Sang Majikan Sejati

eramuslim - Bulan Mei, adalah bulan dimana bangsa ini telah menorehkan sejarah besar. Betapa tidak? Karena pada bulan itu di tahun 1998, orang yang paling lama berkuasa di negri ini, turun tahta. Para mahasiswa yang pada waktu itu ikut turun ke jalan, tentu tak pernah melupakan peristiwa itu.
Jargon reformasi diusung kemana-mana. Seolah tak ada satu lobang semutpun yang tidak kemasukan istilah reformasi. Seolah dengan pedang reformasi itulah semua beres. Sampai-sampai, imam mesjid di RT saya, hampir-hampir direformasi oleh jamaah, karena sering terlambat meng-imam-i. Entah karena latah, atau memang layak untuk direformasi. Padahal, setahu saya, seandainya imam yang tukang cukur itu disingkirkan, siapa lagi yang akan istiqamah jadi imam?
Saya pada waktu itu, begitu semangat melihat para mahasiswa mengepalkan tangan ke atas dengan yel-yel; Turunkan Suharto. Saya yang hanya seorang pedagang kaki lima di sebuah tempat wisata, hanya melihat patriotisme para intelektual muda itu dari balik pagar sebuah kampus di kota saya. Bersama pedagang kecil lainnya, tukang becak dan masyarakat sekitar, kami ikut hanyut dalam demonstrasi besar-besaran itu. Dengan harapan, ada perubahan besar setelah hingar-bingar ini.
Ya, kami hanya menunggu. Orang kecil seperti saya tak bisa berbuat apa-apa, kecuali sedikit doa agar cepat ada perubahan. Paling tidak perubahan harga dulu. Sebab kalau harga-harga barang pokok tetap melambung, yang susah adalah kami-kami ini. Wong Cilik.
Menunggu? adalah perbuatan yang sangat membosankan. Masa satu menit bisa seolah jadi satu hari kalau yang ditunggu itu adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita. Maka ketika saya dan kawan kawan lain menunggu datangnya perubahan setelah turunnya Suharto, dan rupanya juga tak kunjung datang, masya Allah, rasanya hidup ini makin menjerat saja.
Itulah saat-saat dimana saya tak bisa melupakan bulan Mei. Saya bukan mahasiswa, bukan aktifis LSM dan bukan pula orang yang sedang duduk enak dikursi pemerintahan. Saya hanya rakyat biasa, rakyat kecil, yang betapa susahnya menghadapi keadaan yang seperti ini. Sama susahnya dengan cerita bapak saya ketika peralihan Sukarno kepada Suharto tahuan 60-an. Atau sama persis dengan cerita kakek saya, ketika Jepang lari dari negri saya dan Indonesia baru berdiri tahun 1945 lalu..
Pada waktu itulah usaha saya hancur. Saya tak bisa membeli barang dagangan lagi, karena harganya sudah tiga kali lipat. Hutang saya pada bank kecamatan macet total. Setiap jatuh tempo, saya dikejar-kejar pegawai BKK.
Saat-saat itulah saya tak betah di rumah. Saya betul-betul tidak bisa duduk tenang baik siang maupun malam. Setiap kali ada orang mengetuk pintu rumah, atau tiba-tiba ada suara salam, hati saya gemetar. Pikiran saya langsung mengingat: itu pasti orang akan menagih utang pada saya. Saya- betul-betul merasa selalu dikejar-kejar utang.
Ahirnya suatu saat, saya betul-betul meninggalkan rumah beberapa hari. Saya menemui semua saudara saya. Saya berusaha untuk menjumpai semua sahabat-sahabat saya yang saya kenal. Intinya, saya minta bantuan berupa uang, untuk menutup utang-utang saya. Namun, tak ada satupun saudara atau sahabat yang bisa membantu saya. Sebab merekapun sedang mengalami hal yang sama seperti saya.
Di sebuah terminal antar kota, saya duduk kelelahan. Lelah setelah jauh berjalan. Lelah setelah pikiran ini saya kuras untuk berpikir bagaimana caranya menutup utang. Tiba-tiba dari bis terdengar suara seorang pengamen menyanyikan lagu Tombo Ati. Lagu syarat makna yang diambil dari album Kado Muhammad-nya Cak Nun dan Kyai Kanjeng itu, memaksa saya untuk mengingat lima butir nasehat Ali bin Abi Thalib. Nasehat untuk kita yang sedang dilanda kegundahan jiwa karena keadaan hidup yang makin tidak menentu. Paling tidak itu bagi saya. Nasehat itu adalah:
Istiqamah membaca Qur,an dengan merenungi maknanya. Berusaha tidak meninggalkan shalat malam. Sesering mungkin mendekati orang-orang shaleh. Memperbanyak puasa sunah.
Dzikir dan munajat yang lama di keheningan malam.
Itu pesan sang Imam yang saya hapal betul. Maklum, lagu Tombo Ati itu sangat populer pasca jatuhnya Suharto. Tak Hanya ibu-ibu pengajian di kampung saja yang melantunkan lagu itu. Dari pengamen, anak-anak muda yang gemar tongkorongan di gardu ronda, pengajian-pengajian di rumah gedongan, sampai para pialang saham pun tak sungkan untuk ikut berdendang lagu ini. Memang tepat sekali dengan kondisi saat itu yang kebanyakan orang sedang gundah gulana.
Maka setelah diingatkan oleh pengamen tersebut, kaki dan tubuh lelah serta pikiran gundah ini saya seret ke sebuah pesantren yang tak jauh dari terminal itu. Sebuah pesantren yang dulu sering saya kunjungi saat menengok adik saya yang sedang menimba ilmu disana. Saya menemui kembali pimpinan pondok yang sederhana itu. Dan saya punya keyakinan bahwa beliau termasuk salah seorang yang shaleh di daerah saya.
Saya mengungkapkan segala problem yang sedang saya alami. Masalah dikejar-kejar utang yang membuat tak enak makan dan tak nyaman tidur. Ketika semua itu saya beberkan kepada beliau, Sang Kyai justru balik bertanya pada saya.
"Ini pertanyaan sekaligus jawaban," katanya memulai pembicaraan pada saya. "Seandainya, kamu dikejar anjing, dimanakah tempat yang paling aman untuk sembunyi?"
Saya berusaha menjawab: "Lari memanjat pohon. Menyelam ke dalam air hingga tak kelihatan tubuh saya. Atau sembunyi dibalik sesuatu yang tidak kelihatan oleh anjing tersebut."
Semua jawaban saya itu salah. Dan ahirnya Kyai muda itu menerangkan. "Yang paling aman dari kejaran anjing tersebut adalah, kamu lari ke arah majikan anjing itu. Sudah pasti hanya dengan siulan, atau tepukan telapak tangan si majikan, anjing itu akan tunduk dan tak akan berani berbuat apa-apa terhadap kamu." katanya lembut. "Dan kita juga punya majikan. Majikan diatas majikan. Yaitu Sang Pembuat kehidupan ini. Dan siapa saja yang karena sedang kesusahan, terus berlari menuju-Nya, Dia tidak akan menolak untuk menolongnya."
Kalimat itu membuat saya menarik napas panjang. Ada setetes embun yang jatuh di ubun-ubun saya. Dan kesejukan embun itu merasuk kedalam hati dan jiwa saya yang sedang tidak tentram ini.
Saya pulang ke rumah seperti pahlawan yang menang perang. Bersemangat. Saya tidak peduli lagi apakah reformasi akan jalan atau tidak. Apakah perubahan negri ini akan cepat atau justru lari di tempat. Yang jelas saya sudah menemukan sedikit charge baru dalam menghadapi hidup ini. Atau setidaknya ada sesuatu untuk berlindung manakala ada kegundahan datang lagi. Dan pelindung itu adalah majikan saya yang sejati. Allah SWT.
Oleh karena itu, setiap bulan Mei, saya selalu mengingat peristiwa itu. Termasuk saat-saat ini ketika saya masih mengais rejeki di negri orang, Brunei Darussalam. Walaupun sampai bulan Mei Tahun ini pun, negri saya tercinta masih tertatih dalam menata dirinya. Sebab ternyata salah satu agenda reformasi, yaitu pemberantasan korupsi, masih betapa sulitnya untuk disingkirkan, Apalagi dimatikan. Oh... Mei, bulan ke lima dalam kalender masehi, yang selalu ada dalam memori otak saya.
Brunei, Mei 2005
Sus Woyo
woyo72@yahoo.com

No Response to "Sang Majikan Sejati"

Poskan Komentar

Powered by Blogger | Blogger by Blog Nu Hahi