami lalu beliau bersabda,
“Wahai orang-orang Muhajirin ! Ada lima hal kalian akan diuji dengannya -dan aku berlindung kepada Allah agar kalian (para shahabat) terhindar darinya-:
Tidaklah suatu kaum melakukan perbuatan keji secara terang-terangan melainkan akan ditimpakan kepada mereka wabah penyakit dan sakit perut (kelamin) yang tidak pernah ada pada kaum terdahulu.
Dan tidaklah suatu kaum (melakukan kecurangan dengan) mengurangi ukuran dan timbangan, melainkan akan ditimpakan kepada mereka bencana kemiskinan, tingginya harga-harga dan jahatnya para penguasa,
Dan tidaklah suatu kaum menahan zakat harta mereka, melainkan akan ditahan hujan dari langit. Kalau saja bukan karena binatang-binatang (yang ada di bumi), tentulah hujan itu tidak akan diturunkan.
Dan tidaklah suatu kaum menyalahi janji Allah dan RasulNya, melainkan mereka akan dikuasai musuh mereka yang akan mengambil sebagian milik mereka.
Dan tidaklah para pemimpin mereka berhukum dengan kitab Allah dan menyuruh memilih apa yang diturunkan Allah kecuali Allah menjadikan pertentangan di antara mereka".
[HR Ibnu Majah bab fitnah no 4009(kt); perawi-perawinya tsiqah (pen)]

Kembalinya kesyirikan
Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda,
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِّبَ آلِيَاتْ نِسَاءِ دَوْسٍ خَوْلَذِى الخَلَصَةِ
"Tidak akan terjadi kiamat sehingga wanita-wanita tua suku Daus berputar-putar mengelilingi Dzil Khalashah"
[HR Bukhari: 13/76 no 7116; Muslim: 18/32-33]
[Ket: Dzul Khalashah ialah tempat berhala suku Daus yang mereka sembah pada jaman jahiliyah]

Rasulullah  bersabda,
لاَ يَدذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزّى
"Tidak akan lenyap malam dan siang (terjadi kiamat), sehingga Latta dan Uzza disembah kembali."
[HR Muslim: 18/33]

Mengikuti Yahudi dan Nasrani

Rasululllah  bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا ذِرَاعًا حَتَّى لَوْدَخَلُوْاجُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ ؟
"Niscaya kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalaupun mereka memasuki lubang biawak, tentu kamu akan mengikuti mereka pula."
Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani-kah mereka ?"
Beliau menjawab, "Siapa lagi ?"
[Shahih Bukhari: 13/300, Muslim: 4/2054 no 2669]

Menzinai ibu secara terang-terangan dan berita perpecahan pada ummat Islam
Rasulullah  bersabda:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِى كَمَا أَتَىعَلَى بَنِى إِسْرَآئِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمُّهُ عَلَى نِيَةً لَكَانَ فِى أُمَّتِى مَنْ يَصْنَعُوْ ذلِكَ، وَإِنَّ بَنِى إِسْرَآئِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوْا مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى
"Sungguh akan menimpa umatku sebagaimana apa yang telah menimpa Bani Israil, persis seperti sandal jika dipadukan dengan yang lain, sampai-sampai jika di antara mereka ada yang menzinai ibunya terang terangan, tentu di antara umatku pun akan ada yang berbuat serupa.
Sesungguhnya Bani Israil telah pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan ummatku akan pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu."
Shahabat bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulullah ?"
Nabi menjawab, "Yaitu apa-apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya."
[HR Tirmidzi; hadits HASAN. Lihat Shahih al Jami': 5343]


Larangan Tasyabbuh bil Kuffar

إِنَّالْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبَغُوْنَ فَخَالِفُوْهُمْ
"Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak beragama. Maka bertentanganlah dengan mereka."
[Shahih Bukhari: 6/496 no 3462, Muslim: 3/1663 no 2103]

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
"Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain golongan kami."
[Sunan At Tirmidzi: 7/335 no 2696; dihasankan oleh Syaikh Al Albani]

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka."
[Sunan Abu Dawud: 4/314 no 4031, Ahmad: 7/142 no 5114; sanadnya shahih]

Berita tentang Iftiroqul (perpecahan) Ummat

Rasulullah  bersabda,
سَأَلْتُ رَبِّي ثَلاَثًا فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً سَأَلْتُ رَبِّي أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا
"Aku memohon kepada Tuhanku tiga perkara. Dia memperkenankan dua perkara dan menolak satu perkara. Aku memohon kepada Tuhanku supaya jangan membinasakan ummatku dengan musim susah yang panjang, maka diperkenankan. Aku memohon supaya ummatku jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang melanda ummat Nabi Nuh, atau seperti tentara dan Raja Fir'aun yang ditenggelamkan di lautan), permohonanku itu diperkenankanNya juga. Aku memohon supaya ummatku jangan dibinasakan karena pertentangan sesama mereka. Permohonan ini tidak diperkenankan."
[HR Muslim hadits no 5145(kt)]

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ زَوَى لِيَ اْلاَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِيَ اْلاَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ اْلاَحْمَرَ وَاْلاَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لاَ يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلاَ يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ لِي يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ وَلاَ أُهْلِكُهُمْ بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلاَ أُسَلِّطُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَلَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِ أَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَحَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يَسْبِي بَعْضًا
وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي اْلاَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي اْلاَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلاَثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَلاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ قَالَ ابْنُ عِيسَى ظَاهِرِينَ ثُمَّ اتَّفَقَا لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ
Dari Tsauban , Rasulullah  bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah membentangkan bumi kepadaku sehingga aku dapat melihat belahan timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai belahan bumi yang telah dibentangkan kepadaku itu. Dan aku diberi dua perbendaharaan simpanan: Merah dan Putih (Persia dan Romawi).
Aku meminta kepada Rabbku untuk ummatku agar mereka jangan dibinasakan dengan paceklik yang berkepanjangan, dan jangan dikuasakan kepada musuh selain dari kaum mereka sendiri sehingga musuh itu nantinya akan merampas seluruh negeri mereka. Lalu Rabbku berfirman:
“Wahai Muhammad ! Bila aku telah menetapkan sesuatu, maka ketetapan itu tidak akan diubah lagi. Dan sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu untuk ummatmu bahwa Aku tidak akan membinasakan mereka dengan paceklik yang berkepanjangan, dan tidak akan menjadikan seorang musuh berkuasa atas mereka selain dari kaum mereka sendiri, maka nantinya musuh itu tidak akan dapat merampas seluruh negeri mereka sekalipun manusia yang ada di seluruh belahan bumi berkumpul menghadapi mereka, sampai (ummatmu itu sendiri) sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain.”
Dan sesungguhnya yang aku khawatirkan atas ummatku adalah para pemimpin yang menyesatkan. Apabila pedang telah diletakkan pada ummatku, maka ia tidak akan diangkat lagi hingga hari kiamat. Dan tidak akan datang kiamat itu sehingga beberapa kabilah dari ummatku mengikuti tingkah laku kaum musyrik, dan sehingga ada beberapa kabilah dari ummatku yang menyembah berhala-berhala.
Dan sesungguhnya akan ada di antara ummatku tiga puluh pendusta yang semua mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi yang tidak ada nabi lagi sesudahku.
Senantiasa ada dari ummatku suatu kelompok yang tegak membela al-haq dan mendapat pertolongan (dari Allah), tidak menggoyahkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah.”
[HR Abu Daud, Syarah Sunan Abu Daud: 11/322-324; Tirmidzi, Syarah Jami' Tirmidzi: 6/466; hadits ini Lafadz Abu Dawud yang diriwayatkan Al Barqani dalam shahihnya; Tirmidzi berkata, "Ini adalah hadits shahih" dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin al Albani dlm Shahih Al Jami' Ash Shaghir: 6/174 no 7295]

Nabi  bersabda:
إِنَّ اَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوْا فِى دِيْنِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً. وَإِنَّ هذِهِ اْلاُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةً وَهُيَ الْجَمَاعَةُ
"Sesunggguhnya ahli kitab berpecah dalam diennya menjadi 72 golongan, sedangkan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya neraka kecuali satu, yaitu al Jamaah."
[Hadits shahih Abu Dawud II/503-504, Ad Darimi II/241, Ahmad IV/102, Hakim I/128. Dan Shahih Al Albani dalam Silsilah Shahih No 206]

Dari Mu'awiyah , Rasulullah  bersabda,
إِنَّ أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ إِفْتَرَقُوْا فِى دِيْنِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هذِهِ اْلأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً -يَعْنِى اْلأَهْوَآءُ- كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةٌ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَأَنَّهُ سَيَخْرُجُ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ تَجَارَىبِهِمْ تِلْكَ اْلأََهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلِبُ بِصَاحِبِهِ، لاَيَبْقَىمِنْهُ عَرَقٌ وَلاَ مِفْصَلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ. وَاللهِ يَامَعْشَرَالْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُوْمُوا بِمَاجَاءَبِهِ نَبِيُّكُمْ لِغُيْرُوْكُمْ مِنَ النَّاسِ اَخْرَى أَنْ لاَيَقُوْمَ بِهِ
"Kedua golongan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah belah menjadi 72 millah, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah belah menjadi 73 millah, yakni al Ahwa. Semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu al Jama'ah.
Dan akan lahir pada ummatku, orang-orang yang pada diri mereka berlangsung hawa-hawa nafsu itu seperti berlangsungnya penyakit rabies pada penderitanya. Tidak ada aurat dan persendian yang tidak dimasukinya.
Demi Allah, wahai bangsa Arab ! Jika kalian tidak menegakkan ajaran Nabi kalian, niscaya bangsa lain selain kalian lebih pantas untuk tidak menegakkannya."
[HR Abu Dawud, Al Hakim, dll; dishahihkan Al-Hakim, Adz Dzahabi, al Iraqi, Ibnu Hajar, Ibnu Taimiyah, dan Nashiruddin al Albani]

Dari Auf bin Malik , Rasulullah  bersabda:
كَيْفَ أَنْتَ يَا عَوْفُ إِذَاافْتَرَقَتْ هذِهِ اْلأُمَّةُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِىالْجَنَّةِ وَسَائِرُهُنَّ فِىالنَّرِ؟ قُلْتُ: وَمَتَى ذلِكَ يَا رَسُوْلُاللهِ ؟ قَالَ: إِذَا كَثُرَتِ الشُّرَطُ وَمَلَكَتِ اْلاِمَاءُ وَقَعَدَتِ الْحَمْلاَنُ عَلَى الْمَنَابِرَ وَتَّخِذَ الْقُرْآنُ مَزَامِيْرَ وَزُخْرِفَتِ الْمَسَاجِدُ وَرُفِعَتْ الْمَنَابِرُ
"Bagaimana engkau hai Auf, jika ummat ini pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, hanya satu yang masuk surga sedang yang lain masuk neraka ?"
Saya bertanya, "Kapan itu ya Rasulullah ?"
Beliau menjawab, "Jika para budak wanita menjadi kaya, penguasa yang zalim duduk di atas mimbar, dan jika Al Qur'an dijadikan seruling, masjid-masjid dihiasi dan mimbar-mimbar ditinggikan." [HR Thabrani]


Keutamaan Salafus sholeh

Siapakah generasi terbaik ?
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ فَلاَ أَدْرِي فِي الثَّالِثَةِ أَوْ فِي الرَّابِعَةِ قَالَ ثُمَّ يَتَخَلَّفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ *
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in). Sesudah itu akan datang suatu kaum yang persaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”
[HR Bukhari: IV/189, Muslim: VII/184-185, Ahmad: I/424 dll]

Bintang-bintang di langit
Dari Abu Musa al Asy’ari , dalam hadits yang panjang, bahwa Rasulullah menengadahkan wajahnya ke langit dan lama sekali beliau dalam keadaan demikian, lalu bersabda,
النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ
“Bintang-bintang itu adalah pengaman bagi langit. Apabila bintang-bintang itu sirna, maka kehancuran akan menimpanya. Dan aku adalah pengaman bagi para shahabatku. Apabila mereka telah pergi maka akan datang sesuatu yang telah dijanjikan kepada ummatku.”
[HR Muslim no 4596(kt), Ahmad no 18745(kt)]



Kehidupan Dunia

Kekhawatiran Rosulullah akan ummat Islam
Dari Amr bin Auf al Anshory  dlm hadits yang panjang, Rasulullah  bersabda,
فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ
"Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang saya khawatirkan atas kalian, tetapi saya khawatir terhampar luas bagi kalian dunia ini, sebagaimana telah terhampar pada orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba sehingga membinasakan kalian, sebagaimana telah membinasakan mereka "
[HR Bukhari no 5945, Muslim]

Dari Abu Said al Khudri  berkata, 'Rasulullah duduk di atas mimbar dan kita duduk di sekitarnya, kemudian Rasulullah  bersabda,
إِنِّي مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا
"Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan atas kalian sepeninggalku nanti, ialah terbuka lebarnya kemewahan dan keindahan dunia ini kepada kalian."
[HR Bukhari no 1272, Muslim]

Salah satu fitnah pada ummat ini
Dari Ka'ab bin Ijadh  berkata, 'Saya mendengar Rasulullah  bersabda,
ُ إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
"Tiap ummat mempunyai cobaan dan ujian sendiri-sendiri. Dan fitnah cobaan ummatku ialah kekayaan harta."
[HR Tirmidzi no 2258]

Penyakit al wahn
يُوْ شِكُ اْلأُمَمُ أَنْ تَدَاعى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَلَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ وَلكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاء السَّيْل وَلَينْز عَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْر عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِى قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
Rasulullah  bersabda, "Sebentar lagi akan muncul ummat-ummat yang berkerumun (memperebutkan) kalian seperti berkerumunnya orang-orang yang makan pada piringnya."
Maka seseorang bertanya, "Apakah karena sedikitnya kami pada saat itu ?"
Rasulullah  menjawab, "Bahkan jumlah kalian banyak, akan tetapi kalian adalah buih seperti buih ombak. Dan sungguh-sungguh Allah akan mencabut rasa gentar di hati musuh-musuh kalian, kemudian Allah benar-benar akan melemparkan ke hati-hati kalian sifat Wahn."
Maka bertanya seseorang, "Wahai Rasulullah, apakah Wahn itu ?"
Rasulullah menjawab, "Cinta dunia dan takut kematian"
[HR Abu Dawud; dishahihkan oleh Syaikh al Albani, Lihat Ash Shahihah: 958]

Hati-hati terhadap godaan dunia dan wanita
Dari Abu Said al Khudri , berkata, Rasulullah  bersabda,
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
"Sesungguhnya dunia ini indah dan manis. Dan Allah akan menyerahkannya kepada kalian, melihat bagaimana kamu berbuat padanya. Maka berhati-hatilah kamu dari godaan dunia, dan hati-hatilah kamu dari godaan wanita. Sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada wanita"
[HR Muslim no 4925]

Perumpamaan dunia
Dari Sahl bin Sa'ad as Sa'idy  berkata, Rasulullah  bersabda,
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
"Andaikata dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk, maka tidak akan diberikan kepada orang kafir walau seteguk air."
[HR Tirmidzi no 2242]

Dari Abu Hurairah  berkata, Rasulullah  bersabda,
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
"Dunia ini bagaikan penjara bagi orang-orang mukmin dan sebagai sorga bagi orang kafir."
[HR Muslim no 5256]

Dari Mustaurid bin Syaddad  berkata, Rasulullah  bersabda,
مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
"Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akherat, kecuali seperti seorang yang memasukkan jarinya dalam samudra maka perhatikan berapa yang didapatnya."
[HR Muslim no 5101]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Dari Jabir bin Abdullah , bahwa Nabi  berjalan melewati pasar, sedang para shahabat kebetulan ada di sekitar tempat itu, lalu beliau melihat seekor anak kambing bertelinga satu yang telah mati. Maka beliau pegang anak kambing itu hingga terangkatlah seluruh badannya seraya bersabda,
“Siapakah di antara kalian semua yang bersedia membeli ini satu dirham ?”
Mereka serentak menjawab, ‘Kami sama sekali tidak berminat membelinya dengan harga berapa pun.”
Nabi berkata, “Apakah kalian mau jika ini kuberikan secara cuma-cuma kepada kalian ?”
Mereka menyahut, “Demi Allah, sekiranya anak kambing ini hidup, niscaya ia cacat, karena bertelinga satu, apalagi ia mati.”
Nabi  bersabda, “Demi Allah. Sesungguhnya dunia seisinya lebih hina dalam pandangan Allah daripada kambing ini menurut pandangan kalian.” [HR Muslim]

Dunia ini terkutuk, kecuali…
Dari Abu Hurairah , ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah  bersabda,
الدَّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيْهَا، إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى وَمَا وَالاَهُ، وَعَالِمًا أَوْمُتَعَلّمًا
"Ingatlah, bahwa dunia ini terkutuk, dan semua yang ada di dalamnya juga terkutuk kecuali dzikrullah dan segala yang serupa atau sederajat dengan itu, dan orang alim yang mengerti dan orang yang belajar."
[HR Tirmidzi, dlm Riyadhus Shalihin oleh An Nawawi]

Jadilah bagaikan orang asing atau perantau
Abdullah bin Umar  berkata, 'Rasulullah  memegang bahuku sambil bersabda,
كُنْ فِى الدُّنْيَا مَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
"Jadilah engkau di dunia ini bagaikan orang asing (gharib) atau orang rantau."
Ibn Umar berkata, 'Jika engkau berada di waktu sore, maka jangan harapkan akan hidup sampai pagi, dan jika kamu berada di waktu pagi jangan menantikan sore. Pergunakanlah masa sehat itu untuk berbekal pada masa sakit, dan masa hidup itu untuk berbekal buat mati.'
[HR Bukhari]

Utamakanlah sesuatu yang kekal atas apa yang akan sirna
Dari Abu Musa al Asy’ari , Rasulullah  bersabda,
عَن أَبِي مُوسَى اْلأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  قَالَ مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى
“Barangsiapa yang lebih mencintai dunianya, maka akan membahayakan akhiratnya. Dan barangsiapa yang lebih mencintai akhiratnya maka menyia-nyiakan dunianya. Maka utamakanlah sesuatu yang kekal atas apa yang akan sirna.”
[HR Ahmad hadits no 18866(kt)]

Zuhud (tidak rakus dunia) Sebagian Dari Iman
البَدَاذَةُ مِنَ اْلاِيْمَانِ. يَعْنِى التَّقَشُّفَ
"Zuhud (kesederhanaan) sebagian dari iman. Yakni kehidupan yang meninggalkan kesenangan dunia"
[HR Ibnu Majah no 4118; Silsilah Hadits Shohih no 341]

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ  رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ  ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ *
Dari Sahl bin Sa’ad as Sa’idi  berkata, ‘Datang kepada Rasulullah  dan berkata, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal yang jika aku lakukan, maka aku dicintai oleh Allah dan manusia.”
Nabi menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan cinta kepadamu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.”
[HR Ibnu Majah no 4092 (kt); hasan]


Maut (Kematian)

Orang yang sempurna akalnya
Dari Abu Ya'la (Syaddad) bin Aus , berkata, Rasulullah  bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
"Seorang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya, dan mempersiapkan amal sebagai bekal untuk mati. Dan orang yang rendah yaitu yang selalu menurutkan hawa nafsunya, di samping itu mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah."
[HR Tirmidzi, Terjemah riyadhus shalihin hal 92]

Perbanyak mengingat penghancur segala kelezatan
Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda,
أَكْثِرُوْا ذِكْرَهَا زِمِ اللَّذَّتِ يَعْنِى الْمَوْتَ
“Perbanyaklah kalian mengingat kejadian yang akan menghancurkan segala kelezatan, yakni kematian.”
[HR Tirmidzi, Nasa'I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban; Riyadhus Shalihin, Minhajul Qashidin]

Banyaknya kematian mendadak di akhir zaman
Rasulullah  bersabda,
مِنْ أَمَارَاتِ لسَّاعَةِ ... أَنْ يَظَهَرَالْمَوْتُ الْفُجْأَةِ
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah ... banyak terjadi kematian secara mendadak.”
[HR Thabrani; hadits hasan, Shahih Jami’us Shaghir: 5/214 hadits no 5775]


عَنْ أَنَسٍ قَالَ خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطُوطًا فَقَالَ هَذَا اْلأَُمَلُ وَهَذَا أَجَلُهُ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَهُ الْخَطُّ اْلأَُقْرَبُ *
Dari Anas bin Malik , dia berkata, Nabi  menggaris beberapa garis, lalu bersabda,
“Ini angan-angan manusia dan ini ajalnya, maka dia berada di antaranya tatkala datang garis itu (kematian) mendekat.”
[HR Bukhari no 5939 (kt)]


عَنْ عَبْدِاللهِ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا اْللإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ اْلأَُعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا
Dari Abdullah bin Mas’ud , Rasulullah  menggambar segi empat, dan membuat garis lurus di tengahnya memanjang hingga ke luar segi empat tsb. Dan membuat garis-garis kecil di bawah garis tengah tadi.
Lalu beliau bersabda, “Ini manusia dan ini adalah ajalnya ........ Dan garis panjang yang keluar dari batas itu adalah angan angannya, dan garis-garis kecil itu ialah rintangan-rintangan yang dihadapi manusia. Maka apabila dia selamat dari yang satu, akan terkena yang lain.”
[HR Bukhari no 5928 (kt)]

Alam Kubur

Jika tidak lolos di alam kubur
Dari Hani' (sahaya Utsman)  dia berkata, 'Sesungguhnya bila Utsman melewati suatu pemakaman, maka dia berhenti sejenak dan berurailah air matanya hingga membasahi jenggotnya. Lalu dia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah  bersabda,
مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا إِلاَّ وَالْقَبْرَ أَفْظَعُ مِنْه
"Aku tidak melihat pemandangan yang paling buruk melebihi tempat pemakaman." Dan aku juga mendengar Rasulullah  bersabda:
القَبْرُ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ, فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أيْسَرَ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَعْظَمُ
"Sesungguhnya pemakaman adalah kediaman pertama dari beberapa kediaman akherat. Jika seseorang lolos darinya, maka apa yang akan dialaminya setelah itu adalah mudah. Tetapi jika tidak lolos, maka apa yang akan dihadapi bakal menjadi semakin sulit."
[HR Ibnu Majah, Tirmidzi; sanadnya HASAN]

Siksa kubur
Dari Asma' , ia berkata 'Sesungguhnya Rasulullah  berdiri dan menyampaikan khutbah, lalu Rasulullah menyebutkan siksa kubur yang dirasakan oleh seseorang. Maka ketika itu, ummat Islam merasa sangat takut sekali."
[HR Bukhari dlm Kitab al-Janaiz bab Siksa Kubur hadits no 1373]

Abu Ayyub , berkata: "Rasulullah  keluar dari rumahnya pada saat matahari telah terbenam, lalu beliau mendengar suara. Maka beliau bersabda: "Orang-orang Yahudi disiksa dalam kuburnya."
[Ibid, hadits no 1375; dan bab Sorga, hadits no 69]

Hadits dari Abu Hurairah  yang mengatakan bahwa Rasulullah  berdoa:
"Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, siksa neraka dan fitnah dalam hidup dan mati serta dari fitnah Dajjal."
[HR Bukhari no 1377; Muslim dlm bab Masjid no 131]

Dari Abdullah bin Abbas , dia berkata, 'Rasulullah  melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
إِنَّهُمَّ لَيُعَذَّبَانِ وَمَايُعُذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ
"Sesungguhnya kedua orang tersebut disiksa. Dan keduanya adalah disiksa bukan karena dosa besar."
Kemudian beliau berkata lagi,
بَلَى أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسَعْىَ بِنَمِمَةٍ وَأَمَا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَستَخِرُ مِنْ بَوْلِهِ
"Benar ! Keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Adapun salah satu orang tersebut adalah karena sering mengadu domba, sedang yang satunya lagi adalah dia tidak bersuci dari buang air kecil."
Ibnu Abbas berkata: 'Kemudian Rasulullah  mengambil pelepah kurma yang basah dan dibelahnya menjadi dua, lalu beliau menancapkan salah satunya di satu kuburan dan yang lain ditancapkan di atas kuburan yang kedua. Kemudian beliau bersabda,
"Semoga keduanya diringankan siksanya selama kedua kayu ini belum kering."
[HR Bukhari dlm bab Siksa Kubur no 1378; Muslim dlm bab Iman no 11; Ahmad: I/225 dan V:35; Abu Dawud no 20; Nasa'i I/28-30; Shahih Al Jami' Al Bani no 2436-2437]

Dari Jabir , ia berkata, 'Rasulullah  melintasi kuburan para wanita dari kabilah Bani Najjar yang telah meninggal pada masa jahiliyyah. Maka Rasulullah mendengar mereka merintih karena disiksa dalam kubur karena mengadu domba.'
[HR Ahmad dan Thabrani (Majmu' Az Zawaid: III/55); SHAHIH]

Dari Aisyah , Rasulullah  bersabda:
يُرْسَلَ عَلَى الْكَافِرِ حَّتَيَانِ وَاحِدَةٌ مِنْ قِبَلَ رَأْسِهِ وَلأُِخْرَى مِنْ قِبَلَ رِجْلَيْهِ يَقْرُ صَانِهِ قَرْصًا كُلَّمَا فَرَغَتَا عَادَتَا اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Dikirimkan kepada orang kafir dua ular. Satu ular dari arah kepalanya dan yang lain dari arah kedua kakinya. Kedua ular tersebut menggerogotinya sampai habis. Dan setiap selesai dan pulih kembali, maka kedua ular tersebut kembali menggerogotinya, (Dan begitulah) sampai hari kiamat."
[HR Ahmad dlm Majmu' Az Zawaid: III/55; HASAN]

Dari Aisyah  berkata bahwa Rasulullah  bersabda,
"Himpitan kubur terhadap orang mukmin adalah bagaikan himpitan seorang ibu yang sangat sayang terhadap anaknya karena anaknya mengadu kepadanya ketika sakit kepala. Maka ibu akan menyentuh kepala anaknya dengan perlahan-lahan. Tapi wahai Aisyah, betapa celakanya orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Sebab, mereka itu digencet dalam kuburnya, seperti gencetan batu besar terhadap telur."
[HR Baihaqi, Ibnu Mandah, Ibnu An Najjar dalam Syarh as Shudur oleh As Suyuthi hal 150]

Dari Abdullah bin Umar , Nabi  bersabda,
"Ini adalah orang yang Arsy bergetar karenanya dan pintu-pintu langit dibuka kepadanya serta tujuh puluh ribu malaikat menyaksikan kepadanya. Sungguh, dia dihimpit oleh kubur, lalu kubur direnggangkan darinya."
Dia adalah Sa'ad bin Mu'adz
[HR Tirmidzi IV/2933, Ahmad: III/126 dan Abu Dawud: 4753]

Andaikata kita mengetahui apa yang diketahui Rosulullah
Dari Aisyah , berkata 'Pada suatu siang hari Rasulullah  keluar dari rumahnya dengan menyingsingkan bajunya dan kedua matanya merah warnanya dan beliau memanggil para sahabat dengan suaranya yang sangat lantang:
اَيُّهَا النَّاسُ اُظُلَّتْكُمُ الفِتَنُ كَقِتَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ اَيُّهَاالنَّاسُ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا اَعْلَمُ لَظَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا اَيُّهَاالنَّاسُ اسْتَعِيْذُوا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَاِنَّ عَذَابِ الْقَبْرِ حَقٌّ
"Wahai manusia, kalian telah dilingkari dengan beberapa fitnah seperti malam yang sangat kelam. Wahai manusia, jika kalian mengetahui apa yang saya ketahui, maka kalian akan ketahui, kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Wahai manusia, mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur. Sungguh siksa kubur adalah benar."
[HR Ahmad: VI/81; dan Haitsami berkata: "Para perawi Ahmad adalah shahih." (Majmu' Az Zawaid: III/55)]

Orang meninggal mampu mendengarkan suara
Dari Umar bin Khatthab , ia berkata 'Sesungguhnya Rasulullah  kemarin memberitahukan kepada kami tempat terbunuhnya orang-orang kafir dalam perang Badar dengan mengatakan:
"Ini adalah tempat terbunuhnya si fulan, si fulan pada besok hari, insya Allah."
Umar ra berkata, 'Demi Allah, mereka tidak akan lepas seperti yang dikatakan Rasulullah.'
Lalu Rasulullah  pergi ke tempat di mana mereka dimakamkan. Dan, ketika beliau sampai di tempat mereka, Rasulullah  bersabda:
"Hai Fulan bin Fulan ! Hai Fulan bin Fulan !
Apakah kamu mendapatkan apa yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepadamu sebagai kebenaran ?
Sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepadaku benar-benar nyata."
Umar ra berkata, 'Ya Rasulullah, bagaimana engkau mengajak bicara jasad-jasad yang sudah tidak bernyawa lagi ?'
Maka Nabi  bersabda:
وَلَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا أَنْتُمْ بِاَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ وَلَكِنَّهُمْ لاَ يَقْدِرُوْنَ أَنْ يُجِيْبُوأ
"Kamu tidak faham terhadap apa yang aku ucapkan kepada mereka. Tapi mereka tidak mampu menjawab sedikit pun atas ucapanku."
[HR Muslim dlm bab Sorga no 76]

Dari Anas bin Malik , ia berkata bahwa Rasulullah  bersabda:
إِنَّ الْمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَتَوَلَّ عَنْهُ أَصْحَابُهُ إِنَّهُ لَيَمُعُ خَفَقَ نِعَالِهِمْ
"Sesungguhnya seseorang yang meninggal jika telah diletakkan dalam kuburnya dan kawan-kawannya pulang meninggalkannya, maka dia mendengar suara gesekan sandal mereka."
[HR Bukhari dlm kitab Janaiz no 1338, Muslim dlm bab Sorga no 71]

Binatang mendengar suara adzab kubur
Dari Ummu Mubasysyir, ia berkata 'Rasulullah  masuk ke rumah saya, lalu beliau berkata,
"Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur !"
Maka saya berkata, "Ya Rasulullah, apakah dalam kubur terdapat siksa ?
Lalu beliau bersabda,
النَّرُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّاوَّعَشِيَّا
"Sungguh, mereka itu disiksa dalam kubur dengan siksaan yang didengar oleh semua binatang."
[HR Ahmad dlm Majmu' Az Zawaid III/56; SHAHIH]

Dari Aisyah , ia berkata 'Seorang wanita Yahudi masuk ke rumah saya, lalu dia menyebut-nyebut siksa kubur, maka saya menganggap dia dusta. Kemudian Rasulullah  masuk ke kamar saya, lalu saya sebutkan hal tersebut kepada beliau. Maka Nabi  bersabda,
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهُمْ لَيُعَذَّبُوْنَ فِى قُبُورِهِمْ حَتَّى تَسْمَعَ البَهَائِمُ أصْوَاتَهُمْ
"Demi Dzat yang diriku di tanganNya, sesungguhnya ahli kubur itu disiksa sehingga binatang-binatang mendengar suara mereka."
[HR Muslim bab Surga no 67]

Dari Zaid bin Tsabit  berkata, 'Ketika kami sedang bersama Nabi  di kebun milik Bani An Najr, dan saat itu beliau sedang naik bighal, maka bighal Nabi lari dan hampir-hampir Nabi  terjatuh dengannya. Dan, ternyata di situ terdapat makam enam atau lima orang. Lalu Nabi  berkata, "Siapakah yang mengetahui mereka yang dalam kuburan ini ?"
Maka ada seseorang yang berkata, "Saya."
Kemudian Nabi  bertanya, "Kapan mereka meninggal ?"
Maka dia menjawab, "Mereka mati pada masa jahiliyah dengan keadaan musyrik."
Maka Nabi  bersabda,
إِنَّ هَذِهِ اْللأُمَّةَ تُبْتِكَى فِىْ قُبُوْرِهَا فَلَوْلاَ أَنْ تَدَافَنُوا لِدَعَوْتُ اللهَ اَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِى أَسْمَعُ مِنْهُ
"Sesungguhnya ummat ini dicoba dengan siksa di dalam kuburnya. Dan, seandainya kalau bukan karena aku khawatir kepada ummat untuk tidak berani lagi untuk menguburkan mayat, maka saya berdo'a kepada Allah, agar Allah memberikan kamu mampu mendengar siksa kubur yang aku sendiri mendengarnya."
[HR Muslim dlm kitab Sorga, no 67]


Sorga dan Neraka

Andaikata kalian mengetahui apa yang aku ketahui
Dari Abu Dzar al Ghifari , Rosulullah  bersabda
إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَمَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشِ وَلَخَرَجْتُمْ إِلَى الصُّعُدَاتِ تَجْأَرُونَ إِلَى اللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ شَجَرَةً تُعْضَدُ
قَالَ أَبمو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَنَسٍ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَيُرْوَى مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ أَنَّ أَبَا ذَرٍّ قَالَ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ شَجَرَةً تُعْضَدُ

“Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tidak kalian melihatnya, dan aku mendengar sesuatu yang kalian tidak mendengarnya. Langit itu bergemuruh dan pantaslah ia bergemuruh dengan apa-apa yang ada di dalamnya. Tidaklah ada tempat seluas empat jari manusia, kecuali ada malaikat yang meletakkan keningnya sujud kepada Allah. Demi Allah jika kalian mengetahui apa-apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis dan kalian tidak akan bisa bersenang-senang dengan istri-istri kalian di atas kasur dan kalian akan naik ke ketinggian dan mengiba kepada Allah.”

Abu Dzar berkata, ‘Oh seandainya aku menjadi sebatang pohon yang ditebang’
[HR Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan; kutubu tis’ah At Tirmidzi no 2235]


2 Golongan neraka yang belum pernah dilihat Rosulullah
Dari Abu Hurairah , bahwasanya Rasulullah  bersabda:
صِنْفَانِ مِنْ اَهْلِ النَّارِ لَمْ اَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سَيَاطٌ كَاَذْنَابِ البَقَرِ يَدْرِبُونَ بِهِ النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَا ئِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَاَسْنَمَةِ الْبَخْتِ الْمَائِلَةِ لاَيَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَيَجِدْنَ رِيْحَهَا وَاِنَّ رِيْحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
"Dua golongan yang termasuk ahli neraka yang aku belum pernah melihat (seperti) keduanya: Satu kaum yang ada pada mereka cemeti seperti ekor sapi, dengan cemeti itu mereka memukuli manusia. Dan kaum wanita yang berpakaian tetapi (seperti) telanjang, melenggang lenggok menggiurkan, seolah-olah di kepalanya seperti punggung unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya surga, padahal baunya surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian"
[HR Muslim: 17/190]

Siapakah orang-orang yang pertama kali diadili di hari kiamat ?
Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili di hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Maka dia didatangkan lalu diperlihatkan ni’matNya sehingga dia tahu akan ni’mat-ni’matNya. Lalu Allah bertanya, “Apakah yang engkau amalkan didalamnya ?”
Maka dia berkata, “Saya berperang di jalanMu hingga mati syahid.”
Allah menjawab, “Engkau dusta !! Tetapi kamu berperang agar engkau dikatakan pemberani !”
Dikatakan, “Kemudian diperintahkan kepadanya untuk diseret wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.”
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Dan seseorang laki-laki yang mempelajari ilmu, mengajarkannya dan dia membaca Al Qur'an. Dan dia didatangkan kepadaNya, lalu diperlihatkan kepadanya ni'mat-ni'matNya sehingga dia tahu akan ni'mat-ni'matNya.
Maka dikatakan kepadanya, "Apakah yang engkau lakukan dengan ni'mat-ni'mat itu ?"
Maka dia berkata, “Saya mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur'an”
Allah menjawab, “Engkau dusta !! Tetapi kamu mempelajari ilmu agar engkau dikatakan 'alim dan engkau membaca Al Qur'an agar engkau dikatakan Qori' !”
Dikatakan, “Kemudian diperintahkan kepadanya untuk diseret wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.”
وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Dan seseorang yang diluaskan rizkinya oleh Allah dan Allah memberinya semua bentuk harta benda seluruhnya.
Dan dia didatangkan kepadaNya, lalu diperlihatkan kepadanya ni'mat-ni'matNya sehingga dia tahu akan ni'mat-ni'matNya.
Maka dikatakan kepadanya, "Apakah yang engkau lakukan dengan ni'mat-ni'mat itu ?"
Maka dia berkata, “Saya tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau ridhoi untuk berinfaq kecuali aku berinfaq di dalamnya untukMu."
Allah menjawab, “Engkau dusta !! Tetapi engkau lakukan itu semua supaya dikatakan dermawan
Dikatakan, “Kemudian diperintahkan kepadanya untuk diseret wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.”
[Sahih Muslim: 3527(kt), HR An Nasa’i: 2/23,24, Musnad Ahmad: 2/322]

Sebagian besar penduduk neraka
إِطَّلَعْتُ فِى النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءُ
"Aku memandang ke neraka, maka kulihat sebagian besar penghuninya adalah kaum wanita." [HR Bukhari]

Persetubuhan di surga
Dari Abu Hurairah , seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kami harus menyetubuhi isteri kami di surga ?"
Rasulullah  bersabda, "Sesungguhnya seorang laki-laki bersetubuh dengan seratus gadis dalam sehari. Yakni di surga."
[HR Thabrani, Silsilah hadits shohih no 367]


Al Quran

Ancaman mengambil upah dari mengajar Al Qur’an
Dari Ismail bin Ubaidillah , dia berkata: 'Telah berkata kepadaku Abdul Malik bin Marwan: "Wahai Ismail, ajarilah anakku. Aku akan memberimu atau mengupahmu."
Ismail menanggapi, "Wahai Amirul Mukminin, bagaimana bisa demikian, padahal Ummu Darda' telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah  telah bersabda:
مَنْ اَخَذَ عَلَى تَعْلِيْمِ الْقُرْاَنِ قَوْسًا، قَلَّدَهُ اللهُ قَوْسًا مِنْ نَا رٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa yang mengajar Al Qur'an dengan mengambil upah, maka Allah akan mengalunginya busur dari api pada hari kiamat."
Abdul Malik berkata: "Wahai Ismail, aku tidak memberimu atau mengupahmu atas nahwu."
[Sunan al Baihaqi: 6/126, Ibnu Asakir dlm Tarikh Damsyiq: 2/247-/2]

Dari Ismail bin Ubaidillah, dia berkata, 'Saya mengajar al Kitab dan Al Qur'an kepada orang-orang penduduk Shuffah. Kemudian seorang dari mereka memberi saya hadiah berupa sebuah busur. Lalu saya berkata: "Itu tidak berupa harta dan saya pakai ia memanah di jalan Allah Azza wa Jalla. Sungguh saya benar-benar datang kepada Rasulullah  menanyakannya. Sesungguhnya begitu datang kepada beliau saya melapor: "Wahai Rasulullah, seseorang memberiku hadiah berupa busur dari orang-orang yang aku ajari tentang Al Kitab dan Al Qur'an, ia tidak berupa harta dan aku akan memakainya untuk memanah di jalan Allah."
Beliau bersabda:
اِنْ كُنْتَ تُحِبَّ أَنْ تُطَوَّقَ طَوْقًا مِنْ نَارٍ فَاقْبَلْهَا
"Jika kamu suka dikalungi dengan kalung dari api, terimalah itu !"
[HR Abu Dawud 2/232, Ibnu Majah 2/8, Ath Thahawi 2/10, Al Hakim 2/41, Ahmad 5/315; al Hakim berkata "Hadits ini sanadnya SHAHIH", disepakati oleh adz Dzahabi; Silsilah Hadits Shahih no 252)

Rasulullah  bersabda:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْاَنَ فَلْيَسْاَلِ الله بِهِ، فَاِنَّهُ سَيَجِىءُ اَقْوَامٌ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْاَنَ يَسْاَلُوْنَ بِهِ النَّاسِ
"Barangsiapa membaca al Qur'an, maka hendaknya ia meminta (upah) kepada Allah atasnya. Sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al Qur'an meminta (upah) atasnya kepada manusia."
[HR Tirmidzi 4/55, Ahmad 4/432-433 dan 439]

Berbicara tentang al Qur’an berdasar ro’yunya belaka
Dari Ibnu Abbas , Rasulullah  bersabda:
مَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدُهُ مِانَ النَّارِ
"Barangsiapa yang berbicara tentang al Qur'an dengan ra'yunya, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka."
[HR Ahmad, Tirmidzi; dhaif]


As Sunnah

Akan ada pengingkar sunnah
Dari Miqdam bin Ma'dikariba , ia berkata, Rasulullah  bersabda,
أَلاَ إِنِّى أُوْتِيْتُ الْقُرْأنَ وَوَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَان عَلَى أَرِيَكِتِهِ يَقُوْلُ عَلَيْكُمْ بِهذَا الْقُرْأنِ، فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَخَلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُ. وَإِنَّمَا حَرَّمَ رَسُوْلُاللهِ كَمَا حَرَمَ اللهُ
"Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan al Qur'an dan yang seperti al Qur'an bersamanya. Ketahuilah, nanti akan ada orang yang kenyang di atas sofanya seraya berkata, 'Cukuplah bagi kamu berpegang dengan al Qur'an (saja). Apa-apa yang kalian dapati hukum halal di dalamnya maka halalkanlah. Dan apa-apa yang kalian hukum haram di dalamnya maka haramkanlah.
(Ketahuilah) sesungguhnya apa-apa yang diharamkan Rasulullah sama seperti yang diharamkan Allah !"
[HR Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim; dishahihkan Al Hakim dan Ahmad]


Sabar

Musibah sebagai penebus dosa
Dari Anas , Rasulullah  bersabda,
إِذَا أَرَادَاللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ قِى الدُّنْيَا. وَإِذَا أَرَادَاللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عِنْهُ بِذَمْبِهِا حَتَّى يُوَافِى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hambaNya, maka dilaksanakan segera pembalasan siksa di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki kebinasaan terhadap hambaNya, ditahan pembalasan dosanya, hingga akan dituntut kelak pada hari kiamat.”
[dinukil dari Riyadhus Shalihin An Nawawi, bab Sabar hadits no 19]

Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, maka diberikan kepadanya musibah.” [HR Bukhari]

Dari Abu Said  dan Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda,
مَايُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ حَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim yang menderita kelelahan atau penyakit atau kesusahan, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu dijadikan Allah sebagai penebus dosanya.” [HR Bukhari Muslim]

Jangan mengharap kematian jika tidak sabar menghadapi musibah
Dari Anas , Rasulullah  bersabda,
لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ, فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَا عِلاً فَلْيَقُلْ:
اللّهُمَّ أَحْيِنِى مَاكَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِى ، وَتَوَفَّنِى إِذَ كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِى
“Janganlah seseorang di antara kalian mengharap-harapkan kematian disebabkan oleh musibah yang menimpa. Maka jika keadaan memaksa, ucapkanlah: “Yaa Allah lanjutkanlah hidupku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika mati itu lebih baik bagiku.” [HR Bukhari Muslim]


Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Jika melihat kemungkaran
Dari Ibnu Mas’ud , Rasulullah  bersabda:
مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ اْللإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَالٍ
“Tiada seorang Nabi yang diutus sebelumku, melainkan mempunyai shahabat-shahabat yang setia yang mengikuti dengan benar ajarannya. Kemudian muncul setelah mereka turunan yang hanya banyak bicara dan tidak suka beramal, dan mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia mukmin. Dan siapa yang menentang mereka dengan lidahnya, juga mukmin, dan barangsiapa yang membenci mereka dengan hatinya, dia pun mukmin. Selain itu tidak ada lagi iman walaupun seberat biji sawi.” [HR Muslim no 71]

Dari Abu Said Al Khurdi , ‘Saya mendengar Rasulullah  bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْللإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah mengubah dengan tangannya. Bila tidak bisa, hendaklah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka mampu maka dengan hatinya. Dan inilah selemah-lemah iman.” [HR Muslim no 70]

Seutama-utama jihad
Dari Abu Said al Khudri , Rasulullah  bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Seutama-utama jihad adalah kalimat adil (haq) yang diucapkan pada sulthan yang dholim.” [HR Abu Dawud no 3781, Tirmidzi]

Kerusakan pertama di Bani Isroil
Dari Abdullah bin Mas’ud , Rasulullah  bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا دَخَلَ النَّقْصُ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَ الرَّجُلُ يَلْقَى الرَّجُلَ فَيَقُولُ يَا هَذَا اتَّقِ اللهَ وَدَعْ مَا تَصْنَعُ فَإِنَّهُ لاَ يَحِلُّ لَكَ ثُمَّ يَلْقَاهُ مِنَ الْغَدِ فَلاَ يَمْنَعُهُ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ أَكِيلَهُ وَشَرِيبَهُ وَقَعِيدَهُ فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ ضَرَبَ اللهُ قُلُوبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ ثُمَّ قَالَ : ( لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ) إِلَى قَوْلِهِ ( فَاسِقُونَ ) ثُمَّ قَالَ كَلاَّ وَاللهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ وَلَتَأْخُذُنَّ عَلَى يَدَيِ الظَّالِمِ وَلَتَأْطُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا وَلَتَقْصُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ قَصْرًا
“Sesungguhnya kerusakan yang pertama yang terjadi pada Bani Israil yaitu seorang lelaki bertemu kawannya (yang berbuat jahat), menegur: “Wahai Fulan bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan apa yang kamu perbuat, sesungguhnya hal itu tidak halal bagimu.”. Kemudian esok harinya dia bertemu temannya tetap seperti itu, namun tidak ditegur. Bahkan dia menjadi teman makan minum dan duduknya. Maka tatkala mereka lakukan yang demikian, Allah menutup hati mereka masing-masing, sebagaimana firman Allah:
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu... (sampai dengan firmanNya ...) ... Tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasiq, [QS Al Maidah(5): 78-81]
“Janganlah demikian, Demi Allah ! Sungguh kamu harus mengajak kepada yang ma’ruf dan kamu harus melarang dari yang mungkar, dan sungguh kamu harus menahan tangan orang dholim dan kembalikan dia ke jalan yang haq dan jaga dia di dalam yang haq itu.”
(Dalam riwayat lain ditambahkan:)
أَوْ لَيَضْرِبَنَّ اللهُ بِقُلُوبِ بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ ثُمَّ لَيَلْعَنَنَّكُمْ كَمَا لَعَنَهُمْ
“Atau kalau tidak, maka Allah akan menutup hati kalian, kemudian melaknat kalian sebagaimana telah mengutuk mereka.” [HR Abu Dawud no 3774, Tirmidzi]

Ancaman meninggalkan nahi mungkar
اِنَّ النَّاسَ اِذَا رَأَوا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوْهُ أَوْشَكَ اَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابِهِ
“Sesungguhnya manusia jika melihat suatu kemungkaran (kedzaliman) dan tidak merubahnya, maka dikhawatirkan Allah akan meratakan siksanya bagi mereka semua.” [HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i; sanadnya shahih]

Keutamaan mengajarkan kebaikan
Dari Jubair bin Mu'thim , Rasulullah  bersabda,
نَظَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِيْ فَبَلَغَهَا
"Semoga Allah membaguskan orang yang mendengarkan perkataanku lalu menyampaikannya."
[Sunan Ibnu Majah: 1/49no 244, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1/45]

Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَُجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْللإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya dari pahala seperti yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barangsiapa menyeru pada kesesatan maka baginya dosa sebanyak dosa-dosa yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun.” [HR Muslim no 4831]

Dalam hadits yang panjang dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idy , Rasulullah  bersabda,
فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
“Demi Allah ! Sungguh kalau Allah memberi hidayah pada seseorang dengan usahamu, lebih baik bagi kamu daripada mendapatkan unta merah yang bagus.” [HR Bukhari no 2787, Muslim]

Dari Abu Amanah al Bahily , Rasulullah  bersabda,
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةُ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
"Sesungguhnya Allah, malaikatNya, para penghuni langit dan bumi mulai semut di dalam lubangnya sampai ikan paus, benar-benar mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia."
[Shahih Tirmidzi 2/343 no 2159]

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ، إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٌ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ
"Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalannya, kecuali tiga hal: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya." [HR Muslim: 3/14]

Mengucapkan tapi tidak mengamalkan
Dari Abu Zaid (Usamah) bin Zaid al Haritsah , ‘Saya mendengar Rasulullah  bersabda:
يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلاَنُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ
“Seseorang dihadapkan di hari kiamat kemudian dilemparkan ke dalam neraka, sehingga keluar usus dari perutnya, lalu berputar-putar di dalam neraka bagaikan himar yang berputar di sekitar penggilingan. Maka berkerumunlah ahli neraka kepadanya sambil bertanya, ‘Hai Fulan, mengapa kamu, bukankah engkau dahulu menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran ?’ Jawabnya, ‘Benar, aku dahulu menyeru kebaikan tetapi tidak kukerjakan, dan mencegah kemungkaran tetapi saya sendiri melakukannya.’”
[HR Muslim no 5305, Bukhari, Ahmad]


Doa dan Dzikir

Pertarungan musibah dan doa
Dari Aisyah , Rasulullah  bersabda,
لاَ يُغْنِى حَذْرٌ مِنْ قَدْرٍ وَالدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمْمَّا لَمْ يَنْزِلْ وَإْنَّ الْبَلاَءُ لَيَنْزِلُ فَيَلْقَاهُ الدُّعَاءُ فَيَعْتَلِجَانِ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Kewaspadaan (kehati-hatian)mu itu tidak ada gunanya menghadapi takdir. Doa itulah yang berguna untuk mengantisipasi musibah yang telah turun maupun yang belum turun. Sesungguhnya musibah itu ketika turun dihadapi oleh doa, dan keduanya bertarung hingga hari kiamat."
[HR Al Hakim; dikutip dari Therapi Penyakit Hati (Ibnul Qayyim al Jauzi) hal 23]

Ancaman meninggalkan dzikir
Rasulullah  bersabda,
مَا مِنْ قُوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَلَى مَثَلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ، وَكَانَ عَلَيْهِمْ حَسَرَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Orang-orang yang berdiri dari suatu tempat tanpa berdzikir, maka mereka ibarat bangkai himar. Mereka akan merasakan penyesalan kelak di hari kiamat."
[HR Abu Dawud no 4855; Ahmad: 2/389, 515, 527; Ath Thahawi: 2/367; Al Hakim: 1/492; Al Hakim berkata, "Hadits ini shahih sesuai dengan kriteria yang dipakai oleh Imam Muslim", disepakati oleh Adz Dzahabi; Silsilah hadits shahih no 77] [Terjemah silsilah hadits shohih hal 171]

Dari Al Aghar al Muzani, dia berkata 'Sesungguhnya Rasulullah  bersabda:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى وَإِنِّى لاَسْتَغْفِرُ اللهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
"Sesungguhnya hatiku lupa (tidak ingat kepada Allah) dan sesungguhnya aku minta ampun kepadaNya dalam sehari seratus kali."
[HR Muslim: 4/2075]

Ibnul Atsir berkata, "Maksud Nabi  lupa, karena beliau senantiasa memperbanyak dzikir, selalu mendekatkan diri kepadaNya dan waspada. Jadi, apabila sebagian waktu yang lewat tidak melakukan dzikir, maka beliau menganggapnya dosa. Kemudian beliau cepat-cepat membaca istighfar." [Jaami'ul Ushuul: 4/386]

Doa
اَللَّهُمَّ اَنْفَعْنِى بِمَا عَلَمْتَنِى وَعَلِمْنِى مَايُنْفَعُنِى وَزِدْنِى عِلْمًا
"Ya Allah, jadikan bermanfaat bagiku apa yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkan kepadaku apa yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah kepadaku ilmu"
[HR Tirmidzi no 3599, Ibnu Majah no 251, 3833; shahih menurut Syaikh Albani, lihat Shahih Sunan Ibnu Majah: I/47]


Wanita

Minyak wangi
Rasulullah  bersabda,
أَيُّمَاامْرَاَةٍ اسْتَعْطََتْ ثُمَّ خَرَجَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيْحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ
"Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi kemudian ia keluar, lalu ia melewati suatu kaum (orang banyak) supaya mereka mendapati (mencium) baunya, maka dia itu adalah perempuan zina."
[HR Ahmad, Nasa'i, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan Thohawi dari jalan Abu Musa; hasan]

إِذَا خَرَجَتِ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْتَغْتَسِلْ مِنَ الطِّيْبِ كَمَا تَغْتَسِلُ مِنَ الْجَنَابَةِ
"Apabila seorang perempuan keluar ke masjid, maka hendaklah ia mandi (membersihkan diri) dari wangi-wangian sebagaimana ia mandi dari janabat."
[HR Nasa'i dari jalan Abu Hurairah; shahih]

مَا تَرَكْتُ فِتْنَةً بَعْدِي أَضَرُّ مِنَ النِّسَاءِ عَلى الرِّجَالِ
"Tidak ada fitnah yang lebih berbahaya sepeninggalku atas kaum laki-laki dari kaum wanita." [Shahih Tirmidzi: 2/362]

Keluarnya wanita dari rumah
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَاِذَا خَرَجَتْ اِسْتَشْرَ فَهَاالشَّيْطَانُ فَهِيَ تَدْ بُرُ وَ تَقْبَلُ فِى صُوْرَةِ شَيْطَانٍ
"Wanita itu aurat, jika ia keluar, maka syaithan menipudayakan. Sehingga dari belakang dan depan ia berbentuk syaithan." [HR Muslim]

Berhati-hati terhadap wanita
اِتَّقُواالدُّنْيَا وَاتَّقُواالنِّسَاءَ فَاِنَّ اَوَّلُ فِتْنَةَ بَنِى إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِىالنِّسَاءِ
"Takutlah kamu sekalian di dunia ini kepada wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama pada Bani Israil adalah karena wanita." [HR Muslim]

Berpakaian tetapi telanjang
Rasulullah  bersabda,
رُبَّ كَاسِيَةٍ فِى الدُّنْيَا عَارِيَةٌ فِى اْلاخِرَةِ
"Alangkah banyak wanita yang (merasa) berpakaian di dunia tetapi telanjang di akherat." [HR Bukhari: 13/20]


Wanita yang tidak dinikahkan lewat wali
Dari Aisyah  Rosulullah  bersabda
أَيُّمَا امْرَأَةٍ لَمْ يُنْكِحْهَا الْوَلِيُّ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ أَصَابَهَا فَلَهَا مَهْرُهَا بِمَا أَصَابَ مِنْهَا فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
"Setiap wanita yang tidak dinikahkan oleh walinya maka nikahnya tidak sah, maka nikahnya tidak sah, maka nikahnya tidak sah ! Dan kalau ia sudah digauli maka ia berhak memperoleh maskawin karena hal itu. Bilamana para wali berselisih, penguasalah yang menjadi wali bagi perempuan yang tidak punya wali." [HR Abu Dawud dlm Madzl Al Majhud (10/80), Turmudzi (4/53), Ibnu Majah: 1/605, Tirmudzi menilai hadits ini hasan]




Menjaga Pandangan

Apakah kamu juga buta ?
أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ مَيْمُونَةُ فَأَقْبَلَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ وَذَلِكَ بَعْدَ أَنْ أُمِرْنَا بِالْحِجَابِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجِبَا مِنْهُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَلَيْسَ أَعْمَى لاَ يُبْصِرُنَا وَلاَ يَعْرِفُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَعَمْيَاوَانِ أَنْتُمَا أَلَسْتُمَا تُبْصِرَانِهِ
Dari Ummu Salamah  berkata, 'Ketika saya dengan Maimunah ada di sisi Rasulullah , tiba-tiba masuk ke tempat kami Abdullah bin Ummi Maktum. Kejadian itu sesudah ayat hijab yang diperintahkan kepada kami.
Maka Nabi bersabda, "Berhijablah kamu daripadanya."
Kami menjawab, "Ya Rasulullah, bukankah ia seorang yang buta, tidak melihat dan tidak mengenal kepada kami ?
Jawab Nabi, "Apakah kamu juga buta ? Bukankah kamu melihat padanya ?"
[HR Abu Dawud dlm al Libas no 2585(ks), Tirmidzi; dinukil dari Riyadhus Shalihin; Tirmidzi berkata hadits ini hasan shahih]

Pandangan pertama
Dari Buraidah , Rasulullah  bersabda,
يَاعَلِىُّ ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّمَا لَكَ اْلأُوْلَى وَلَيْسَتْ لَكَ اْلأَخِرَةُ
"Hai Ali, Janganlah sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh."
[HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Al Hakim, Shahihul Jami' no 7953; hasan]

Dari Jarir , 'Rasulullah  pernah ditanya mengenai pandangan secara mendadak (tiba-tiba), maka beliau menjawab, "Palingkan pandanganmu !"
[HR Ahmad, Muslim, Shahihul Jami' no 1014; shahih]


Pakaian

Berpakaian karena sombong, dan pakaian wanita
Dari Abdullah bin Umar , Rasulullah  bersabda,
مَنْ جَرَّ ثَوَبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فَقَلَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: كَيْفَ تَصْنَعُ النِّسَاءُ بِذُيُو لِهِنَّ ؟ قَالَ: يُرْخِينَ شِبْرً. قَالَت: إِذَنْ تُنْكَشَفُ أقَدَامُهُنَّ ؟ قَالَ: فَيُرْخِيْنَ ذِرَاعًا وَلاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ
"Barangsiapa menyeret pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."
Ummina Ummu Salamah bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana yang harus dilakukan oleh wanita ? Apakah wanita harus memendekkan pakaiannya seperti lelaki ?"
Rasulullah  menjawab, "Ia turunkan sejengkal"
Ummu Salamah berkata, "Kalau demikian ya Rasulullah, telapak kaki mereka terbuka."
Rasululah  pun menjawab, "Hendaknya dia menurunkan sepanjang satu hasta, dan jangan ditambah lagi."
[HR Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah; SHAHIH]

Jangan menampakkan lekuk tubuh
عَنِ ابْنِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ أَنَّ أَبَاهُ أُسَامَةَ قَالَ كَسَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُبْطِيَّةً كَثِيفَةً كَانَتْ مِمَّا أَهْدَاهَا دِحْيَةُ الْكَلْبِيُّ فَكَسَوْتُهَا امْرَأَتِي فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكَ لَمْ تَلْبَسِ الْقُبْطِيَّةَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ كَسَوْتُهَا امْرَأَتِي فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلاَلَةً إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا *
Dari Usamah bin Zaid , dia berkata, 'Rasulullah  pernah memberiku pakaian qubthiyah, lalu pakaian itu kuberikan kepada isteriku.
Rasulullah bertanya kepadaku, "Mengapa engkau tidak mengenakan pakaian qubthiyah itu ?"
Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, pakaian itu kuberikan kepada isteriku."
Rasulullah berkata, "Suruhlah agar dia mengenakan pakaian tipis lain di dalamnya. Karena aku khawatir pakaian itu membentuk lekuk di tulangnya." [Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan]

Dari Umar bin Khaththab, bahwasanya ia memberi pakaian qibthiy kepada beberapa orang dan berkata: "Janganlah kalian memakaikan pakaian ini kepada isteri-isteri kalian."
Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan berkata: "Ya Amirul Mukminin, aku telah memakaikan kepada isteriku dan dia mundar-mandir di rumah. Namun aku tidak melihat pakaian itu memperlihatkan badannya, dan tidak sedikitpun terlihat kulitnya maupun apa yang ada di dalam pakaian luarnya itu."
Umar berkata kepadanya: "Walaupun tidak terlihat apa yang ada di bawah (dalam) nya, tapi ia akan menggambarkan bentuk tubuhnya." [Riwayat Al
-Baihaqi II/234-235; Muslim binAl-Bitthin dari Ani Shalih dari Umar]

Wanita berpakaian tetapi telanjang
Rasulullah  bersabda,
رُبَّ كَاسِيَةٍ فِى الدُّنْيَا عَارِيَةٌ فِى اْلاخِرَةِ
"Alangkah banyak wanita yang (merasa) berpakaian di dunia tetapi telanjang di akherat." [HR Bukhari: 13/20]


Larangan Menyerupai Lawan Jenis

Laknat Rosulullah
Dari Abu Hurairah ,
لَعَنَ النَّبِيُّ الرَّجُلُ يَلْبِسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبِسُ لُبْسَةَ الرَّجُوْلِ
Nabi melaknat laki-laki yang memakai pakaian seperti wanita dan wanita yang memakai pakaian seperti laki-laki. [HR Abu Dawud dan Nasa'i]

Rasulullah  bersabda,
لَعَنَ اللهُ الْمُخَنِثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ الْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
"Allah melaknat laki-laki yang berlagak menyerupai wanita dan wanita yang bersikap menyerupai laki-laki." [HR Bukhari]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِمُخَنَّثٍ قَدْ خَضَّبَ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ بِالْحِنَّاءِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ هَذَا فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ يَتَشَبَّهُ بِالنِّسَاءِ فَأَمَرَ بِهِ فَنُفِيَ إِلَى النَّقِيعِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ أَلاَ نَقْتُلُهُ فَقَالَ إِنِّي نُهِيتُ عَنْ قَتْلِ الْمُصَلِّينَ
Dari Abu Hurairah , bahwa Nabi  pernah mendatangi seorang laki-laki yang menyerupai perempuan. Dia telah memacari kedua tangannya dan kedua kakinya dengan daun inai. Maka Rasulullah  bersabda, “Kenapa ini ?”
Ada yang menjawab, “Ya Rasulullah, dia menyerupai wanita”
Maka Rasulullah memerintahkan agar orang tsb dibuang ke Naqi’
Lalu beliau ditanya, “Ya Rasulullah, mengapa tidak kita bunuh saja ?”
Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya aku dilarang untuk membunuh orang-orang yang sholat.”
[HR Abu Dawud no 428] (Naqi’ adalah suatu tempat dekat Madinah)


Orang Tua

Ridho Allah tergantung pada ridho Orang tua
Rasulullah  bersabda,
رِضَىالرَّبِّ فِي رِضَي الوَالِدِ وَسُخْطُ الرَّبِّ فِى سُخْطِ الْوَالِدِ
"Ridla Allah (tergantung) pada ridla orang tua. Dan murka Allah (tergantung) pada murka orang tua."
[HR Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim: 4/125, Silsilatul ahadits shahihah no 516]



Penguasa

Ketaatan hanya dalam hal ma’ruf
لاَطَاعَةِ لِبَشَرٍ فِى مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِىالْمَعْرُوفِ
"Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam hal maksiat kepada Allah. Ketaatan itu hanyalah dalam hal yang ma'ruf."
[HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa'i, Thayalisi, Abu Ya'la I:241; Silsilah hadits shahih no 181]

Cara menasehati penguasa
Dari Iyadh bin Ghunam, Rasulullah bersabda
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ
“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka janganlah menampakkan secara terang-terangan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya kemudian menyepi dengan penguasa itu untuk menasehatinya. Apabila penguasa tadi menerima nasehat itu, maka demikianlah. Apabila tidak, maka penasehat tadi telah menunaikan kewajibannya.” [HR Ahmad no 3/404; hadits hasan]

Menghinakan penguasa Allah di bumi
Dari Zaid bin Kusaib al Adawy
عَنْ زِيَادِ بْنِ كُسَيْبٍ الْعَدَوِيِّ قَالَ كُنْتُ مَعَ أَبِي بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ ابْنِ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَقَالَ أَبُو بِلاَلٍ انْظُرُوا إِلَى أَمِيرِنَا يَلْبَسُ ثِيَابَ الْفُسَّاقِ فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ اسْكُتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي اْلأََرْضِ أَهَانَهُ اللهُ
Dari Zaid bin Kusaib al Adawy ia berkata, ‘Aku bersama Abu Bakrah di bawah mimbarnya Ibnu Amir, dia sedang berkhutbah dan memakai pakaian yang tipis, maka berkata Abu Bilal: ‘Lihatlah oleh kalian kepada amir kita yang memakai pakaian orang fasik ini’
Maka berkata Abu Bakrah: “Diamlah. Aku telah mendengar Rasulullah  bersabda:
“Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di bumi maka Allah akan menghinakannya.” [HR Tirmidzi no 2150; ia berkata bahwa hadits ini hasan gharib]

Rasulullah  bersabda,
مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهَ - تَبَارَكَ وَتَعَالَى - فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَا مَةِ, وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهَ - تَبَارَكَ وَتَعَالَى - فِى الدُّنْيَا أَهَانَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang memuliakan penguasa (yang dijadikan) Allah - Yang Maha Suci dan Maha Tinggi - di dunia maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat, dan barang siapa yang menghinakan penguasa Allah - Yang Maha Suci dan Maha Tinggi - di dunia maka Allah hinakan dia pada hari kiamat.”
[Silsilah hadits shahih Al Albani: no 2297]

Bersabar terhadap keburukan penguasa
قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ كَيْفَ قَالَ يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
Hudzaifah  berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya kami telah dalam kesesatan (sebelumnya) sehingga datanglah Allah membawa kebaikan, maka baiklah kami. Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?” Rasulullah menjawab, “Ya”
Hudzaifah berkata, “Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan ?” Rasulullah menjawab, “Ya”
Hudzaifah berkata, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?” Rasulullah menjawab, “Ya”
Hudzaifah berkata, “Bagaimana (keburukan itu) ?” Rasulullah bersabda,
“Akan ada setelahku para pimpinan (penguasa) yang tidak menjalankan ajaranku dan tidak menerapkannya. Akan muncul di kalangan kalian orang-orang (yakni penguasa) yang hati mereka adalah hati setan di dalam tubuh manusia”
Hudzaifah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan bila aku mendapati keadaan demikian ?”
Rasulullah  menjawab, “Wajib engkau mendengar dan taat kepada pemerintah itu walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas. Maka hendaklah engkau (tetap) mendengar dan taat (selama dalam hal yang ma’ruf).” [HR Muslim kitab Imarah no 3435(kt)]

إِسْمَعْ وَعَطِعْ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْ شَطِكَ وَمَكْرَمِكَ وَإِنْ أَكَلُوْا مَالَكَ وَضَرَبُوْا ظَهْرَكَ
“Dengar dan taatilah mereka baik dalam kesulitan ataupun kemudahan, gembira atau tak suka, dan (meskipun) mereka bersikap egois (sewenang-wenang) terhadapmu, walaupun mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu.” [Ibid, dishahihkan oleh Al Albani: 1026]

Dari Auf bin Malik , Rasulullah  bersabda,
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمِ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمِ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan yang mencintai kalian. Mereka sholat bersama kalian dan kalian sholat bersama mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian. kalian laknati dan mereka melaknati kalian. “
Ditanyakan: “Ya Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang ?”
“Tidak. Selama mereka menegakkan sholat di antara kalian. Dan apabila kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalan mereka, tetapi janganlah kalian mencabut tangan dalam ketaatan.” [HR Muslim no 2447(kt)]


Gambar

Setiap tukang gambar berada di neraka
عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ إِنِّي رَجُلٌ أُصَوِّرُ هَذِهِ الصُّوَرَ فَأَفْتِنِي فِيهَا فَقَالَ لَهُ ادْنُ مِنِّي فَدَنَا مِنْهُ ثُمَّ قَالَ ادْنُ مِنِّي فَدَنَا حَتَّى وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ قَالَ أُنَبِّئُكَ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ و قَالَ إِنْ كُنْتَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَاصْنَعِ الشَّجَرَ وَمَا لاَ نَفْسَ لَهُ
Dari Said bin Abi al-Hasan, ia berkata: ‘Datang seseorang kepada Ibnu Abbas dan berkata: ‘Sesungguhnya saya orang yang membuat gambar-gambar ini. Maka berilah saya fatwa tentangnya.”
Maka Ibnu Abbas berkata, “Mendekatlah kepadaku !” Lalu ia mendekat. Kemudian katanya lagi, “Mendekatlah kepadaku !” (sampai Ibnu Abbas meletakkan tangannya di kepala orang itu), lalu katanya: “Akan aku beritakan apa-apa yang saya dengar dari Rasulullah. Saya pernah mendengar Rasulullah  bersabda:
“Semua tukang gambar di neraka, dan dijadikan baginya setiap yang digambarnya satu jiwa (ruh) yang menyiksanya di Jahannam.”
Dan Ibnu Abbas berkata, “Jika kamu mesti mengerjakan juga, maka buatlah (gambar) pohon-pohon dan apa-apa yang tidak bernyawa (ruh).” [HR Muslim no 2945(kt)]

Dari Abdullah bin Mas'ud , ‘Aku mendengar Rasulullah  bersabda,
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ
“Sesungguhnya manusia yang paling keras disiksa pada hari kiamat adalah para tukang gambar.”
[HR Bukhari: Kitabul Libas no 5494(kt)]

Dari Abdullah bin Umar , Rasulullah  bersabda,
إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan gambar-gambar ini akan disiksa di hari kiamat. Dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa yang telah kalian buat !”
[HR Bukhari no 5495(kt), Muslim no 3942(kt), Nasa’i: 5266(kt), Ahmad: 4245(kt)]

Malaikat tak masuk rumah yang ada gambar2nya
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِي اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْهُ فَعَرَفْتُ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَتُوبُ إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا أَذْنَبْتُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ قُلْتُ اشْتَرَيْتُهَا لَكَ لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعَذَّبُونَ فَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَقَالَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لاَ تَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ
Dari Aisyah , ia berkata , ‘Saya membeli sebuah bantal bergambar. Maka ketika Rasulullah  melihatnya, beliau berdiri di pintu dan tidak masuk. Saya mengenal tanda kemarahan pada wajah beliau. Saya berkata, “Ya Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan kepada RasulNya, apa dosaku ?” Beliau bersabda, “Apa bantal ini ?” Aku menjawab, “Saya membelinya agar anda duduk di atasnya dan menyandarinya.”
Maka Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya pemilik (pembuat) gambar-gambar ini akan disiksa di hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa yang telah kalian buat ! “ . Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki malaikat.” [HR Bukhari 1962(kt), Muslim]

Dalam riwayat muslim ditambahkan perkataan Aisyah, “Lalu saya membuatnya (memotongnya) menjadi dua bantal yang beliau bersandar padanya.”


Rihlah Islami

اِنَّ رَجُلاً قَالَ: يَاَ رَسُولَ اللهِ اَئْذَنْ لِى فِى السِيَاحَةِ قَالَ النَّبِى : سِيَحَةَ اُمَّتِي الجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللهِ تَعَلَى
Dari Abu Umamah , Ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah  "Wahai Rasulullah izinkanlah aku rihlah (berwisata)". Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya rihlah ummatku adalah jihad fi sabilillah." [HR Abu Dawud no 2486]


Musik & Nyanyian

Berita di akhir zaman
عَنْ أَبِي مَالِكٍ اْلأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللهُ بِهِمُ اْلأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ *
Dari Abi Malik al Asy’ari , Rasulullah  bersabda,
"Sungguh akan ada orang-orang dari ummatku yang minum khamr, mereka namakan dengan nama yang lain. Kepala mereka (bergoyang-goyang) dilalaikan dengan musik dan nyanyian-nyanyian. Maka Allah akan tenggelamkan mereka itu ke dalam bumi dan Allah akan mengubah yang lainnya menjadi kera dan babi."
[HR Ibnu Majah no 4020, 4010(kt) dan ini lafazhnya, Baihaqi 8/295 dan 10/221, dan Ibnu Asakir. Lihat shahih Ibnu Majah no 4247]

Dari Abdurrahman bin Ghanmin al Asy’ari Rasulullah  bersabda,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيهِمْ يَعْنِي الْفَقِيرَ لِحَاجَةٍ فَيَقُولُونَ ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا فَيُبَيِّتُهُمُ اللهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Sungguh akan ada dari ummatku, kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan alat-alat musik. Dan akan tinggal beberapa kaum di sisi gunung, berkembang biak hewan ternak mereka yang (selalu) digembalakan oleh penggembala. Datang orang yang butuh kepada mereka, lalu mereka berkata: 'Kembalilah kepada kami besok'. Kemudian Allah membinasakan mereka (di waktu malam) dan meratakan gunung serta merubah rupa yang lainnya menjadi kera dan babi, sampai hari kiamat."
[HSR Bukhari 6/243]


Dari Imran bin Hushain Radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
سَيَكُوْنُ فِيْ اْلأَخِرِ الزَمَانِ خَسْفٌ وَخَذْفٌ وَمَسْخٌ، إِذَاأَظْهَرَتِ الْمَعَازِفُ وَالْقَيْنَاتُ وَاسْتُحِلَّتُ الْخَمْرُ
"Akan terjadi di akhir zaman: tenggelam ke dalam bumi, lemparan batu, dan perubahan bentuk; jika telah nyata alat-alat musik dan penyanyi wanita serta dihalalkannya khamr. "
[HR Tirmidzi, Thabrani dari Sahl bin Sa'd; lihat Shahih Jami'us Shaghir no 3559]

Sikap salafus sholeh terhadap alat musik dan nyanyian
Dari Nafi' Maula Ibnu Umar, ia berkata: Ibnu Umar pernah mendengar seruling seorang penggembala, lalu beliau menyumbat kedua telinganya dengan jari tangannya, kemudian ia pindah ke jalan lain, sambil berkata: 'Wahai Nafi', apakah engkau masih mendengar ?' Aku jawab: 'Ya'. Lalu beliau terus berjalan sampai aku berkata: 'Sudah tidak lagi terdengar (suara itu)'. Barulah ia melepaskan kedua tangannya (dari telinganya) dan ia kembali ke jalan itu. Lalu beliau berkata: "Beginilah aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika ia mendengar suara seruling penggembala, beliau melakukan seperti ini."
[HSR Ahmad 2/38, Abu Dawud no 4924, Baihaqi: 10/222, Ibnu Hibban dalam kitabnya "Tahrimun Nard was Syatranj wal Malahiy no 64, Abu Nu'aim dalam kitabnya "Hilyatul Auliya' 6:129, Ibnul Jauzy dalam Talbisu Iblis hal 232; Lihat Shahih Abu Dawud no 4116]

"Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atasku khamr, judi dan al kuubah (musik)"
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dan tiap-tiap yang memabukkan adalah haram."
Sofyan Ats Tsauri bertanya kepada Ali bin Badziimah tentang makna "Al Quubah" Ia menjawab: 'Yang dimaksud ialah ath Thabl'
[HSR Abu Dawud no 3696 dari Ibnu Abbas, Ahmad: 1/274; lihat Shahih Abu Dawud no 3143 dan Silsilah Ahadits 'alaihi salam Shahihah: 4/422-423 no 1806]

Yang dimaksud dengan Thabl ialah: gendang, drumband, beduk dan lain-lain dengan berbagai macam bentuknya. [lihat Lisanul Arab: 2/570]

Aisyah pernah melewati suatu rumah yang di dalamnya ada orang yang bernyanyi dan bergoyang-goyang kepalanya dengan merdunya dan ia seorang yang banyak syair lalu Aisyah berkata: "Cis, ini syaithan, keluarkanlah dia (dari rumah itu), keluarkanlah dia, keluarkanlah dia !"
[HR Bukhari dlm Adabul Mufrad no 1247; Baihaqi: 10:223-224]

Utsman bin Affan berkata: "Sungguh aku telah bersembunyi dari Rabbku selama sepuluh tahun. Sesungguhnya aku adalah orang keempat dari empat orang yang masuk Islam. Dan aku tidah pernah bernyanyi dan berangan-angan ..."
[HR Thabrani dlm Mu'jam al Kabir no 124 dan Ibnu Asakir; derajat atsar ini hasan]

No Response to "Kumpulan Hadits"

Poskan Komentar

Powered by Blogger | Blogger by Blog Nu Hahi