Khutbah Jum'at keenam ini mengangkat tema Menjaga Aqidah Kita. Sebelumnya telah diposting 5 tema khutbah yaitu Bila Bencana Melanda, Bagaimana Menghadapi Bencana, Pemuda Islam dan Perjuangan Islam, Amal di Bulan Dulhijjah, serta Ujian Hidup Bagi Muslim. Semoga Khutbah Jum'at edisi 24 Rabiul Akhir 1431 H yang bertepatan dengan 9 April 2010 ini bermanfaat.
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jama'ah Jum;at yang dirahmati Allah SWT,
Hari demi hari kita lalui, hingga kita bertemu dengan Jum'at kembali. Sebuah hari yang agung, sayyidul ayyam, yang penuh dengan barakah dari Allah SWT. Maka keimanan yang dianugerahkannya kepada kita, ditambah dengan kesehatan yang kita miliki merupakan nikmat yang luar biasa besarnya.
Terhadap segala nikmat yang dianugerahkan Allah Azza Wa Jalla, berlaku sebuah kaidah pelipatgandaan. Syaratnya: mensyukuri nikmat-nikmat itu.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim : 7)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Sesaat sebelum Rasulullah diutus di muka bumi ini, umat manusia benar-benar berada dalam kegelapan. Kehidupannya benar-benar jahiliyah dan penuh dengan kemusyrikan, kesesatan, dan kekafiran. Kompilasi semua kejelekan ini terhimpun dalam istilah dhalalun mubin "kesesatan yang nyata"
وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
..mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Ali Imran : 164)
Setelah diutusnya Rasulullah, zaman berganti. Hanya dalam tempo 23 tahun, terciptalah sebuah masyarakat baru yang benar-benar berbeda secara diametral dengan zaman sebelumnya. Al-Qur'an mengistilahkan mereka dengan khairu ummah "umat terbaik."
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran : 110)
Itulah generasi terbaik yang dipuji oleh Allah SWT. Dan syarat utama untuk menjadi generasi terbaik itu adalah beriman kepada Allah. Artinya, imannya harus kokoh. Ketauhidannya harus kuat. Aqidahnya harus selamat. Ulama' dan tokoh kebangkitan umat, Hasan Al-Banna mengistilahkannya dengan salimul aqidah.
Akhwatal iman, hafidzakumullah.
Diantara syarat salimul aqidah adalah selamatnya aqidah kita dari segala bentuk takhayul dan kepercayaan ghaib yang tidak bersumber dari Al-Qur'an dan sunnah. Ini adalah salah satu hal melemahkan aqidah banyak orang.
Seperti peristiwa sepekan lalu di Jakarta. Pada peristiwa kebakaran hebat di pusat perbelanjaan Ramayana di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Salah satu foto yang mengabadikan kebakaran tersebut tampak kobaran api yang menyerupai wajah manusia. Dalam foto tersebut dengan jelas terlihat bagian-bagian anggota wajah. Memang tidak secara utuh membentuk wajah. Bagian paling jelas adalah yang menyerupai mata, alis, dan hidung.
Maka dalam waktu singkat foto tersebut menyebar dan menjadi bahan perbincangan. Televisi dengan cepat menuangkannya menjadi bahan gosip yang menghebohkan. Media cetak tidak ketinggalan. Website, blog, dan jejaring sosial di internet juga marak memperbincangkan. Yang menjadi masalah adalah, konten pembicaraannya sudah mengarah kepada hal-hal yang merusak aqidah.
Ada yang menyimpulkan bahwa itu merupakan refleksi makhluk ghaib penjaga pasar. Ada yang menegaskan bahwa pasar tersebut memang angker dan menakutkan. Dan lain sebagainya.
Timbulnya kepercayaan-kepercayaan yang tidak berdasar ini kemudian berpengaruh pada sikap manusia. Ada yang kemudian menjadi takut terhadap "penjaga" pasar. Ada yang tidak berani keluar sendirian di malam hari. Sampai yang lebih parah, merencanakan memberikan tumbal.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Tumbal yang merupakan istilah dari bahasa Jawa dalam kamus umum bahasa Indonesia diartikan sebagai "obat penangkal penyakit atau penolak kesialan." Namun dalam praktiknya, tumbal lebih luas dari itu. Seperti penangkal penyakit, penangkal bala', penangkal malapetaka, untuk mendatangkan keselamatan, kebaikan, dan lain-lain. Dalam konteks rencana paska kobaran api membentuk wajah tadi, tumbal dimaksudkan agar "penjaga" pasar tidak mengganggu.
Tumbal yang biasanya berupa sembelihan, jelas bertentangan dengan aqidah Islam dan termasuk kesyirikan. Sembelihan adalah ibadah yang tidak boleh diperuntukkan kepada selain Allah SWT.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An'am : 162)
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dalam Tafsirnya dengan mengatakan: "Allah Ta'ala memerintahkan nabi-Nya untuk mengabarkan kepada orang-orang musyrikin yang mengibadahi selain Allah Azza wa Jalla dan menyembelih untuk slein-Nya, bahwa beliau hanya mengikhlaskan sholat dan penyembelihan kepada Allah Azza wa Jalla semata-mata, tidak ada sekutu baginya."
Rasulullah SAW bersabda,
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. (HR. Muslim)
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits ini: "Adapun menyembelih untuk selain Allah, maksudnya adalah menyembelih dengan selain nama Allah Ta'ala, seperti orang yang menyembelih untuk berhala atau salib atau untuk Musa a.s atau Isa a.s atau untuk kab'bah atau selainnya. Semuanya ini adalah haram dan sembelihannya tidak halal, baik penyembelih seorang muslim atau nasrani atau yahudi sebagaimana pendapat Imam Syafi'i dan yang disepakat oleh ulama syafi'iyah. Jika bersamaan dengan itu ia mengagungkan sesuatu dengan tujuan penyembelihan selain Allah dan beribadah kepadanya, maka itu adalah kekufuran. Jika yang menyembelih sebelumnya adalah seorang muslim maka ia telah menjadi murtad disebabkan penyembelihan itu."
Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Tumbal juga menyebabkan apakah seseorang itu masuk surga atau masuk neraka. Meskipun hanya seekor lalat yang menjadi tumbalnya. Seperti hadits dari Thoriq bin Syihab:
Nabi SAW bersabda " Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang masuk neraka karena seekor lalat pula." Para sahabat bertanya: "Bagaimana hal itu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorangpun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: "Persembahkan kurban kepadanya." Dia menjawab: "Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya." Merekapun berkata kepadanya lagi: "Persembahkan sekalipun seekor lalat." Lalu orang itu mempersembahkan seekor lalat dan merekapun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanannya, maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain: "Persembahkan kurban kepadanya." Dia menjawab: "Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah 'Azza wa Jalla." Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya, orang ini masuk surga." (H.R. Imam Ahmad).
Kaum muslimin yang dirahamati Allah,
Karenanya marilah kita jaga aqidah agar tetap bersih, agar tetap selamat. Janganlah kita menjerumuskan diri ke dalam dosa yang tidak terampuni. Yang hanya akan membuat kita mendapatkan kemurkaan Allah dan siksa neraka-Nya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa : 48)
وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Banyak orang yang menyangka bahwa dengan tumbal, manusia tidak akan diganggu jin dan sebagainya. Namun sesungguhnya, persangkaan ini keliru sama sekali. Yang benar adalah sebaliknya, bahwa orang yang memberi tumbal justru akan semakin cemas dan takut, sebagaimana jin yang diibadahi semakin bangga dan sombong.
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rahaqa.(QS. Al-Jin : 6)
Rahaqa, selain diartikan dengan kesesatan atau dosa, oleh sebagian mufassirin juga diartikan dengan sombong dan takaburnya jin tatkala melihat manusia mengibadati mereka dan berlindung kepada mereka.
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan hidayah oleh Allah SWT sehingga aqidah kita terjaga, sampai menghadap Allah kelak.
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Khutbah Jum’at: Menjaga Aqidah Kita
20.15
Blog Nu Hahi { HaSaN HiDaYaT }
Posted in
Khutbah Jum'at
Khutbah Jum'at: Menjaga Bumi
20.13
Blog Nu Hahi { HaSaN HiDaYaT }
Khutbah Jum'at terbaru ini berdekatan dengan Hari Bumi. Banyak pembicaraan mengenai upaya penyelamatan bumi yang kondisinya semakin mengkhawatirkan. Fenomena pemanasan global, seperti pencairan es di kutub, longsor, banjir, badai tropis, pencemaran air dan udara, merupakan bukti bahwa bumi semakin rusak. Karenanya Khutbah Jum'at edisi 8 Jumadil Awal 1431 H yang bertepatan dengan 23 April 2010 mengambil tema: Menjaga Bumi.
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Hari-hari yang kita lalui, jum'at yang satu ke jum'at lainnya, termasuk jum'at yang lalu ke jum'at hari ini merupakan waktu yang tak pernah lepas dari nikmat Allah SWT. Sementara bumi yang kita tempati adalah tempat paling indah di dunia ini. Dan tidak pernah ada duanya, sampai ketika kita atas izin Allah dimasukkan ke dalam surga. Tempat terindah yang keindahannya tidak bisa dibaca oleh lintasan pikiran dan imajinasi manusia.
Nikmat bumi adalah nikmat besar. Bayangkan saja jika Allah SWT menarik lapisan atmosfir yang ada di atas bumi. Pastilah dalam sekejap matahari akan membakar seluruh makhluk yang ada di atas bumi. Dan kemudian bumi itu ikut terbakar karenanya. Atau bayangkan seandainya polusi yang dilakukan manusia terus terjadi dalam skala yang berlipat ganda, lalu lapisan karbondioksida menutup langit kita. Bumi tidak akan sehangat sekarang, yang datang kemudian adalah dingin yang menghancurkan. Bahkan sebelum itu, manusia akan lebih dulu mengalami kematian karena udara kotor yang sangat akut telah dihirup dalam kesehariannya.
Maka nikmat bumi adalah nikmat yang harus kita syukuri. Dan Islam, sebenarnya memiliki perangkat-perangkat untuk mensyukurinya, sekaligus sebagai upaya menjaga bumi ini.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Hari ini kita telah mendapati kerusakan bumi yang cukup hebat. Pada 28 Februari 2008 yang lalu, para peneliti menyebutkan bahwa lapisan es di semenanjung Wilkins di Antartika, yang selama ini merupakan lapisan es abadi sudah mulai mencair dengan kecepatan yang sangat mengejutkan. Tentu saja berita ini mengejutkan dunia. Namun yang lebih penting, pencairan es abadi ini, menurut penelitian itu, terjadi akibat pemanasan global. Kekhawatiran yang kemudian muncul adalah tenggelamnya pulau-pulau kecil jika kondisi ini dibiarkan.
Di negeri kita, bencana demi bencana juga terjadi. Yang semula mungkin tidak pernah terpikirkan. Saat kemarau, maka yang datang adalah kemarau panjang. Akibatnya, air sulit dicari, pertanian gagal panen, dan sebagainya. Sementara jika hujan, seringkali yang dirasakan bukan hujan sebagai rahmat, tetapi hujan yang membawa banjir.
Kerusakan laut juga luar biasa. Jumlah ikan menjadi berkurang cukup signifikan. Bahkan beberapa jenis ikan sudah punah. Data terbaru menunjukkan di tingkat dunia 77 persen dari 441 spesies ikan sudah diambang kepunahan.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Allah SWT mengingatkan tentang fenomena semacam ini melalui firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum : 41)
Melalui ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa kerusakan bumi baik di darat maupun di laut, adalah karena ulah manusia. Kesalahan manusia. Dan kerusakan itu tidak akan bisa dihentikan kecuali jika manusia menyadari kesalahannya kemudian melakukan perbaikan.
Ketika menafsirkan ayat ini Imam Asy-Syaukani mengatakan, "(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan menjelaskan bahwa perbuatan syirik dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta."
Dalam ayat yang lain, Allah berfirman dalam bentuk nahy (larangan) agar manusia tidak berbuat kerusakan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A'raf : 56)
Ibnu Qayyim mengatakan, "Mayoritas ahli tafsir mengatakan, janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan mengajak ketaatan kepada selain Allah Azza wa Jalla setelah Allah Azza wa Jalla memperbaikinya dengan mengutus para Rasul dan menerangkan syariat serta mengajak supaya taat kepada Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya menyembah selain Allah, berdoa kepada selain-Nya dan melakukan perbuatan syirik kepada-Nya adalah kerusakan paling besar di muka bumi. Bahkan kerusakan bumi pada hakikatnya hanyalah disebabkan oleh syirik kepada Allah dan menyalahi perintah-Nya."
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Jadi penyebab rusaknya bumi dan berbaga bencana yang menimpa itu bisa diklasifikasikan menjadi dua. Pertama adalah penyebab tidak langsung, kedua penyebab langsung.
Penyebab tidak langsung adalah seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim dan Imam Asy-Syaukani saat menjelaskan ayat-ayat tentang kerusakan bumi. Yaitu syirik kepada Allah dan maksiat kepada-Nya.
Mungkin kita akan bertanya: bagaimana mungkin syirik kepada Allah dan bermaksiat kepada-Nya, misalnya meninggalkan shalat dan melakukan zina, bisa membuat bumi menjadi rusak? Jawabannya adalah karena Allah SWT yang menciptakan bumi ini dan telah menggariskan hukumnya. Ia telah berjanji bahwa rezeki akan dibukakan kepada siapa yang beriman dan bertaqwa, sebaliknya, jika manusia durhaka kepada Allah SWT maka yang didatangkan adalah siksa diantaranya berupa bencana alam dan musibah demi musibah.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A'raf : 96)
Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, "Diantara pengaruh buruk perbuatan maksiat terhadap bumi adalah banyak terjadi gempa dan longsor di muka bumi serta terhapusnya berkah. Rasulullah SAW pernah melewati kaum Tsamud, beliau melarang para sahabat melewati kampung tersebut kecuali dengan menangis. Beliau juga melarang mereka meminum airnya, menimba sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar menggunakan air yang mereka bawa untuk mengadon gandum. Karena maksiat kaum tsamud ini telah mempengaruhi air di sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen buah-buahan."
Di samping itu, bumi dan segenap unsur di dalamnya, baik itu gunung, lautan, pepohonan dan binatang adalah makhluk yang tunduk pada Allah. Mereka semua Islam, tunduk kepada Allah. Mereka juga menjadi sayang jika manusia tunduk kepada Allah, namun jika manusia bermaksiat, mereka benci. Maka jika seorang yang ahli maksiat meninggal, maka bumi, pepohonan dan binatang terlepas dari kerusakan yang diakibatkan oleh maksiatnya.
وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
(Kematian) seorang hamba yang fajir (ahli maksiat) akan menjadikan manusia, negeri, pepohonan dan binatang terlepas (dari kerusakan akibat maksiatnya). (HR. Bukhari dan Muslim)
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Penyebab kedua adalah penyebab langsung. Yakni aktifitas-aktifitas yang dampak atau akibatnya bisa langsung diamati dan dibuktikan secara indrawi berefek pada kerusakan bumi. Sebenarnya kategori ini juga masih masuk dalam ungkapan Ibnu Qayyim dan Imam Syaukani serta para mufassirin yakni maksiat. Hanya saja ini adalah maksiat khusus yang merupakan pelanggaran terhadap hubungan baik dengan alam (hablum minal alam).
Salah satu contohnya adalah menebang hutan secara liar. Sehingga jumlah pepohonan semakin sedikit. Lahan hijau semakin sempit. Akhirnya udara yang sudah sedemikian tercemar tidak bisa dibersihkan atau dinetralisir.
Sementara Islam justru memotivasi umatnya untuk gemar menanam pohon. Tidak hanya kebaikan dunia yang akan diperolehnya, tetap juga pahala di akhirat.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً
Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah. (HR. Bukhari)
Dalam hal ini, Imam Qurthubi bahkan menjelaskan tentang hukum fardhu kifayah bagi kaum muslimin untuk menanam pohon, dan perlu memerintahkan rakyatnya. "Bercocok tanam termasuk fardhu kifayah. Pemerintah berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang semakna dengan itu, termasuk menanam pohon."
Betapa pentingnya menanam pohon atau reboisasi ini, sampai-sampai disebutkan dalam satu hadits agar seorang muslim tetap melanjutkan menanam pohon meskipun kiamat tiba, sementara sudah ada benih yang siap ditanam.
إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah. (HR. Ahmad dan Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Hadits ini di-shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)
Islam juga melarang pencemaran. Dalam hadits disebutkan pencemaran air, seperti larangan kencing di air yang diam. Masa itu memang belum ada pencemaran udara. Tetapi dari larangan ini bisa diqiyaskan bahwa pencemaran udara juga dilarang.
Demikianlah, penyebab kerusakan itu harus kita hindari untuk menjaga bumi kita dan mendapatkan berkah dari Allah SWT.
وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Bumi ini adalah amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka kewajiban kita adalah memeliharanya agar tetap layak huni. Kewajiban kita adalah menjaga kelestarian dan keseimbangan alam sehingga tidak justru semakin rusak.
Dengan bertauhid kepada Allah, keimanan yang benar. Serta kita menjauhi segala maksiat, baik yang berdimensi hablum minallah, hablum minannas, maupun hablum minal alam. Saat penduduk negeri ini beriman dan bertaqwa, saat itulah keberkahan akan terasa, rezeki akan datang dari segenap penjuru langit dan bumi.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A'raf : 96)
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
[Khutbah Jum'at edisi 8 Jumadil Awal 1431 H, 23 April 2010 M; Bersama Dakwah]
Posted in
Khutbah Jum'at
Khutbah Jum'at: Arogansi, Provokasi dan Anarkisme
20.13
Blog Nu Hahi { HaSaN HiDaYaT }
Khutbah Jum'at kali ini kebetulan berdekatan dengan tragedi Tanjung Priok yang terjadi kemarin, Rabu, 14 April 2010. Tragedi Tanjung Priok itu sendiri telah menimbulkan banyak jatuh korban; 3 orang meninggal dan puluhan luka-luka. Ada tiga catatan penting yang harus diwaspadai dan dihindarkan dari umat; arogansi, provokasi, dan anarkisme. Karenanya Khutbah Jum'at edisi 1 Jumadil Awal 1431 H yang bertepatan dengan 16 April 2010 mengambil tema ini: Arogansi, Provokasi dan Anarkisme.
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jama'ah Jum;at yang dirahmati Allah SWT,
Tidak pernah sedetik pun waktu berlalu, atau lebih singkat daripada itu, kecuali nikmat Allah dianugerahkan kepada kita. Nikmat itu bisa berupa nikmat yang ada dalam fisik dan jiwa kita; kesehatan, berfungsinya semua organ dengan normal, akal yang masih bisa berfikir, dan lain-lain. Juga nikmat di luar diri kita untuk menunjang hidup kita atau menjadi syarat agar kehidupan tetap berjalan; berputarnya bumi pada porosnya, terbit dan tenggelamnya matahari pada waktunya, dan lain sebagainya. Semakin kita menyadari nikmat-nikmat itu, semakin jelaslah alasan mengapa kita perlu bersyukur kepada-Nya.
Syukur kita yang paling besar dikarenakan kita mendapatkan nikmat terbesar berupa iman dan islam. Tanpa itu, tidaklah mungkin kita berada di majlis yang mulia ini dalam rangka mendengarkan khutbah dan shalat Jum'at berjamaah. Melalui Rasul-Nya, Allah SWT menganugerahkan cahaya setelah berlalunya kegelapan dan kejahiliyahan. Semoga salawat dan salam tetap tercurah padanya, Rasulullah Muhammad SAW, penutup para nabi dan sebaik-baik teladan.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah Azza Wa Jalla,
Kehidupan yang damai adalah harapan kita semua. Kehidupan yang penuh bahagia, penuh kebaikan dan sejahtera adalah keinginan kita semua. Bukan hanya kebahagiaan abadi di akhirat nanti, tetapi juga kebahagiaan dan kedamaian di dunia ini. Inilah yang kita panjatkan dalam doa-doa kita:
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al-Baqarah : 201)
Akan tetapi harapan tidak selalu mewujud menjadi fakta. Keinginan tidak selalu menjadi kenyataan.
Peristiwa bentrokan antara Satpol PP dan warga Koja, Tanjung Priok, dua hari lalu kembali mengajarkan kepada kita, bahwa kedamaian dan ketenangan yang kita cita-citakan bersama, suatu saat bisa terkoyak. Yang terjadi adalah sebaliknya. Maka kita melihat bentrokan itu memakan korban jiwa; 3 orang meninggal dan puluhan luka-luka. Tentu kita sebagai umat Islam merasa prihatin dan berbela sungkawa. Tetapi lebih dari itu, kita pun perlu belajar dan mengambil ibrahnya. Agar peristiwa itu tidak terulang. Agar tragedi itu tidak terjadi kembali.
Jama'ah jum'at hafidhakumullah.
Minimal ada 3 ibrah yang perlu kita ambil dan kita waspadai agar tidak merugikan umat Islam ini. Rugi secara fisik dan jiwa, secara materi, maupun secara citra dan da'awi. Rugi secara fisik adalah terlukanya tubuh sebagian umat Islam dalam peristiwa semacam itu. Rugi secara jiwa jika luka atau sakitnya telah mengakibatkan kematian. Rugi secara materi berarti berkurangnya nilai ekonomis suatu barang, benda, atau aset karena rusak, dibakar, dan sebagainya. Rugi secara citra adalah ketika muncul stigma negatif terhadap umat Islam dari peristiwa tersebut. Entah dikatakan sebagai arogan, destruktif, atau yang lainnya. Kerugian secara citra ini berefek pada kerugian da'awi, bahwa dakwah Islam bisa terhambat karena citra negatif tersebut.
Secara umum Rasulullah SAW melarang hal-hal yang merugikan ini, baik merugikan diri sendiri maupun merugikan orang lain. Beliau bersabda dalam sebuah hadits yang kemudian menjadi kaidah ushul fiqih:
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain. (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi, Hakim, Thabrani, Imam Malik, dan Daruquthni)
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Hal pertama yang perlu kita waspadai dan kita hindarkan adalah arogansi. Hal ini terutama sering terjadi pada pihak yang memiliki kekuasaan, kekuatan, kedudukan, ataupun kelebihan dibanding pihak lain. Dengan perasaan superior itu, sering kali kepentingan dan keinginannya dipaksakan, tanpa melihat apakah ia merugikan orang lain atau tidak.
Peristiwa penggusuran juga pernah hampir terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Saat itu salah seorang gubernur berniat membangun masjid besar di wilayah kekuasaannya. Semuanya bisa berjalan lancar. Hanya satu masalahnya. Di atas tanah yang direncakan akan dibangun masjid besar itu berdiri rumah seorang Yahudi. Yahudi ini tidak mau saat rumahnya hendak diganti rugi. Karena kesal, gubernur mengancam akan menggusur rumah itu.
Merasa terancam, Yahudi ini mendatangi Umar bin Khattab, amirul mukminin saat itu, untuk meminta keadilan. Bagaimana sikap Umar? Umar mengambil tulang binatang, lalu ia gores dengan pedang membentuk sayatan lurus di situ. Yahudi heran saat Umar memberikan tulang itu kepadanya untuk diserahkan pada gubernur yang mau menggusur rumahnya. Bukankah di daerahnya juga banyak tulang, lalau simbol apa sayatan pedang itu? Begitu pikir Yahudi. Namun kemudian ia menyerahkan juga tulang itu pada gubernur.
"Ini dari Umar bin Khattab, saat aku mengadukan masalahku kepadanya." Kata Yahudi itu menjelaskan. Di luar dugaan, gubernur tersebut tiba-tiba pucat dan menarik ancamannya. "Aku minta maaf padamu. Rumahmu tidak jadi kugusur." Ujar Gubernur.
"Mengapa tiba-tiba kau mengubah keputusanmu, padahal Umar hanya memberikan tulang kepadamu?" tanya Yahudi yang masih keheranan. "Ketahuilah, tulang itu adalah simbol. Seakan-akan Umar bin Khattab berkata: 'Berlaku lurus dan adillah, atau aku yang akan meluruskanmu dengan pedang."
Mendengar jawaban itu Yahudi kagum dengan Islam yang penuh keadilan. Ia pun merelakan tanahnya untuk dibangun masjid. Juga merelakan dirinya menjadi muslim. Subhaanallah, Allaahu akbar.
Demikianlah pemimpin yang islami. Ia mengedepankan keadilan, bahkan kepada kelompok minoritas. Ia tidak arogan meskipun apa yang ia lakukan dalam rangka membangun rumah Allah. Apalagi sekedar membangun bangunan duniawi dengan merampas hak orang lain dan menzalimi orang miskin.
Kita doakan semoga para pemimpin kita, para penguasa, para pengusaha, para aghniya diantara kita diberi petunjuk oleh Allah SWT untuk tidak arogan dalam mewujudkan kepentingan-kepentingannya. Dan bagi kita yang memiliki kekuasaan dan kedudukan, hendaklah kita meniru Umar bin Khattab, sekuat kemampuan kita.
Jama'ah jum'at yang dikasihi Allah ,
Ibrah kedua yang perlu kita ambil untuk kita waspadai adalah provokasi. Apalagi saat berkumpul banyak orang. Berada dalam kerumunan massa. Logika massa sudah berbeda dengan logika orang per orang dalam kesendirian. Suasana massa sudah berbeda dengan suasana pribadi-pribadi yang kemudian membentuk massa atau kembali membubarkan diri setelah aksi. Emosi massa jauh lebih sulit dikendalikan daripada emosi individu.
Para pemimpin, ulama', dan tokoh masyarakat perlu menyadari hal ini. Demikian juga kita sebagai umat Islam, meskipun bukan tokoh atau siapa-siapa.
Di sinilah kebijakan seorang pemimpin diuji. Saat ia berada bersama massa. Dan disini pula massa diuji, ketika mulai ada suara-suara provokasi. Maka publik pun mulai membedakan, mana massa santun dan mana yang tidak bisa, biasanya ditandai dari tertibnya aksi massa.
Di sini pula kekuatan diuji. Entah itu kekuatan pribadi atau kepemimpinan. Sebab provokasi itu meningkatkan tensi kemarahan. Jika ia sanggup menahan diri untuk tidak marah, ia adalah orang yang kuat sesungguhnya. Sementara mereka yang terbawa provokasi dan menuruti kemarahannya, mereka orang yang sesungguhnya lemah.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Orang yang kuat bukanlah orang yang bisa mengalahkan lawannya, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah (Muttafaq 'alaih)
Sementara para provokator, mereka itulah orang-orang tercela yang dilaknat Allah. Saat mereka memprovokasi orang lain untuk bertindak brutal, melampaui batas, dan bertindak kejahatan, mereka akan mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang melakukan kejahatan itu.
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang melakukannya, tanpa mengurangi dosa orang itu sedikitpun. (HR. Muslim)
Dalam sejarah Islam, model provokator diperankan oleh istri Abu Lahab, yang diabadikan Allah SWT dalam surat Al-Lahab.
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (QS. Al-Lahab : 4)
Pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. Isteri Abu Lahab disebut pembawa kayu bakar karena dia selalu menyebar-nyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan nabi Muhammad SAW dan kaum Muslim. Bukankah berarti para provokator adalah penerus istri Abu Lahab ini?!
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Ibrah ketiga yang perlu kita ambil untuk kita waspadai agar tidak terjadi lagi adalah anarkisme. Tindakan anarkis. Kekerasan, kerusuhan, yang skalanya menjadi lebih luas karena berpadu dengan emosi massa.
Anarkisme yang menimbulkan banyak kerusakan, kerugian, dan bahaya sangat dilarang dalam Islam. Secara umum Al-Qur'an mengingatkan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ
Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi (QS. Al-A'raf : 56)
Sedangkan Rasulullah SAW juga mengabarkan laknat Allah kepada orang-orang yang berbuat narkis:
لعن الله من أحدث حدثاً أو آوى محدثاً
Allah melaknat orang yang berbuat kerusuhan dan orang yang melindunginya. (HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib)
Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah SWT dalam mengambil ibrah dari peristiwa tragedi Tanjung Priok 2010 kemarin sehingga kejadian seperti itu tidak terulang dan umat terhindar dari arogansi, provokasi, dan anarkisme .
وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Terhadap saudara kita sesama muslim, juga berkaca dari tragedi tanjung priok kemarin, marilah kita berupaya untuk saling menolong sehingga arogansi, provokasi, dan anarkisme tidak terjadi. Kita tolong mereka meskipun mereka pelaku ataupun korban dari arogansi, provokasi, dan anarkisme itu. Bagaimana caranya? Diantaranya seperti hadits Rasulullah SAW:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا ، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ
"Tolonglah saudaramu (dalam keadaan) zalim atau dizalimi" ditanyakan kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, kami tahu bisa menolong orang yang dizalimi tetapi bagaimana dengan yang zalim?" Rasulullah SAW menjawab "Cegah kezalimannya" (HR. Bukhari)
Semoga kita dan saudara-saudara termasuk orang-orang yang diberikan hidayah oleh Allah SWT sehingga terjaga dari arogansi, provokasi, dan anarkisme. Dan semoga peristiwa seperti tragedi tanjung priok 2010 kemarin tidak terulang lagi.
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
[Khutbah Jum'at edisi 1 Jumadil Awal 1431 H, 16 April 2010 M; Bersama Dakwah]
Posted in
Khutbah Jum'at
Khutbah Jum'at: Racun-racun Hati
20.11
Blog Nu Hahi { HaSaN HiDaYaT }
Seorang muslim harus menjaga hatinya agar tetap bersih. Apalagi di akhirat nanti hanya dengan hati yang bersih manusia bisa selamat. Sementara harta dan anak-anak tidak memberi kemanfaatan. Menjaga hati adalah pekerjaan berat. Banyak racun-racun yang siap mengotorinya dan membuatnya sakit. Karenanya Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha membahas racun-racun hati agar kita semua bisa menghindarinya. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 7 Jumadil Tsani 1431 H yang bertepatan dengan 21 Mei 2010 M ini adalah: Racun-racun Hati.
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Di awal khutbah ini khatib mengajak kita semua untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Tiada sedetik pun dalam hidup kita, kecuali nikmat Allah menyertai kita. Kita bisa beraktifitas, masih bisa bernafas, ini semua adalah nikmat Allah. Mungkin banyak orang yang mengeluh dan tidak menyadari nikmat-nikmat ini karena mereka sudah terlalu dipengaruhi budaya materialisme. Bahwa bicara nikmat selalu diasosiasikan dengan kekayaan, harta benda, dan parameter-parameter materi lainnya. Jika belum kaya, merasa belum mendapat nikmat. Jika belum memiliki jabatan, merasa belum mendapat nikmat. Padahal, pada hakikatnya nikmat yang paling besar adalah nikmat Islam dan iman. Tanpa keduanya, nikmat-nikmat lain di dunia ini justru tidak berharga.
Shalawat dan salam atas Rasulullah SAW. Suri tauladan terbaik, panutan yang mulia, dan contoh yang sempurna. Kedudukan beliau begitu tinggi. Dan kita semua berharap bisa meneladaninya serta mengikuti pentunjuknya yang tidak lain berupa As-Sunnah.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Alah SWT,
Allah menegaskan bahwa di akhirat nanti, tidak berguna apapun yang dimiliki oleh manusia, kecuali jika ia datang kepada Allah SWT dengan hati yang bersih.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy-Syu'ara : 88-89)
Untuk menjaga agar hati kita tetap bersih, kita perlu menghindarkan diri dari 5 racun-racun hati.
Pertama, Bicara yang Berlebih-lebihan
Lidah adalah nikmat. Namun ia bisa berbuah adzab saat manusia tidak pandai menjaganya. Bahkan Rasulullah memperingatkan kebanyakan manusia disiksa di neraka karena tidak mampu menjaga lidah ini.
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
Tidaklah manusia itu wajahnya dipanaskan dengan api neraka melainkan karena akibat dari lidahnya. (HR. Tirmidzi, Ibnu Mjaha dan Hakim)
Itulah jika lidah telah membuahkan pembicaraan yang berlebihan. Pembicaraan yang berlebihan adalah pembicaraan yang membawa madharat, atau kadar madharatnya lebih banyak daripada kemanfaatannya. Apalagi jika tidak ada kemanfaatan sama sekali dalam pembicaraan itu.
Pembicaraan berlebihan juga bisa berwujud dusta, menghina orang lain, mengolok-olok orang lain, atau menyakiti orang lain. Terlebih jika pembicaraan berlebihan itu sudah tergolong fitnah. Na'udzubillah.
Sebaliknya, dengan lidah pula, manusia bisa selamat dan mendapatkan ridha dari Allah SWT. Dengan demikian, maka tempat akhirnya adalah surga. Di sana ia mendapatkan kebahagiaan abadi, kebahagiaan yang tiada putusnya. Karena lidah juga.
Uqbah pernah bertanya kepada Nabi SAW: "Wahai Rasulullah, apa yang bisa menyelamatkan diriku?" Rasulullah menjawab:
أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ
Jagalah lidahmu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Kedua, Memandang yang Berlebih-lebihan
Allah juga memberikan nikmat mata dan penglihatan kepada kita. Ini merupakan nikmat yang sangat besar dan orang-orang rela membayar mahal untuk mendapatkan penglihatan yang sempurna. Namun bersamanya, ada racun hati saat pandangan tidak terkendali.
Karenanya Allah SWT memberikan petunjuk mengenai hal ini, kepada orang beriman baik laki-laki maupun perempuan untuk ghadhul bashar:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,... (QS. An-Nur : 30-31)
Memandang berlebihan merupakan racun hati. Itulah saat kita memandang lawan jenis tanpa kendali. Dengan disengaja. Bukan pada pandangan pertama yang secara kebetulan kita dapatkan. Pandangan berlebihan ini sudah tergolong zina mata. Dan ia adalah racun hati yang berbahaya.
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنُ زِنْيَتُهَا النَّظَرُ
Telah ditetapkan atas manusia bagiannya dari zina, ia pasti mendapatkan hal yang demikian itu. Zinanya kedua mata adalah memandang... (HR. Ahmad)
Ketiga, Bergaul/berinteraksi yang Berlebih-lebihan
Manusia memang membutuhkan pergaulan dan interaksi dengan sesamanya. Sebab manusia adalah makhluk sosial yang takkan mampu hidup sendiri tanpa campur tangan orang lain. Namun pergaulan dengan sesama inipun harus tetap dalam kerangka agama. Bukan pergaulan yang seenaknya. Tanpa batas dan tanpa aturan.
Memilih teman bergaul juga harus diperhatikan. Sebab interaksi dengan orang lain atau lingkungan selalu mengakibatkan salah satu dari dua hal: memepengaruhi atau dipengaruhi. Mewarnai atau terwarnai. Karenanya kita perlu menjaga dengan siapa kita bergaul dan bagaimana agar pergaulan kita tetap dalam batas-batas sya'ri, terutama jika pergaulan itu terhadap lawan jenis.
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi : 28)
Keempat, Makan yang Berlebih-lebihan
Makan yang berlebih-lebihan adalah racun hati berikutnya. Ia bisa menjadi sumber penyakit fisik, juga bisa mengotori dan mematikan hati. Selain porsinya yang wajar dan seimbang, makanan yang masuk ke perut kita hendaklah dijaga agar memenuhi dua kriteria: halal dan thayib.
Makan yang ideal adalah sepertiga kapasitas perut kita. Sepertiganya lagi diisi air, dan sepertiganya lagi ruang untuk udara. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW:
مَا مَلأَ آدَمِىٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Tidaklah manusia memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah ia memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang belulangnya. Jika ia harus mengisi perutnya, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kelima, Tidur yang Berlebih-lebihan
Ini biasanya berhubungan erat dengan makanan. Makan yang berlebihan cenderung mengakibatkan tidur yang berlebihan. Jika dua paket ini sudah berkumpul, maka berikutnya adalah kejelekan dan kemaksiatan yang mendominasi. Kita perlu berhati-hati.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Semoga lima racun hati tersebut bisa kita hindari dan Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya pada kita sehingga hati kita tetap terjaga.
وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Bicara berlebihan, memandang berlebihan, bergaul berlebihan, makan berlebihan, dan tidur berlebihan merupakan racun-racun hati yang tidak hanya bisa mengotori hati kita tetapi juga bisa mematikan hati kita. Jika demikian maka tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menghidarinya, menjauhinya. Tanpa itu, apalah yang bisa menyelamatkan kita di hadapan Allah kelak.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy-Syu'ara : 88-89)
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Posted in
Khutbah Jum'at
Khutbah Jum'at: Suap dan Korupsi dalam Perspektif Islam
20.11
Blog Nu Hahi { HaSaN HiDaYaT }
Kasus Gayus dan kasus-kasus serupa yang mencuat akhir-akhir ini menguak dua hal yang masih kerap terjadi, yakni suap dan korupsi. Karenanya Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha membahas keduanya dalam pandangan Islam, untuk menguatkan keimanan kita agar dihindarkan Allah dari perilaku suap dan korupsi. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 15 Jumadil Awal 1431 H yang bertepatan dengan 30 April 2010 M ini adalah: Suap dan Korupsi dalam Perspektif Islam.
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Seluruh satuan waktu yang kita lalui dalam dunia ini tidak pernah lepas dari nikmat Allah SWT. Sejak kita berada dalam rahim ibu kita, saat kita dilahirkan, masa kanak-kanak, remaja, sampai dengan hari ini. Semuanya tidak lepas dari nikmat Allah SWT. Karena itulah wajib bagi kita untuk bersyukur kepada Allah SWT. Dan bentuk syukur itu tidak lain adalah taqwa. Yakni berupaya menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Saat kita sendiri maupun dalam kondisi bersama manusia.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Berita yang selama bulan-bulan terakhir ini mengemuka diantaranya adalah kasus mafia pajak. Karenanya dalam khutbah jum'at kali ini, khatib mengajak kita untuk mencermatinya dua hal penting di dalam kasus ini secara Islam. Khatib tidak hendak membahas pajak dalam perspektif Islam. Tetapi khatib hendak mengajak kita bersama membahas suap dan korupsi.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Suap yang dalam istilah fiqih dikenal dengan nama risywah (الرِشْوَةُ) adalah pemberian sesuatu kepada pihak yang berkuasa atas urusan tertentu agar pihak itu memutuskan urusan sesuai kehendak pemberi suap, menggagalkan kebenaran, maupun mewujudkan suatu kebathilan. Jika ada seorang hakim, misalnya. Ia hendak mengadili suatu perkara kita. Lalu kita memberinya sesuatu agar keputusannya memenangkankan kita padahal sebetulnya kita di pihak yang salah, itu termasuk suap.
Sama halnya jika seorang petugas pajak datang kepada kita untuk memeriksa pajak. Lalu kita memberinya sesuatu agar ia meringankan tagihan pajak kita, itu juga termasuk suap.
Contoh yang kedua ini tampaknya yang saat ini sedang mencuatkan banyak kasus ke permukaan. Ada ratusan mafia pajak yang bergentayangan. Mereka menerima suap dari sekian banyak wajib pajak. Dan kasus Gayus katanya masih kelas teri. Na'udzubillah. Kelas teri saja miliaran rupiah, lalu berapa angkanya untuk kelas kakap?
Kasus ini persis seperti kasus pada zaman nabi, meskipun yang dipungut berbeda. Saat itu Rasulullah SAW menugaskan Ibnu Luthbiyah, salah seorang dari suku Azdi untuk menghimpun zakat. Ketika menghadap Rasulullah ia menyerahkan sebagian harta itu, dan sebagian yang lain tidak diserahkan. Ia berkata: "(Harta) ini untuk engkau (zakat), dan yang ini dihadiahkan buatku." Lalu Rasulullah SAW bersabda:
فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ ، فَيَنْظُرَ يُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئًا إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ
Mengapa kamu tidak duduk di rumah ayahmu atau ibumu saja, lalu menunggu kamu diberi hadiah atau tidak. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang darimu mengambil sedikitpun dari (hadiah) itu, kecuali akan dia pikul nanti pada hari kiamat di lehernya, jika (hadiah) itu unta, maka dia (memikul unta) yang bersuara, jika (hadiah) itu sapi, maka (dia memikul sapi) yang bersuara, jika (hadiah) itu kambing, maka dia (memikul kambing) yang mengembik. (HR. Bukhari)
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Hukum suap atau risywah (الرِشْوَةُ) adalah haram. Baik bagi orang yang menyuap (الرَّاشِى) maupun orang yang menerima suap (الْمُرْتَشِى). Adapun dalil dari Al-Qur'an adalah firman Allah SWT:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 188)
Larangan Allah yang bersifat umum dalam ayat ini juga termasuk suap. Karena suap adalah cara yang bathil, memakan harta suap termasuk dilarang oleh Allah SWT.
Kedua, adalah hadits Rasulullah SAW yang secara tegas beliau melaknat baik orang yang menyuap (الرَّاشِى) maupun orang yang menerima suap (الْمُرْتَشِى).
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ
Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap dan penerima suap. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad)
Ketiga, adalah ijma' para shahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in, yang tidak ada seorang pun diantara mereka yang membolehkan suap atau risywah (الرِشْوَةُ) ini.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Seringkali orang-orang ragu-ragu dalam hal suap karena menyangka bahwa itu semacam hadiah saja. Sementara hadiah itu sendiri justru disunnahkan Rasulullah SAW dan bisa menimbulkan saling cinta. Beliau SAW bersabda :
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai. (HR. Baihaqi, Thabrani, dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Sesungguhnya suap berbeda dengan hadiah. Untuk membedakannya, kita bisa melihatnya dari beberapa sisi:
Pertama, suap itu diberikan dengan tujuan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan pemberi suap. Entah itu agar memberikan keputusan yang menguntungkan maupun memberikan keputusan yang merugikan pihak lain. Sedangkan hadiah itu ikhlas, tanpa niatan seperti itu. Sehingga, kalau pun namanya hadiah tapi ada motif seperti itu dibaliknya, ia telah berubah menjadi suap.
Kedua, suap itu membuat orang yang diberi menjadi tidak adil. Ia lebih condong kepada pemberi suap dan cenderung menguntungkannya. Pada aspek ini, sangat tipis perbedaan hadiah dan suap. Jika seorang guru mendapatkan pemberian dari muridnya, misalnya. Lalu dengan pemberian itu ia mengubah nilai dari semestinya, maka pemberian itu telah menjadi suap baginya.
Ketiga, suap itu akan merugikan salah satu pihak. Sedangkan hadiah tidak berpengaruh pada pihak manapun. Contoh yang mudah dalam hal ini adalah ketika memutuskan sesuatu atas dua orang atau lebih. Dengan adanya pemberian dari salah seorang diantaranya kemudian keputusan menjadi berubah dan merugikan orang lain yang tidak memberikan apa-apa, itu termasuk suap.
Keempat, biasanya suap itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi sementara hadiah diberikan secara terang-terangan.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Suap atau risywah (الرِشْوَةُ) ini selamanya haram kecuali untuk mengembalikan hak. Inipun bagi yang memberi suap (الرَّاشِى) karena alasan ini yang pasti dan jelas. Sedangkan bagi pihak yang menerimanya (الْمُرْتَشِى) tetap menjadi haram baginya. Contohnya, seseorang sudah diterima menjadi karyawan. Namun SK-nya tidak diberikan oleh seorang pejabat. Pejabat ini akan tetap menahan SK selama tidak mendapatkan pemberian tertentu. Di sini boleh bagi karyawan yang diterima tadi untuk memenuhi permintaan pejabat (karena terpaksa) namun bagi pejabat, pemberian itu tetap haram baginya.
Beberapa dalil yang menunjukkan ini adalah apa yang dilakukan Ibnu Mas'ud ketika beliau berada di Habasyah. Beliau tidak diperbolehkan lewat, padahal beliau berhak lewat jalan itu. Ternyata penjaganya meminta disuap. Maka Ibnu Mas'ud memberikan dua dinar supaya diperbolehkan lewat. Beliau berkata:
إِنَّماَ الْإِثْمُ عَلىَ القَابِضِ دُوْنَ الدّافِعِ
Dosanya hanya untuk yang mengambil, bukan yang memberi.
Kedua, Jabir bin Zaid, Sya'bi, Atha' dan Ibrahim An-Nakha'i, mereka berpendapat "Tidak mengapa seseorang memberikan suap untuk membela diri dan hartanya jika dia takut perbuatan zhalim menimpanya." Demikian pula banyak atsar para tabi'in yang memperbolehkan hal ini.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Adapun korupsi, yakni perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka, merupakan hal yang juga diharamkan dalam Islam. Bahkan tergolong dosa besar. Karena hakikat korupsi adalah mencuri, bahkan dalam skala besar.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil... (QS. An-Nisa : 29)
Sedangkan korupsi adalah memakan harta dengan cara yang paling bathil. Tentu tingkat keharamannya bahkan lebih besar dari mencuri.
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah : 38)
Jika mencuri hukumannya adalah potong tangan, korupsi juga mendapatkan ancaman serupa, bahkan lebih berat. Ini karena betapa besar dosanya, yang mereka tidak hanya menzalimi jutaan rupiah tetapi sampai miliaran bahkan triliunan rupiah.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa suap dan korupsi adalah hal yang haram dalam Islam dan dosanya amat besar di sisi Allah SWT. Semoga kita mendapat hidayah dari Allah SWT sehingga bisa menghindar dari suap, baik menyuap maupun menerima suap, serta dari korupsi.
وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Lalu bagaimana untuk mengatasi dua problem besar tersebut. Suap dan Korupsi. Yang keduanya seakan telah berakar kuat dan menyebar ke berbagai bidang pekerjaan dan hampir semua daerah.
Pertama, tentu saja membentengi diri kita dan keluarga kita agar tidak terlibat dalam suap dan korupsi. Sebagaimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At-Tahrim : 6)
Jika Anda seorang pegawai, pemimpin, atau pejabat hendaklah mengingat sabda Rasulullah SAW dan berhati-hati karenanya:
هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ
Hadiah-hadiah buat para pegawai/pejabat adalah termasuk ghulul (mencuri). (HR. Ahmad)
Kedua, berupaya memperbaiki sistem. Agar tidak ada kesempatan dan ruang bagi para pejabat publik untuk menerima suap maupun melakukan korupsi. Inilah pekerjaan penting bagi para dai politisi Islam yang berupaya melakukan perbaikan pemerintahan (islahuh hukumah).
Ketiga, bagi para dai, para murabbi, hendaklah lebih giat untuk membentuk masyarakat dan kaum muslimin sehingga mereka menjadi berkepribadian islami (shakhsiyah islamiyah) dan kemudian terwujud masyarakat islami (mujtama' muslim).
Insya Allah jika demikian yang bisa dilakukan, tidak lama kemudian negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur. Setelah itu, hanya keberkahan Allah yang akan memenuhi kehidupan ini.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A'raf : 96)
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
[Khutbah Jum'at edisi 15 Jumadil Awal 1431 H, 30 April 2010 M; Bersama Dakwah]
Posted in
Khutbah Jum'at
Khutbah Jum'at: Mewaspadai Godaan Syetan
20.09
Blog Nu Hahi { HaSaN HiDaYaT }
Allah mengingatkan tujuh kali di dalam Al-Qur'an bahwa syetan adalah musuh yang nyata. Namun demikian, banyak umat Islam yang justru mengikuti langkah-langkah syetan, termakan oleh godaannya. Karenanya Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha membahas bagaimana syetan menggoda manusia agar kita semua bisa mewaspadainya. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 22 Jumadil Awal 1431 H yang bertepatan dengan 7 Mei 2010 M ini adalah: Mewaspadai Godaan Syetan.
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Segala puji hanya milik-Nya yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tak terhitung bagi kita semua. Dan diantara semua kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama. Dengan nikmat itu, nikmat yang lain menjadi bernilai di hadapan Allah. Atas dasar nikmat itu, nikmat yang lain menjadi berharga di sisi Allah. Hanya dengan adanya nikmat itu, nikmat yang lain bermakna bagi kita, dalam pandangan Allah SWT.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengingatkan kita dalam 7 ayat-Nya bahwa syetan adalah "aduwwum mubin" musuh yang nyata. Yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 168, Al-Baqarah ayat 208, Al-An'am ayat 142, Al-A'raf ayat 22, Yusuf ayat 5, Yasin ayat 60, dan Az-Zukhruf ayat 62.
Terkadang Allah mengingatkan secara umum kepada manusia, karenanya beliau memakai khitab "Ya ayyuhan naas" seperti pada QS. Al-Baqarah ayat 168:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 168)
Dan terkadang Allah mengingatkan kaum mukmini secara khusus. Dalam hal ini Dia memakai khitan "Yaa ayyuhal ladziina aamanu" seperti dalam QS. Al-Baqarah ayat 208:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208)
Syetan merupakan musuh yang nyata bagi manusia ini telah memproklamirkan diri sejak diusir Allah dari surga. Dan karenanya Iblis beserta bala tentaranya akan berupaya menggoda manusia dengan berbagai cara.
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ * ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al-A'raf : 16-17)
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Setidaknya ada 12 upaya syetan dalam menggoda manusia yang kita dapatkan dalam Al-Qur'an dan hadits.
1. Syetan menggoda manusia agar parsial dalam memahami dan melaksanakan Islam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208)
2. Syetan menanamkan permusuhan kepada sesama manusia
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah : 91)
3. Syetan menggoda agar manusia lupa kepada Allah
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi (QS. Al-Mujadilah : 19)
4. Syetan mengajak berpaling dari syariat Allah
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf : 36)
5. Syetan mengajak orang taklid
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (QS. Luqman : 21)
6. Syetan menunggangi tukang sihir dan paranormal untuk menyesatkan manusia
إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِىءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِىءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ - قَالَ - فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ
Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu mengutus bala tentaranya, maka yang paling dekat dengan Iblis yang paling besar menggodanya. Lalu salah satunya datang dan berkata: "Aku telah berbuat ini dan itu". Iblis berkata: "kamu belum berbuat apa-apa". Kemudian datang yang lain. Dia berkata: "Tidaklah aku meninggalkan mereka sehingga aku mampu memisahkan antara dia dan istrinya". Lalu iblis mendekatinya dan berkata: "Kamu adalah sebaik-baik pengikutku" (HR. Muslim)
7. Syetan menimbulkan was-was dan ragu-ragu
يَأْتِى الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا وَكَذَا حَتَّى يَقُولَ لَهُ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَ ذَلِكَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ
Datang syetan kepada salah satu diantara kalian, lalu bertanya: "Siapa yang menciptakan ini dan ini, bahkan sampai bertanya siapa yang menciptakan Rabbmu" Maka jika datang was-was demikian berlindunglah kepada Allah dan hentikan (berpikir demikian). (HR. Muslim)
8. Syetan menunggangi penyanyi dan penyair
Abu Said berkata: "tatkala kami berjalan bersama Rasulullah melewati kampung Araj, tiba-tiba datang penyair sedang bernyanyi, lalu Rasulullah SAW bersabda:
خُذُوا الشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُوا الشَّيْطَانَ لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
Tangkap syetan itu atau sergap dia, sungguh seandainya perut seseorang diisi dengan muntahan itu lebih baik daripada hati mereka diisi dengan syair-syiar (HR. Muslim)
9. Syetan menunggangi ulama su' (sesat) dan para pendusta agama
سَيَكُونُ فِى آخِرِ أُمَّتِى أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ
Akan ada pada hari akhir umatku ini manusia menceritakan hadits kepadamu, kamu dan ayahmu, tidak pernah mendengar sebelumnya, maka berhati-hatilah kamu dan waspadalah dengan mereka. (HR. Muslim)
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَتَمَثَّلُ فِى صُورَةِ الرَّجُلِ فَيَأْتِى الْقَوْمَ فَيُحَدِّثُهُمْ بِالْحَدِيثِ مِنَ الْكَذِبِ فَيَتَفَرَّقُونَ فَيَقُولُ الرَّجُلُ مِنْهُمْ سَمِعْتُ رَجُلاً أَعْرِفُ وَجْهَهُ وَلاَ أَدْرِى مَا اسْمُهُ يُحَدِّثُ
Abdullah r.a. berkata: sesungguhnya syetan akan menjelma manusia lalu dia datang kepada suatu kaum lalu bercerita kepada mereka dengan membawakan hadits palsu, sehingga mereka berpecah belah, lalu ada yang berkata: "aku mendengar orang berbicara, aku tahu wajahnya akan tetapi aku tidak tahu namanya ketika menyampaikan hadits." (HR. Muslim)
10. Syetan menggoda dengan menyebar fitnah
لاَ يُشِيرُ أَحَدُكُمْ عَلَى أَخِيهِ بِالسِّلاَحِ ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِى يَدِهِ ، فَيَقَعُ فِى حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ
Janganlah salah seorang diantara kamu mengacungkan alat tajammu ke saudaranya, karena dia tidak tahu barangkali syetan akan mencabut alat tajam itu dari tangannya lalu mengena kepada kawannya lalu dia masuk ke jurang api neraka. (HR. Bukhari)
11. Syetan menggoda orang yang sedang beribadah
Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang hukum menoleh saat shalat, maka beliau bersabda:
هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ
Dia adalah pencurian syetan. Syetan itu mencuri shalat salah satu diantara kalian. (HR. Bukhari)
12. Syetan menggoda lewat mimpi
الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللَّهِ ، وَالْحُلُمُ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا حَلَمَ أَحَدُكُمْ حُلُمًا يَخَافُهُ فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ، وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا ، فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ
Mimpi yang baik itu datangnya dari Allah dan mimpi jelek itu dari syetan. Maka jika salah satu diantara kamu bermimpi jelek dan merasa ketakutan segeralah meludah ke sebelah kiri dan berlindung kepada Allah dari kejelekan mimpi. Sesungguhnya yang demikian itu tidak membahayakan. (HR. Bukhari)
Demikianlah diantara upaya syetan menggoda manusia. Marilah kita mewaspadai godaan-godaan itu. Semoga kita diselamatkan Allah dari itu semua.
وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Godaan syetan yang demikian gencar membuat kita harus waspada dan membekali diri agar tidak masuk dalam perangkapnya. Maka kita harus senantiasa berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari godaan syetan, bertawaudz, sering beristighfar, meningkatkan ibadah dan berupaya menjaga iman dan taqwa kita.
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Posted in
Khutbah Jum'at
Khutbah Jum'at: Kedudukan Shalat dalam Islam
20.08
Blog Nu Hahi { HaSaN HiDaYaT }
Perhatikanlah rekan-rekan kita di kantor atau teman-teman di kampus. Ternyata ada sebagian muslim yang demikian mudah meninggalkan shalat. Tanpa merasa bersalah, mereka santai-santai saja saat adzan berkumandang, asyik dengan aktifitasnya hingga waktu shalat berikutnya tiba. Saat kita mengajaknya shalat kadang mereka menjawab "Silahkan duluan saja..." Lebih parahnya jika jawabannya: "Saya titip salam saja ya."
Bisa jadi itu karena mereka tidak memahami kedudukan shalat dalam Islam. Karenanya Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha membahas kedudukan shalat dalam Islam. Di samping untuk mengingatkan mereka yang sering meninggalkan shalat, tema ini juga dibutuhkan untuk menguatkan kita agar istiqamah. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 14 Jumadil Tsani 1431 H yang bertepatan dengan 28 Mei 2010 M ini adalah: Kedudukan Shalat dalam Islam.
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Segala puji hanya milik-Nya yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tak terhitung bagi kita semua. Dan diantara semua kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama. Dengan nikmat itu, nikmat yang lain menjadi bernilai di hadapan Allah. Atas dasar nikmat itu, nikmat yang lain menjadi berharga di sisi Allah. Hanya dengan adanya nikmat itu, nikmat yang lain bermakna bagi kita, dalam pandangan Allah SWT.
Shalawat dan salam atas junjungan dan suri teladan kita, Muhammad Rasulullah SAW. Beliaulah yang dengan gigih dan tanpa takut resiko, mendakwahi umatnya kepada jalan keselamatan. Beliaulah yang dengan penuh kasih sayang, mengajarkan Al-Qur'an dan hikmah kepada umatnya. Beliaulah yang tidak pernah surut langkahnya dalam menghadapi berbagai bahaya, asalkan petunjuk Allah SWT bisa diikuti oleh umat manusia.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Shalat dalam Islam menempati kedudukan yang sangat tinggi. Ia merupakan tiang agama, di mana Islam tidak dapat berdiri kokoh melainkan dengannya. Rasulullah SAW bersabda:
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ
Kepala setiap urusan ialah Islam, sedangkan tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad fi sabilillah. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih menurut Al-Albani)
Ia adalah ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla yang perintahnya secara langsung disampaikan Allah tanpa perantara, yaitu pada malam Mi'raj.
فُرِضَتْ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِهِ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ ثُمَّ نُقِصَتْ حَتَّى جُعِلَتْ خَمْسًا ثُمَّ نُودِىَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّهُ لاَ يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَىَّ وَإِنَّ لَكَ بِهَذِهِ الْخَمْسِ خَمْسِينَ
Shalat difardhukan atas Nabi SAW pada malam ia di-isra'-kan sebanyak lima puluh kali. Kemudian Allah memanggil Muhammad, 'hai Muhammad! Ia sudah tidak dapat diubah lagi. Dengan shalat lima waktu ini, engkau tetap mendapat pahala sebanyak lima puluh kali. (HR. Tirmidzi, Nasa'i dan Ahmad)
Ia juga merupakan amal hamba yang pertama kali dihisab. Rasulullah SAW bersabda:
إن أول ما يحاسب به العبد صلاته فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله
Amal yang akan dihisab pertama kali dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya, baik pula seluruh amalnya. Jika buruk shalatnya, buruk pula seluruh amalnya. (HR. Tirmidzi)
Shalat adalah wasiat terakhir yang diamanahkan Rasulullah SAW kepada umatnya ketika beliau hendak wafat. Saat-saat beliau hendak menghembuskan nafas yang terakhir beliau berwasiat:
الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Jagalah shalat! Shalat……! Begitu pula hamba sahayamu (HR. Abu Dawud, shahih menurut Al-Albani)
Shalat juga merupakan pokok ajaran Islam. Jika ia hilang, maka hilanglah agama secara keseluruhannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الإِِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً ، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا ، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ
Sesungguhnya, ikatan Islam akan terurai satu demi satu. Setiap kali ikatan Islam terurai, orang-orang pun bergantung kepada ikatan berikutnya. Ikatan pertama adalah menegakkan hukum, sedangkan ikatan yang terakhir adalah shalat (HR. Ahmad, Hakim dan Ibnu Hibban)
Shalat juga merupakan batas yang memisahkan antara orang mukmin dan orang kafir. Rasulullah SAW bersabda:
الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Perbedaan antara kami dan mereka adalah shalat. Oleh sebab itu, barangsiapa meninggalkannya, berarti ia telah kafir. (HR. Ahmad dan Ashhabul Sunan)
بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
Batas antara seseorang dan kekafiran itu adalah meninggalkan shalat. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Dengan kedudukan yang demikian tinggi, maka sungguh celaka jika kita meninggalkan shalat. Sungguh kerugian yang tiada taranya jika kita lalai dengan shalat. Sungguh akan menjadi penyesalan yang tiada bandingnya di akhirat nanti jika kita mengaku muslim tetapi masih suka melewatkan shalat.
وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Selain dua hadits terakhir dalam khutbah pertama tadi, banyak hadits lain yang mendukung bahwa hukum meninggalkan shalat adalah kafir. Apalagi jika mengingkari sama sekali kewajiban shalat itu.
Hadits lain yang mendukung itu adalah riwayat Tirmidzi dan Hakim yang menyatakan sahih dengan syarat Bukhari dan Muslim:
لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ
Tidak ada satu amalan pun yang dipandang oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW bahwa jika meninggalkannya dapat membawa kepada kekafiran kecuali shalat.
Maka marilah kita berhati-hati untuk tidak pernah meninggalkan shalat, dan memohon kepada Allah agar kita dianugerahi istiqamah.
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
[Khutbah Jum'at edisi 14 Jumadil Akhir 1431 H, 28 Mei 2010 M; Bersama Dakwah]
Posted in
Khutbah Jum'at
Download Khutbah Jum'at 2010
20.05
Blog Nu Hahi { HaSaN HiDaYaT }

Alhamdulillah, rubrik Khutbah Jum'at selama ini mendapatkan respon yang cukup positif dari para pembaca. Di samping bloggers dan facebookers, banyak juga pembaca Khutbah Jum'at yang datang dari mesin pencari, terutama google. Banyak juga komentar dan masukan yang telah diberikan pembaca Khutbah Jum'at selama tahun 2010 ini.
Diantara masukan yang sangat penting adalah keluhan sebagian pembaca khutbah jum'at karena font Arabnya tidak bisa dibaca dengan jelas pada beberapa komputer tempat mereka mengakses Bersama Dakwah. Karena itulah Bersama Dakwah kini menyediakan Download Khutbah Jum'at 2010. Jadi, selain bisa diakses dalam link-link di bawah seperti biasanya, Khutbah Jum'at 2010 ini juga bisa di-download gratis.
Insya Allah Download Khutbah Jum'at 2010 ini akan selalu di-up date. Begitu ada posting Khutbah Jum'at Terbaru, segera akan disediakan link download-nya di sini. Download Khutbah Jum'at 2010 ini disediakan dalam bentuk e-book dengan format PDF, para pembaca bisa membukanya di PDF reader semacam Acrobat Reader, Adobe Reader, dan lain-lain.
Berikut ini adalah tema-tema Khutbah Jum'at yang bisa di download dalam Download Khutbah Jum'at 2010 ini:
1. Bila Bencana Melanda » DOWNLOAD
2. Pemuda dan Perjuangan Islam » DOWNLOAD
3. Amal di Bulan Dulhijjah » DOWNLOAD
4. Ujian Hidup bagi Muslim » DOWNLOAD
5. Menjaga Aqidah Kita » DOWNLOAD
6. Arogansi, Provokasi, dan Anarkisme » DOWNLOAD
7. Menjaga Bumi » DOWNLOAD
8. Suap dan Korupsi dalam Perspektfi Islam » DOWNLOAD
9. Mewaspadai Godaan Syetan » DOWNLOAD
10. Racun-racun Hati » DOWNLOAD
11. Kedudukan Shalat dalam Islam » DOWNLOAD
12. Kejahatan dan Permusuhan Abadi Yahudi » DOWNLOAD
13. Persiapan Menghadapi Ramadhan » DOWNLOAD
14. Ramadhan dan Kemerdekaan Hakiki » DOWNLOAD
Semoga Download Khutbah Jum'at 2010 ini bermanfaat, khususnya bagi para khatib dan umumnya bagi semua umat Islam. Jika ada link yang error atau kesalahan dalam Download Khutbah Jum'at 2010 ini mohon untuk disampaikan di kotak komentar di bawah.
Posted in
Khutbah Jum'at
