Malulah Kepada Allah

“..Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatlah kesabaranmu. Dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah suapaya kamu beruntung….”


Meraih surga yang dijanjikan
Lebih baik dari dunia seisinya. (Izzatul Islam)

Ikhwatifillah rahimakumullah. Para penyeru agama yang Allah SWT. banggakan di depan malaikat-malaikat-Nya.
Adalah baik kita evaluasi segala hal yang telah lewat. Hal yang bahkan sengaja kita lewatkan walaupun sebenarnya kita sadari ada yang terlewat. Yang terlewat itu ialah diri kita sendiri. Karena manusia itu sering melupakan dirinya sementara sibuk mengurusi lainnya. Jika tidak diingatkan, lewatlah sudah..
Setahun atau bahkan dua tahun lebih sudah kita berada di kampus mungil ini untuk menunaikan sebuah pekerjaan rabbani yang mulia dan terpuji. Ya berda’wah. Bahkan posisi-posisi “mulia” di hadapan manusia, entah itu label aktivis da’wah, Ikhwanul karim, akhwat muslimat, murabbi, anashir taghyir, kader harakah Islam dan label lainnya yang “terlanjur” tersematkan kepada diri kita.
Tetapi apakah kita “malu” dan sensitif terhadap da’wah yang kita lakukan. Mungkin terlalu keras jika disebut rasa malu, maksimal adalah sensitif. Ya, sensitif untuk konsekwen dengan label-label ‘indah’ tadi. Kita khawatir, ternyata label-label yang terlanjur dilekatkan pada diri kita, ternyata bagaikan mercusuar yang bolong dan rapuh.
Tapi bukanlah berarti tulisan ini ‘memaksa’ kita mundur dari da’wah karena kekurangan kita, tetapi sebaliknya kita harus maju. Sebab kecelakaanlah yang akan menimpa mereka yang mundur, secelaka nya orang yang saat ini lebih buruk dari yang kemarin. Itu kata hadits saudaraku.
Yang harus membuat kita malu adalah mengapa seringkali kita melontarkan keluhan-keluhan yang makin memberatkan jalan ini. Padahal da’wah sudah berat, mengapa harus dibebani dengan keluhan?. Jika kita rugi kehilangan 1 jam untuk mengikuti halaqah, mengapa kita begitu asyik duduk lama-lama menikmati hiburan yang terkadang lalai dan melalaikan. Bahkan cenderung batil (baca : sampah).
Jika kita rugi kehilangan 1,5 jam untuk mengikuti kajian ilmu dan berlapang-lapang dalam majelis, mengapa kita tidak rugi di depan layar televsi berjam-jam yang yang isi acaranya tidak mungkin dijadikan soal UTS, UAS maupun quiz. Aneh memang, berdalih karma kesibukan belajar, nyatanya kita mengumpat!.
Jika kita rugi menghadapi kenyataan da’wah di alam nyata, lalu mengapa kita begitu senang menikmati dunia maya, peran-peran simulatif dan khayalan di dunia mikroprosesor. Apakah dunia bayangan itu bisa efektif mengajari kita untuk bisa hidup di alam nyata? Janganlah berpura-pura menjadi katak! Katak memang bisa hidup di dua alam. Sedangkan kita bukan katak! Malulah saudraku…
Resapilah ayat berikut:

$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùö�tƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎�Î7yz
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujaadilah : 11)

Saudaraku ... ketahuilah, bahwa ‘amal da’wah adalah sebuah aksi. Aksi yang terjadi akibat adanya gaya dorong ‘ilmu dan keikhlasan. Tanpa gaya dorong itu –‘ilmu dan keikhlasan’ maka arah ‘amal da’wah kita seperti halnya orang lunglai yang sedang menuju ke suatu tempat. Seraya merasa bimbang, ragu, tak sabar untuk sampai, dan sedikit ‘disenggol’ terjungkallah ia. Ya, Terjungkal jatuh sehingga pingsan tak sadarkan diri. Beberapa saat ia sadar, ia telah lupa tujuan perjalanannya. Dan akhirnya ia berbalik arah .... pergi entah ke mana ...... malulah jika engkau mundur!
Ikhwatifillah, perlu dipahami kembali bahwa da’wah kita adalah harakah nukhbawiyah. Artinya da’wah yang menempatkan kader / pengurus sebagai aset utama gerakan dan sebagai ujung tombak terdepan seluruh aktifitas da’wah. Karnanya maju mundurnya da’wah adalah bergantung maju mundurnya kita sebagai kader da’wah.
Sampai sejauh ini para munsyid mendendangkan syair yang indah

Tetapkanlah langkah2 mu
Lantangkan gema suaramu
Dunia Islam memanggilmu
Sambutlah dengan semangatmu

Jangan pernah berkeluh kesah
Meski Bersimbah peluh dan darah
Kuatkan kesabaranmu
Jangan pernah kau menyerah

Kembalilah saudaraku ,…….

No Response to "Malulah Kepada Allah"

Poskan Komentar

Powered by Blogger | Blogger by Blog Nu Hahi