Darko Layu Sebelum Berkembang



PELATIH Persib Daniel Darko Janackovic akhirnya lempar handuk. Darko memilih menyerah karena tak mampu menahan panasnya kursi pelatih Persib setelah menerima tekanan yang bertubi-tubi dari pemain, suporter, dan manajemen Persib. Darko seolah layu sebelum berkembang karena harus turun takhta sebelum Persib menjalani laga perdananya di Liga Super Indonesia melawan Persela Lamongan, 28 September mendatang.

"Saya sebenarnya ingin sekali membawa Persib juara, tetapi ternyata manajemen dan pemain tak menginginkannya. Saya memilih pergi dari Persib," kata pria yang pernah meraih gelar pelatih terbaik di liga Aljazair itu.

Sejak awal masa kepelatihannya, Darko terus mendapat tekanan dari berbagai pihak. Gaya melatihnya yang keras dan sikapnya yang tanpa kompromi dalam menyeleksi pemain rupanya mendapat perlawanan.

Karakter Darko berbeda dari beberapa pelatih yang pernah menangani Persib sebelumnya, bahkan dari pelatih yang beredar di Indonesia. Seorang pemain Persib bahkan mengaku kaget saat Darko memaksa pemain untuk tidur pada pukul 8 malam, sementara pelatih timnas mengizinkan pemain tidur hingga pukul 10 malam.
Awalnya, gaya melatih Darko sempat memberikan harapan baru dan angin segar bagi Persib yang sudah lama tak merasakan gelar juara. Cara Darko yang berbeda dari pelatih lain diharapkan menjadi obat untuk Persib yang selama ini miskin prestasi.

Permasalahan yang akhirnya membuat Darko hengkang dari Persib juga berawal dari masalah kedisiplinan pemain. Darko marah besar karena pemain terlambat saat mengikuti makan bersama. Tanpa diduga, pemain bereaksi dengan melawan pelatih dan memboikot latihan.

Kabar soal sikap pelatih yang keras terhadap pemain sebenarnya bukanlah hal baru dalam sepak bola. Jangankan soal jam makan dan tidur, tak jarang seorang pelatih profesional bahkan pernah melarang pemainnya bertemu dengan istri atau pacarnya menjelang pertandingan penting.

Dalam sepak bola pelatih memiliki hak istimewa untuk mengatur pemainnya. Berbeda dengan alam demokrasi, pemain tak memiliki hak untuk melakukan interupsi seperti layaknya anggota dewan terhadap pelatih.

Memang pelatih tidak boleh bertindak seenaknya karena seorang pemain profesional juga berhak keluar dari klub dan pindah ke klub lain sesuai dengan kontrak yang telah diteken. Namun ini berarti pemain juga tak bisa seenaknya mengancam mundur atau pindah ke klub lain karena pemain sudah meneken kontrak. Nasi sudah menjadi bubur. Darko telanjur pundung dan tak mau lagi melatih Persib.

Dengan atau tanpa Darko, Persib tetap harus maju terus menjalani pertandingan demi pertandingan di Liga Super Indonesia. Tak ada kata mundur bagi Maung Bandung.

Pelajaran berharga harus dipetik dari mundurnya Darko. Kesuksesan pemain melengserkan pelatih harus diwaspadai karena bisa menjadi bumerang bagi masa depan Persib. Apa jadinya jika pemain nantinya sering ngambek dan memboikot latihan karena pelatih terlalu keras.

Darko sudah menerima sanksi dengan batal menerima kontrak untuk melatih Persib. Namun bukan berarti pemain boleh bebas dan menikmati kemenangannya. Manajemen dan pelatih baru yang nantinya terpilih harus mampu memberikan pengertian kepada pemain Persib soal bagaimana seharusnya seorang pemain profesional bersikap, sebab tanpa itu mustahil Persib akan meraih gelar juara musim ini. Itu pun jika pemain dan manajemen dan pemain memang menginginkan gelar juara.

No Response to "Darko Layu Sebelum Berkembang"

Poskan Komentar

Powered by Blogger | Blogger by Blog Nu Hahi