BAHAGIANYA AKU MENJADI SEORANG MUNSYID

By : Mohamad Achiruzaman

Nasyid berbeda dengan yang lain. Karena sarat pesan moral. Bahkan bukan saja pesan moral tapi sang pembawa nasyid juga harus punya moral. Kita ingin mengubah budaya bangsa menjadi sedikit bermoral, ya dengan budaya nasyid ini…..

(Aal, Jebolan Tim SNADA)

Iringan nada, kalimat, dan ekspresi “necis” emang bikin dakwah jadi “gurih” buat banyak orang. Umpamanya seperti nasi goreng. Tanpa ada garam makanan jadi ga gurih dan ga ngundang selera bro. tapi juga jangan kelebihan. Sebab kebanyakan bisa bikin “over dosis” alias lupa kewajiban lainnya.

(Heru, Praktisi Nasyid Dadakan)

Nyanyiin nasyid emang beda. Selain bisa jadi hobi, nasyid emang oke juga untuk ngebantu kita menghibur sobat dalam bingkai ibadah dan syariah.

(Fulan bin fulan)

Nasyid kukenal ketika SMA kelas 1. waktu itu aku dengar lagu “sekeping hati”nya saujana, “jagalah hati”nya snada, “puji-pujian”nya Raihan deelel. Selain enak, liriknya juga bikin hati kita nyes alias sejuk bin segar. Lirinya sederhana, tapi bermakna. Nasyid akan jadi santapan nikmat bagi pendengar bila disampaikan dengan ikhlas dan dengan kombinasi nada-nada yang harmonis.
Variatif! Itulah juga sifat yang melekat nasyid zaman sekarang. Mulai dari yang nadanya mendayu-dayu sampai yang nadanya bikin semangat kita terbakar untk jihad. Dari yang pakai alat musik tiruan (alias cuap-cuap mulut) sampai yang pakai drum, gendang, dan keyboard. Yoi. Kupikir inilah bentuk ideal sebuah seni, ia gabungkan unsur etik,estetik, perkembangan teknologi dan yang terpenting “ syariatik (maksa bagnet)
Untuk macam-macam event, nasyid pun udah komplit. Yu mau ngadain acara syukuran, maulidan, sampai walimahan, sampai demo di jalanan semuanya dah tersedia di nasyid. Beberapa rekanku di ma’had darul muwahhid srengseng udah jadi bintang tamu di acara resepsi pernikahan. Suara mereka yang udah bisa nyamain alat musik (alias acapela) emang bikin ketar-ketir penonton. Ceritanya ketika ngisi di sebuah panggung hiburan walimahan (nikah) di TangeranG, spontan, tetanggaku ibu Ros (maksudnya : nama anaknya Ros) yang lagi nikmatin hidangan walimahan berujar ringan “Enak ya denger lagu nasyid, engga berisik, dan enak didengar. Dibandingin sama lagu dangdut dan lagu ‘bang sms’ mending lagu ini aja”. Tuh dengar, pengakuan yang jujur apa adanya tentang nasyid.
Bokap ku yang dulu praktisi dangdut sekarang udah mulai beralih ke nasyid, semenjak aku sering nyetel kaset nasyid. Katanya nasyid itu adalah musik surga dunia.
Menjadi seorang musnyid juga bisa menjadi pahlawan dakwah. Bagaimana bisa? Tentu bisa. Ada beberapa alasan yang membuatku berpendapat demikian. Pengalaman ku dan munsyid lain bisa dibilang sangat sukses dan mengesankan. Waktu ada acara PTK Expo 2007 di TMII, kami tim nasyid menjadi delegasi pementasan seni perwakilan kampus. Kalau dari kampus lain menampilkan band, seni daerah, atau seni-seni konvensional lainnya, maka kami maju dengan nasyid kami. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan, menyenangkan sekaligus mempelopori dunia kampus PTK. Aku bahagia bersama teman-teman ketika nasyid manggung di TMII. Kami yakin dengan majunya nasyid sebagai pentas seni, opini para hadirin di sana menjadi terbuka lebar. Nasyid harus menancapkan eksistensinya di manapun dengan karakteristiknya yang khas : Syar’i. sungguh keajaiban.
Tetapi emang bener, jadi munsyid itu berat banget. Kudu ikhlas dan tawadhu. Waduh waduh gimana tuh? Yoi bro, karena nasyid itu adalah hiasan dakwah. Jadi ya harus ikhlas, inget kan hadits nabi, kalo ente niatnya karena harta atau perempuan maka ente cuna dapet apa yang ente niatin. Kalo ente bernasyid niatnya karena dipuji dan mejeng kaga karuan dan kagak jelas tujuannya, sama aja ente ngabisin suara doing. Jadinya kita emang mesti ikhlas, las, las….

Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa
(Saujana, sekeping hati)

Tapi sobat, nasyid itu kebanyakan Cuma jadi musik ‘sampingan’ aja. Tampil sekali bubar bubar. Kalau mau mentas latihannya Cuma satu malam. Trus kalo tampil orangnya ganti-ganti, asal nyomot aja gak pakai piker-pikir panjang. Kalau hal ini dibiarkan terus, nasyid tidak akan mengakar dalam dunia seni. Dan hasilnya minim, paling-paling Cuma bikin orang ngetawain tuh munsyid. Kan ini sama saja ‘menjatuhkan’ diri sendiri. Makanya mengelola dan memanaj dengan maksimal itu sangat penting.

Hal itulah yang menjadi latar belakang berdirinya Asosiasi Nasyid Nusantara (ANN). Sebuah wadah yang akan menyatukan para munsyid. Asoiasi yang dipimpin oleh mas Aal (salah satu jebolan grup nasyid SNADA) ini gimanapun harus jadi soluDFXsi nasyid-nasyid kita. Karena tanpa wadah, gimana nasib tim nasyid yang banyak tapi terseok-seok dan akhirnya jatuh tak terdengar. 19 Agustus 2006, ide gerakan ini akhirnya menjadi insitusi. Alhamdulillah

Tapi kebanyakan orang bingung, apa bedanya nasyid dengan lagu relijius?
Kata mas Aal, nasyid adalah sarana dakwah jalur seni yang bertujuan untuk menarik minat masyarakat kepada Islam. sekaligus alternatif bagi mereka yang ingin mencari hiburan yang lebih syar’i. Itulah nasyid. Sedangkan lagu relijius, ia hanyalah bagian dari sekian lagu yang dinyanyikan para penyayi yang tujuannya adalah ”komersialisme” dan materi. Lagu relijius bisa dinyanyikan siapa aja dan dengan tujuan apa aja. Artis-artis TV yang terkenal jahili pun dengan ringanya melantunkan lagu syar’i.

Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini

Jagalah hati, karena hati adalah “raja” bagi kita semua. Jagalah hati, karena bisa jadi niatmu telah terobsesi dengan ambisi duniawi
Aku teringat pada sahabat lama. Waktu itu temanku yang bernama “X” telah berlatih nasyid secara intens untuk acara Kuliah Umum di SMA. Namun acaranya batal, dan nasyid pun tidak bisa tampil. Keadaan ini membuat temanku kecewa. Dan kekecewaan itu ia ekspresikan dengan keenggnan nya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan Islam. Sepele saja, ternyata dia sangat ingin tampil di depan 800 mahasiswa. Ia telah terobsesi menjadi artis yang gemar menjaring popularitas diri. Na’udzubillah.

Keadaan itu langsung kurespon dengan cepat. Kuberikan kepadanya pemahaman yang cukup tentang dakwah, nasyid, dan hubungannya. Kami bersama berkomitmen untuk ikhlas dan tidak mengharapkan posisi palsu

Fren, dulu aku punya temen satu nasyid yang gabung di paduan suara. Maklum, vokalnya keren dan gurih untuk di denger. Singkatnya, beliau betah dan bult in dengan komunitas ini. Tapi yang bikin gak berkenan di hatiku, beliau ga betah di nasyid. Walllahu a’lam ya. Jujur aja, aku rasa di nasyid emang gak bisa ngejanjiin yang muluk-muluk. Hanya bernyanyi dalam kerangka dakwah dan kudu lurus niatnya. Bagi yang belum ”ditarbiyah” dengan baik, nasyid pada puncaknya akan membawa kejenuhan dan kehilangan makna. Itulah sebabnya banyak teman-teman yang berhatuhan dalam nasyid. Mereka kembali kepada musik-musik jahili...

Berhibur tiada salahnya
Menghibur tiada salahnya
Tapi yang penting jagalah diri dan hati
Agar tidak punya keinginan untuk dipuji
Apalagi dijadikan idola-idoli
Salut buat munsyid yang membina dirinya
Dan memahmkan fikrahnya
Demi terwujudnya makna-makna tersirat lagu
Bermuatan spirit, ruhi, dan dakwah ilallah

No Response to "BAHAGIANYA AKU MENJADI SEORANG MUNSYID"

Poskan Komentar

Powered by Blogger | Blogger by Blog Nu Hahi